alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Sejarah Pura Taman Sari Karangasem Usai Heboh Sosok Gaib “Kepala Naga”

KARANGASEM-Kemunculan sosok mistis mirip kepala naga atau “Naga Gombang” di depan pelinggih Padmasana Pura Taman Sari (Pura Khayangan Jagat Taman Sari Besakih Taman Agung) di Desa Badeg, Selat, Karangasem viral di media sosial.

 

Sejumlah warga menyakini, sosok kepala naga itu menjadi pertanda dengan tidak seimbangnya alam (bumi).

 

Tidak stabilnya alam itu bisa dimaknai dengan datangnya sejumlah bencana, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan sebagainya.

 

Menyikapi munculnya sosok gaib “Naga Gombang” di depan pelinggih Padmasana Pura Taman Sari, pengayah, krama (warga) sekitar dan para pemedek dari berbagai daerah di Bali pun langsung melakukan persembahyangan atau upacara Pengening dan Pemahayu Jagat.

 

Tujuannya dari upacara yang juga merupakan “Ruwat Bumi Nusantara”, ini yakni sekaligus untuk memperingati 1.000 (Seribu) tahun yang lalu dan 1.000 tahun yang akan datang.

 

I Made Dwija Nurjaya, salah seorang pengayah pura menuturkan, bahwa keberadaan Pura Taman Sari di Desa Badeg, Kecamatan Selat, Karangasem memang oleh sebagian masyarakat sekitar diyakini sebagai pura yang disakralkan/dikeramatkan serta dikenal tenget (wingit/angker).

 

Kesakralan Pura Taman Sari ini, karena menurut pria yang juga akrab disapa Jro Mangku Dwija ini, tak lepas dari peranan penting posisi Pura Taman Sari yang memiliki kaitan erat dengan 5 (Lima) pura besar yang ada di wilayah Bali Timur, Karangasem.

Baca Juga:  Belasan Rumah di Desa Patas dan Astina Buleleng Diterjang Puting Beliung

 

Kelima pura besar itu, yakni Pura Besakih, Pura Pasar Agung, Pura Silayukti (Mpu Kuturan), Pura Andakasa, dan Pura Lempuyang.

 

Bahkan dari sejumlah sumber menyebutkan, bahwa Pura Taman Sari di Desa Badeg, Selat ini termasuk Tri Kahyangan bersama Pura Besakih dan Pura Pasar Agung.

 

Pura Taman Sari di Desa Badeg, Selat ini imbuhnya juga diyakini sebagai salah satu pura tertua di Karangasem dan telah ada sebelum tahun 1821 Masehi.

 

Bahkan, munculnya keyakinan bahwa Pura Taman Sari ini merupakan salah satu pura tertua itu, juga dikuatkan dengan cerita dari salah seorang warga asal Gianyar yang menerima pawisik (petunjuk) untuk mencari keberadaan sebuah pura (Pura Taman Sari) di timur laut pada 16 tahun silam.

 

“Kemudian dari petunjuk itu, warga ini kemudian mencari ke arah timur hingga ke Pura Lempuyang. Namun ternyata yang dimaksud bukanlah Pura Lempuyang,”terang Jro Mangku Dwija.

 

Singkat cerita, dari proses pencarian pura, seseorang asal Gianyar ini kemudian bertemu dengan Penglingsir Pura Pasar Agung di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem.

Baca Juga:  Bandara Ngurah Rai Bali Buka Posko Terpadu di Terminal Domestik

 

“Ternyata dari pertemuan ini, terungkaplah bahwa beliau (Penglingsir Pura Pasar agung) yang menyimpan lontar terkait keberadaan pura yang selama ini dicari oleh warga asal Gianyar itu,”jelas Jro Mangku Dwija.

 

Nah, setelah mendapat petunjuk lontar dari penglingsir Pura Pasar Agung di Sebudi, kemudian dengan dibantu warga Desa Badeg, warga Gianyar ini kemudian mencari lokasi pura yang dimaksud.

 

Kemudian setelah pencarian beberapa waktu, akhirnya ditemukanlah sebuah tempat yang saat itu hanya berupa gundukan di lokasi Taman Sari dan sekarang diyakini (gundukan itu) merupakan lokasi Pura Taman Sari yang dulu pernah hancur karena erupsi Gunung Agung pada tahun 1821. 

 

“Atas dasar karena disakralkan itulah masyarakat kemudian membangun pelinggih pertama. Dana awal ketika itu berasal dari dana swadaya. Kemudian pura dibangun bertahap dengan juga ada keikutsertaan pemerintah setempat,”imbuh Jro Mangku Dwija.

 

Sempat direncanakan akan dibangun dan dilakukan perbaikan dengan bantuan pemerintah pada 2018 lalu. Namun rencana itu urung dilaksanakan setelah Gunung Agung erupsi.

“Namun rencana pembangunan pura saat ini sudah dilakukan schedule (penjadwalan) ulang kembali dan rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2021 mendatang,”tukas Jro Mangku Dwija. 



