alexametrics
28.7 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Restorasi Rumah Tua Ibunda Bung Karno Tak Akan Sama dengan Aslinya

SINGARAJA – Proses restorasi rumah tua Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben di Lingkungan Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kota Singaraja, Buleleng terus dikebut. Tim teknis dari Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali, disebut sudah mulai melakukan pekerjaan di sebuah bengkel restorasi yang terletak di Denpasar. Namun, kemungkinan besar, restorasi ini tidak akan sama dengan aslinya.

Hal itu seperti diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara, saat dihubungi pada Kamis (17/9) siang. Dody mengatakan tim teknis dari BPCB bersama pihak rekanan, sudah mulai melakukan pekerjaan restorasi.

Pekerjaan awal yang dilakukan ialah melakukan identifikasi terhadap kayu-kayu yang masih bisa digunakan dan yang tak bisa digunakan. Kayu yang tak bisa digunakan, selanjutnya dikerjakan oleh rekanan di bengkel restorasi yang ada di Denpasar. Ketika material sudah siap, maka bahan tersebut akan diboyong ke Buleleng dan selanjutnya dilakukan pemasangan.

“Hasil identifikasinya kan ada beberapa kayu yang memang sudah tidak bisa digunakan lagi. Karena sudah terlalu lapuk. Nah ini diganti dengan material baru yang bahannya menyerupai kayu yang lama. Sekarang sedang dibentuk di bengkel. Setelah siap, akan langsung dibawa ke Buleleng dan dipasang,” jelas Dody melalui sambungan telepon.

Hanya saja tak seluruh bangunan menggunakan bahan lama. Bahkan menggunakan bahan baru yang berbeda jenisnya. Contohnya bagian atap, akan diganti dengan bahan baru. Selama ini atap menggunakan seng. Tadinya seng itu akan digunakan kembali. Hanya saja seng sudah bocor di banyak bagian. Ditambah lagi kondisi seng sudah sangat karatan. Rencananya, bahan penggantinya bukan dari seng lagi.

“Solusinya akan diganti dengan bahan baru. Tidak pakai seng. Rencananya pakai spandex. Bentuknya nanti menyerupai genteng,” jelasnya lagi.

Selain itu, pihak rekanan juga akan menghilangkan tembok yang ada di sisi sebelah timur dan utara. Hal ini dilakukan lantaran berdasarkan hasil pengamatan tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, keberadaan kedua sisi tembok itu bukan menjadi bagian permanen dari bangunan tersebut. Melainkan dipasang dengan sifat sementara.

“Bale Gede itu nantinya akan berbentuk L. Tembok hanya ada di sisi barat dan utara. Bahannya tetap dari bata, lantainya juga tetap dari bata,” tandasnya.

Rencananya pihak keluarga besar akan melakukan upacara peletakan batu pertama pada Minggu (20/9) mendatang yang bertepatan dengan rahina redite wage kuningan. Hari itu dianggap sebagai hari baik untuk simbolis memulai pembangunan.

Sekadar diketahui, proses restorasi bangunan rumah tua Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben selama ini didorong oleh sejumlah tokoh dan komunitas. Pengusulan itu telah dilakukan sejak 2017 lalu, namun baru terealisasi pada tahun ini. Proses restorasi akan menggunakan dana pusat yang disalurkan melalui BPCB Bali. Rencananya restorasi akan tuntas dalam kurun waktu 75 hari.



SINGARAJA – Proses restorasi rumah tua Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben di Lingkungan Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kota Singaraja, Buleleng terus dikebut. Tim teknis dari Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali, disebut sudah mulai melakukan pekerjaan di sebuah bengkel restorasi yang terletak di Denpasar. Namun, kemungkinan besar, restorasi ini tidak akan sama dengan aslinya.

Hal itu seperti diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara, saat dihubungi pada Kamis (17/9) siang. Dody mengatakan tim teknis dari BPCB bersama pihak rekanan, sudah mulai melakukan pekerjaan restorasi.

Pekerjaan awal yang dilakukan ialah melakukan identifikasi terhadap kayu-kayu yang masih bisa digunakan dan yang tak bisa digunakan. Kayu yang tak bisa digunakan, selanjutnya dikerjakan oleh rekanan di bengkel restorasi yang ada di Denpasar. Ketika material sudah siap, maka bahan tersebut akan diboyong ke Buleleng dan selanjutnya dilakukan pemasangan.

“Hasil identifikasinya kan ada beberapa kayu yang memang sudah tidak bisa digunakan lagi. Karena sudah terlalu lapuk. Nah ini diganti dengan material baru yang bahannya menyerupai kayu yang lama. Sekarang sedang dibentuk di bengkel. Setelah siap, akan langsung dibawa ke Buleleng dan dipasang,” jelas Dody melalui sambungan telepon.

Hanya saja tak seluruh bangunan menggunakan bahan lama. Bahkan menggunakan bahan baru yang berbeda jenisnya. Contohnya bagian atap, akan diganti dengan bahan baru. Selama ini atap menggunakan seng. Tadinya seng itu akan digunakan kembali. Hanya saja seng sudah bocor di banyak bagian. Ditambah lagi kondisi seng sudah sangat karatan. Rencananya, bahan penggantinya bukan dari seng lagi.

“Solusinya akan diganti dengan bahan baru. Tidak pakai seng. Rencananya pakai spandex. Bentuknya nanti menyerupai genteng,” jelasnya lagi.

Selain itu, pihak rekanan juga akan menghilangkan tembok yang ada di sisi sebelah timur dan utara. Hal ini dilakukan lantaran berdasarkan hasil pengamatan tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, keberadaan kedua sisi tembok itu bukan menjadi bagian permanen dari bangunan tersebut. Melainkan dipasang dengan sifat sementara.

“Bale Gede itu nantinya akan berbentuk L. Tembok hanya ada di sisi barat dan utara. Bahannya tetap dari bata, lantainya juga tetap dari bata,” tandasnya.

Rencananya pihak keluarga besar akan melakukan upacara peletakan batu pertama pada Minggu (20/9) mendatang yang bertepatan dengan rahina redite wage kuningan. Hari itu dianggap sebagai hari baik untuk simbolis memulai pembangunan.

Sekadar diketahui, proses restorasi bangunan rumah tua Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben selama ini didorong oleh sejumlah tokoh dan komunitas. Pengusulan itu telah dilakukan sejak 2017 lalu, namun baru terealisasi pada tahun ini. Proses restorasi akan menggunakan dana pusat yang disalurkan melalui BPCB Bali. Rencananya restorasi akan tuntas dalam kurun waktu 75 hari.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/