alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

1 Ton Sampah Organik Diubah Jadi Pupuk, Warga Diedukasi Pilah Sampah

SINGARAJA – Warga di Desa Baktiseraga, terus diedukasi melakukan pemilihan sampah di tingkat rumah tangga.

Upaya pemilihan sampah ini diharapkan dapat mengoptimalkan kinerja pengelola sampah yang dinaungi oleh desa.

Saat ini Desa Baktiseraga memang memiliki Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Fasilitas itu diberikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

Desa Baktiseraga dianggap cocok menerima bantuan tersebut, karena volume sampah yang besar namun belum terkelola dengan baik.

Perbekel Baktiseraga Gusti Putu Armada mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kinerja pengelolaan sampah di desa.

Armada menyebut saat ini pengelolaan sampah sudah lebih efektif dan efisien. Dengan ketersediaan mesin pengering dan mesin pencacah, satu ton sampah organik dapat diolah menjadi pupuk hanya dalam tempo 2 jam.

Baca Juga:  Tim Masih Pelototi Bangkai Paus Sperma, BKSDA Upayakan Tetap di Laut

“Kami bersyukur kapasitasnya cukup besar. Terutama saat musim hujan. Kadang ada sampah-sampah yang hanyut sampai ke hilir di desa kami. Itu bisa kami kelola dengan cepat juga,” kata Armada.

Untuk optimalisasi pengelolaan, ia menyebut unit pengelola sampah sudah menjalin kerjasama dengan bank sampah desa.

Sehingga sampah-sampah yang masuk ke TPS sudah terpilah dengan baik. Sampah basah dan organik dikelola oleh TPS. Sementara sampah anorganik dikelola oleh bank sampah.

Ia mengaku saat ini proses pemilihan sampah masih menjadi kendala utama. Sebab proses pemilahan sampah cukup memakan waktu.

Ia menyebut desa kini tengah berupaya mengedukasi warga untuk memilah sampah dari tingkat rumah tangga.

Baca Juga:  Pohon Bunut Raksasa Ratusan Tahun Tumbang Timpa Pelinggih Pura

Armada mengaku tengah menyiapkan pilot project kawasan pemilahan sampah. Nantinya desa akan memberikan tong sampah terpisah pada masing-masing keluarga. Sehingga mereka dapat melakukan pemilihan sampah secara langgsung.

“Kita coba edukasi yang sederhana saja dulu. Memisahkan sampah organik dan sampah anorganik dulu. Ketika sudah terbiasa, baru kami lanjutkan ke tahap berikutnya.

Ibu-ibu yang langganan pengangkutan sampah pada kami, sudah mulai melakukan pemilahan itu,” ungkap Armada. 



SINGARAJA – Warga di Desa Baktiseraga, terus diedukasi melakukan pemilihan sampah di tingkat rumah tangga.

Upaya pemilihan sampah ini diharapkan dapat mengoptimalkan kinerja pengelola sampah yang dinaungi oleh desa.

Saat ini Desa Baktiseraga memang memiliki Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Fasilitas itu diberikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

Desa Baktiseraga dianggap cocok menerima bantuan tersebut, karena volume sampah yang besar namun belum terkelola dengan baik.

Perbekel Baktiseraga Gusti Putu Armada mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kinerja pengelolaan sampah di desa.

Armada menyebut saat ini pengelolaan sampah sudah lebih efektif dan efisien. Dengan ketersediaan mesin pengering dan mesin pencacah, satu ton sampah organik dapat diolah menjadi pupuk hanya dalam tempo 2 jam.

Baca Juga:  Hobi Merokok, Kelahi, dan Mencuri, 6 Siswa SMP di Buleleng Tak Lulus

“Kami bersyukur kapasitasnya cukup besar. Terutama saat musim hujan. Kadang ada sampah-sampah yang hanyut sampai ke hilir di desa kami. Itu bisa kami kelola dengan cepat juga,” kata Armada.

Untuk optimalisasi pengelolaan, ia menyebut unit pengelola sampah sudah menjalin kerjasama dengan bank sampah desa.

Sehingga sampah-sampah yang masuk ke TPS sudah terpilah dengan baik. Sampah basah dan organik dikelola oleh TPS. Sementara sampah anorganik dikelola oleh bank sampah.

Ia mengaku saat ini proses pemilihan sampah masih menjadi kendala utama. Sebab proses pemilahan sampah cukup memakan waktu.

Ia menyebut desa kini tengah berupaya mengedukasi warga untuk memilah sampah dari tingkat rumah tangga.

Baca Juga:  9 Desa di Tejakula Buleleng, Bali Diusulkan Jadi Desa Wisata

Armada mengaku tengah menyiapkan pilot project kawasan pemilahan sampah. Nantinya desa akan memberikan tong sampah terpisah pada masing-masing keluarga. Sehingga mereka dapat melakukan pemilihan sampah secara langgsung.

“Kita coba edukasi yang sederhana saja dulu. Memisahkan sampah organik dan sampah anorganik dulu. Ketika sudah terbiasa, baru kami lanjutkan ke tahap berikutnya.

Ibu-ibu yang langganan pengangkutan sampah pada kami, sudah mulai melakukan pemilahan itu,” ungkap Armada. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/