alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Sejak 2019, Burung Hantu untuk Pertanian di Klungkung Cuma Sepasang

SEMARAPURA – Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung pada tahun 2019 lalu telah melakukan pengadaan sepasang burung hantu guna mendukung terwujudnya pertanian ramah lingkungan. Namun, sejak itu pula, tidak pernah ada pengadaan lagi.

Sepasang burung hantu itu sebagai predator hama pertanian seperti tikus. Subak Dawan, Kecamatan Dawan merupakan subak pertama yang diberikan bantuan sepasang burung hantu sebagai proyek percontohan.

 

Hanya saja menurut Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Gede Juanida, pengadaan burung hantu sebagai predator hama pertanian belum bisa lagi dilakukan di tahun-tahun setelahnya. Itu karena wabah pandemi Covid-19 membuat anggaran sejumlah kegiatan mengalami pergeseran untuk penanganan Covid-19.

 

“Sehingga baru hanya Subak Dawan saja yang menerima bantuan sepasang burung hantu tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  Syukuran Berkah Bumi, Warga Adat Duda Gelar Karya Tawur Tabuh Gentuh

 

Dan untungnya, hama tikus tidak berulah sejak beberapa tahun terakhir ini. Sehingga pengadaan burung hantu sebagai predator hama tikus tidak terlalu mendesak.

 

“Kebetulan juga hama tikus tidak banyak,” katanya.

 

Adapun saat ini Dinas Pertanian Klungkung sedang gencar mengsosialisasikan pestisida organik atau nabati dalam menangani serangan organisasi pengganggu tumbuhan (OPT). Di mana saat curah hujan tinggi seperti saat ini, hama kresek dan blas yang banyak menyerang pertanian padi para petani.

 

“Di antaranya Subak Penasan, Tohpati, Pau, dan Delod Bakas,” imbuh Kabid Tanaman Pangan Hortikultural dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, I Gusti Made Ardana.

 

Hanya saja penanganan dengan pestisida organik dapat dirasakan hasilnya secara efektif bila dilakukan saat serangan hama tidak terlalu parah. Namun bila serangan hama dirasakan cukup parah, maka harus dibantu dengan penggunaan pestisida kimia.

Baca Juga:  Hama Tikus Serang Padi, Distan Sebar Burung Hantu di Areal Persawahan

 

“Penggunaan pestisida nabati dan hayati tidak berbahaya bagi tubuh dan lingkungan. Berbeda dengan pestisida kimia yang tidak baik untuk kesehatan tubuh,” tandasnya.



SEMARAPURA – Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung pada tahun 2019 lalu telah melakukan pengadaan sepasang burung hantu guna mendukung terwujudnya pertanian ramah lingkungan. Namun, sejak itu pula, tidak pernah ada pengadaan lagi.

Sepasang burung hantu itu sebagai predator hama pertanian seperti tikus. Subak Dawan, Kecamatan Dawan merupakan subak pertama yang diberikan bantuan sepasang burung hantu sebagai proyek percontohan.

 

Hanya saja menurut Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Gede Juanida, pengadaan burung hantu sebagai predator hama pertanian belum bisa lagi dilakukan di tahun-tahun setelahnya. Itu karena wabah pandemi Covid-19 membuat anggaran sejumlah kegiatan mengalami pergeseran untuk penanganan Covid-19.

 

“Sehingga baru hanya Subak Dawan saja yang menerima bantuan sepasang burung hantu tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  Nahas! Ngebut, Mendadak Rem Blong, Pengendara Motor Tewas Masuk Jurang

 

Dan untungnya, hama tikus tidak berulah sejak beberapa tahun terakhir ini. Sehingga pengadaan burung hantu sebagai predator hama tikus tidak terlalu mendesak.

 

“Kebetulan juga hama tikus tidak banyak,” katanya.

 

Adapun saat ini Dinas Pertanian Klungkung sedang gencar mengsosialisasikan pestisida organik atau nabati dalam menangani serangan organisasi pengganggu tumbuhan (OPT). Di mana saat curah hujan tinggi seperti saat ini, hama kresek dan blas yang banyak menyerang pertanian padi para petani.

 

“Di antaranya Subak Penasan, Tohpati, Pau, dan Delod Bakas,” imbuh Kabid Tanaman Pangan Hortikultural dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, I Gusti Made Ardana.

 

Hanya saja penanganan dengan pestisida organik dapat dirasakan hasilnya secara efektif bila dilakukan saat serangan hama tidak terlalu parah. Namun bila serangan hama dirasakan cukup parah, maka harus dibantu dengan penggunaan pestisida kimia.

Baca Juga:  Abadikan Kearifan Lokal, Hubungkan Lintas Pulau di Bali

 

“Penggunaan pestisida nabati dan hayati tidak berbahaya bagi tubuh dan lingkungan. Berbeda dengan pestisida kimia yang tidak baik untuk kesehatan tubuh,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/