alexametrics
28.7 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Atap Ruang Kelas SDN 1 Tangguwisia Seririt Buleleng Nyaris Ambruk

SINGARAJA– Atap ruang kelas di SDN 1 Tangguwisi, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali nyaris ambruk. Hal itu pun membahayakan bagi siswa yang tengah belajar di sana.

Beruntung saat ini pembelajaran dilakukan secara bergilir. Sehingga tak terlalu mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah setempat.

Kerusakan itu sudah terjadi sejak awal Desember 2021 lalu.

Sepintas bangunan fisik sekolah terlihat baik-baik saja. Namun di bagian atap, kayu penyangga sudah banyak yang keropos.

Pada awal Desember, atap di salah satu ruang kelas mendadak amblas. Sehingga atap melengkung. Beberapa hari berselang, atap di ruang kelas lainnya ikut amblas.

Dampaknya kini ruang kelas itu tak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Untuk sementara waktu, pihak sekolah mengoptimalkan 3 ruang kelas yang tersisa.

Baca Juga:  Bupati Buleleng Tegaskan Tak Akan Beri Dana Talangan ke PT TMJA

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng I Made Astika saat dikonfirmasi kemarin, mengakui kerusakan di SDN 1 Tangguwisia cukup parah.

Sekolah tersebut harus mendapatkan rehab berat dalam waktu dekat. Sebab bila tak ditangani akan berpengaruh pada proses pembelajaran.

Ia mengaku telah menerjunkan tim ke sekolah tersebut untuk melakukan pemeriksaan. “Sepintas memang terlihat masih bagus.

Tapi setelah dicek, ternyata kayu di atap itu sudah lapuk. Ini terjadi di semua ruang kelas. Tapi yang rusak parah, di 2 ruang kelas,” kata Astika.

Menurutnya pemerintah telah menyiapkan anggaran sebanyak Rp 655 juta untuk rehab ruang kelas di SDN 1 Tangguwisia. Seluruh atap ruang kelas akan diganti menggunakan baja ringan.

Baca Juga:  Diguyur Hujan Deras, 5 Titik Bencana Alam Terjadi di Tabanan

Sehingga lebih tahan lama. Diperkirakan proses perbaikan baru akan berlangsung pada bulan Maret mendatang.

Lebih lanjut Astika mengatakan, untuk saat ini proses belajar mengajar tidak terganggu.

“Karena saat ini masih giliran belajarnya. Tapi saat rehab nanti, kami sudah minta pada kepala desa, agar dicarikan lokasi lain.

Entah itu menumpang di sekolah lain, atau memanfaatkan fasilitas umum yang ada. Sebab untuk rehab berat itu butuh waktu sekitar 4 bulan,” tukas Astika. 

- Advertisement -

- Advertisement -

SINGARAJA– Atap ruang kelas di SDN 1 Tangguwisi, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali nyaris ambruk. Hal itu pun membahayakan bagi siswa yang tengah belajar di sana.

Beruntung saat ini pembelajaran dilakukan secara bergilir. Sehingga tak terlalu mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah setempat.

Kerusakan itu sudah terjadi sejak awal Desember 2021 lalu.


Sepintas bangunan fisik sekolah terlihat baik-baik saja. Namun di bagian atap, kayu penyangga sudah banyak yang keropos.

Pada awal Desember, atap di salah satu ruang kelas mendadak amblas. Sehingga atap melengkung. Beberapa hari berselang, atap di ruang kelas lainnya ikut amblas.

Dampaknya kini ruang kelas itu tak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Untuk sementara waktu, pihak sekolah mengoptimalkan 3 ruang kelas yang tersisa.

Baca Juga:  Bupati Buleleng Tegaskan Tak Akan Beri Dana Talangan ke PT TMJA

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng I Made Astika saat dikonfirmasi kemarin, mengakui kerusakan di SDN 1 Tangguwisia cukup parah.

Sekolah tersebut harus mendapatkan rehab berat dalam waktu dekat. Sebab bila tak ditangani akan berpengaruh pada proses pembelajaran.

Ia mengaku telah menerjunkan tim ke sekolah tersebut untuk melakukan pemeriksaan. “Sepintas memang terlihat masih bagus.

Tapi setelah dicek, ternyata kayu di atap itu sudah lapuk. Ini terjadi di semua ruang kelas. Tapi yang rusak parah, di 2 ruang kelas,” kata Astika.

Menurutnya pemerintah telah menyiapkan anggaran sebanyak Rp 655 juta untuk rehab ruang kelas di SDN 1 Tangguwisia. Seluruh atap ruang kelas akan diganti menggunakan baja ringan.

Baca Juga:  Duh, Ribuan Warga Buleleng Belum Rekam KTP Elektronik

Sehingga lebih tahan lama. Diperkirakan proses perbaikan baru akan berlangsung pada bulan Maret mendatang.

Lebih lanjut Astika mengatakan, untuk saat ini proses belajar mengajar tidak terganggu.

“Karena saat ini masih giliran belajarnya. Tapi saat rehab nanti, kami sudah minta pada kepala desa, agar dicarikan lokasi lain.

Entah itu menumpang di sekolah lain, atau memanfaatkan fasilitas umum yang ada. Sebab untuk rehab berat itu butuh waktu sekitar 4 bulan,” tukas Astika. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/