alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Tim Undiksha Prediksi Paus Sperma Mati Sejak Sepekan Lalu, Analisisnya

BUNGKULAN – Bangkai seekor paus sperma, terdampar di perkampungan nelayan di wilayah Banjar Dinas Sema, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan.

Tim dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja pun langsung turun melakukan pemantuan dan pengambilan sampel.

Dari hasil penelitian sementara, paus itu diduga sudah mati sejak sepekan terakhir. Paus itu memiliki panjang 15 meter dengan bobot sekitar 10 ton.

Dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan Undiksha Singaraja, Gede Iwan Setiabudi menyebutkan, paus dipastikan sudah mati setidaknya sepekan terakhir.

Bagian perut hewan itu juga sudah sempat digigit hiu, hingga robek. Pasalnya saat dilakukan penelitian, dinding perut hiu sudah robek.

Padahal idealnya, dinding perut mamalia laut raksasa itu tak mudah robek karena kulitnya yang sangat tebal.

Baca Juga:  Bangkai Paus Sperma Terdampar di Perkampungan, Tebar Bau Busuk

Soal penyebab kematian, Iwan mengaku belum bisa memastikan penyebabnya. “Perlu pengecekan lebih lanjut, karena ada banyak faktor.

Tapi yang jelas, ini bukan mati tua. Mungkin ada penyebab lain, entah itu sampah plastik, disorientasi karena sonar terganggu, atau bisa juga serangan hiu,” kata Iwan.

Semula warga bersama aparat kepolisian berencana mengubur hewan tersebut. Namun karena keterbatasan alat, akhirnya bangkai paus ditarik ke tengah laut dan ditenggelamkan.

Bangkai baru berhasil ditarik ke tengah laut sekitar pukul 11.00 siang, setelah air laut mulai pasang. 



BUNGKULAN – Bangkai seekor paus sperma, terdampar di perkampungan nelayan di wilayah Banjar Dinas Sema, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan.

Tim dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja pun langsung turun melakukan pemantuan dan pengambilan sampel.

Dari hasil penelitian sementara, paus itu diduga sudah mati sejak sepekan terakhir. Paus itu memiliki panjang 15 meter dengan bobot sekitar 10 ton.

Dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan Undiksha Singaraja, Gede Iwan Setiabudi menyebutkan, paus dipastikan sudah mati setidaknya sepekan terakhir.

Bagian perut hewan itu juga sudah sempat digigit hiu, hingga robek. Pasalnya saat dilakukan penelitian, dinding perut hiu sudah robek.

Padahal idealnya, dinding perut mamalia laut raksasa itu tak mudah robek karena kulitnya yang sangat tebal.

Baca Juga:  Kemunculan Kera Putih di Uluwatu Bali Bikin Heboh, Pertanda Apa?

Soal penyebab kematian, Iwan mengaku belum bisa memastikan penyebabnya. “Perlu pengecekan lebih lanjut, karena ada banyak faktor.

Tapi yang jelas, ini bukan mati tua. Mungkin ada penyebab lain, entah itu sampah plastik, disorientasi karena sonar terganggu, atau bisa juga serangan hiu,” kata Iwan.

Semula warga bersama aparat kepolisian berencana mengubur hewan tersebut. Namun karena keterbatasan alat, akhirnya bangkai paus ditarik ke tengah laut dan ditenggelamkan.

Bangkai baru berhasil ditarik ke tengah laut sekitar pukul 11.00 siang, setelah air laut mulai pasang. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/