KARANGASEM-Kemunculan sosok mistis mirip kepala naga atau “Naga Gombang” di depan pelinggih Padmasana Pura Taman Sari (Pura Khayangan Jagat Taman Sari Besakih Taman Agung) di Desa Badeg, Selat, Karangasem viral di media sosial.

 

Sejumlah warga menyakini, sosok kepala naga itu menjadi pertanda dengan tidak seimbangnya alam (bumi).

 

Tidak stabilnya alam itu bisa dimaknai dengan datangnya sejumlah bencana, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan sebagainya.

 

Menyikapi munculnya sosok gaib “Naga Gombang” di depan pelinggih Padmasana Pura Taman Sari, pengayah, krama (warga) sekitar dan para pemedek dari berbagai daerah di Bali pun langsung melakukan persembahyangan atau upacara Pengening dan Pemahayu Jagat.

 

Tujuannya dari upacara yang juga merupakan “Ruwat Bumi Nusantara”, ini yakni sekaligus untuk memperingati 1.000 (Seribu) tahun yang lalu dan 1.000 tahun yang akan datang.

 

I Made Dwija Nurjaya, salah seorang pengayah pura menuturkan, bahwa keberadaan Pura Taman Sari di Desa Badeg, Kecamatan Selat, Karangasem memang oleh sebagian masyarakat sekitar diyakini sebagai pura yang disakralkan/dikeramatkan serta dikenal tenget (wingit/angker).

 

Kesakralan Pura Taman Sari ini, karena menurut pria yang juga akrab disapa Jro Mangku Dwija ini, tak lepas dari peranan penting posisi Pura Taman Sari yang memiliki kaitan erat dengan 5 (Lima) pura besar yang ada di wilayah Bali Timur, Karangasem.

Baca Juga:  Warga Tabanan Diimbau Waspadai Dampak Cuaca Ekstrem Tiga Hari ke Depan

 

Kelima pura besar itu, yakni Pura Besakih, Pura Pasar Agung, Pura Silayukti (Mpu Kuturan), Pura Andakasa, dan Pura Lempuyang.

 

Bahkan dari sejumlah sumber menyebutkan, bahwa Pura Taman Sari di Desa Badeg, Selat ini termasuk Tri Kahyangan bersama Pura Besakih dan Pura Pasar Agung.

 

Pura Taman Sari di Desa Badeg, Selat ini imbuhnya juga diyakini sebagai salah satu pura tertua di Karangasem dan telah ada sebelum tahun 1821 Masehi.

 

Bahkan, munculnya keyakinan bahwa Pura Taman Sari ini merupakan salah satu pura tertua itu, juga dikuatkan dengan cerita dari salah seorang warga asal Gianyar yang menerima pawisik (petunjuk) untuk mencari keberadaan sebuah pura (Pura Taman Sari) di timur laut pada 16 tahun silam.

 

“Kemudian dari petunjuk itu, warga ini kemudian mencari ke arah timur hingga ke Pura Lempuyang. Namun ternyata yang dimaksud bukanlah Pura Lempuyang,”terang Jro Mangku Dwija.

 

Singkat cerita, dari proses pencarian pura, seseorang asal Gianyar ini kemudian bertemu dengan Penglingsir Pura Pasar Agung di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem.

Baca Juga:  Bandara Ngurah Rai Bali Buka Posko Terpadu di Terminal Domestik

 

“Ternyata dari pertemuan ini, terungkaplah bahwa beliau (Penglingsir Pura Pasar agung) yang menyimpan lontar terkait keberadaan pura yang selama ini dicari oleh warga asal Gianyar itu,”jelas Jro Mangku Dwija.

 

Nah, setelah mendapat petunjuk lontar dari penglingsir Pura Pasar Agung di Sebudi, kemudian dengan dibantu warga Desa Badeg, warga Gianyar ini kemudian mencari lokasi pura yang dimaksud.

 

Kemudian setelah pencarian beberapa waktu, akhirnya ditemukanlah sebuah tempat yang saat itu hanya berupa gundukan di lokasi Taman Sari dan sekarang diyakini (gundukan itu) merupakan lokasi Pura Taman Sari yang dulu pernah hancur karena erupsi Gunung Agung pada tahun 1821. 

 

“Atas dasar karena disakralkan itulah masyarakat kemudian membangun pelinggih pertama. Dana awal ketika itu berasal dari dana swadaya. Kemudian pura dibangun bertahap dengan juga ada keikutsertaan pemerintah setempat,”imbuh Jro Mangku Dwija.

 

Sempat direncanakan akan dibangun dan dilakukan perbaikan dengan bantuan pemerintah pada 2018 lalu. Namun rencana itu urung dilaksanakan setelah Gunung Agung erupsi.

“Namun rencana pembangunan pura saat ini sudah dilakukan schedule (penjadwalan) ulang kembali dan rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2021 mendatang,”tukas Jro Mangku Dwija. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/