alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Dikarantina, Oknum PMI di Buleleng Malah Ditemukan Berkeliaran di Luar

SINGARAJA – Aksi tidak tertib oknum pekerja migran yang sedang menjalani karantina mandiri di Kabupaten  Buleleng kembali terekam.

Seorang pekerja migran ditemukan tidak berada dalam kamar melakukan karantina.

Melainkan melakukan kegiatan lain di luar kamar.

Peristiwa itu pun disayangkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Buleleng .

Sebab oknum pekerja migran itu tidak mentaati protokol karantina yang ditetapkan pemerintah.

Terlebih pada Minggu (19/4) lalu, Gugus Tugas juga menjumpai sejumlah pekerja migran yang menolak mengikuti pemeriksaan kesehatan dari tim medis.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, peristiwa itu terjadi pada Minggu (19/4) lalu, di Pop Hotel Singaraja.

 Saat itu tim medis dari Puskesmas Buleleng I dan Babinsa Kampung Baru mendatangi areal hotel untuk melakukan pemeriksaan.

Ternyata ada beberapa pekerja migran yang tidak ada di tempatnya.

Saat dilakukan pengecekan di seluruh penjuru hotel, seorang pekerja migran ditemukan di rooftop hotel sedang bermain gitar.

Baca Juga:  Dampak Corona, PLN Beri Kelonggaran Bagi Pengusaha Hotel dan Restoran

Pekerja migran itu pun diminta kembali ke kamarnya dan mengikuti protokol karantina yang ditetapkan pemerintah.

Sekretaris GTPP Covid-19 Kabupaten Buleleng Gede Suyasa yang dikonfirmasi tak menampik hal tersebut.

“Itu (kejadian) kemarin. Ketika didatangi, malam milih main gitar ketimbang diperiksa kesehatannya. Ini yang kami sayangkan,” kata Suyasa melalui telekonferensi, Senin (20/4) siang.

Menurut Suyasa, gugus tugas sudah melakukan pendekatan persuasif pada para pekerja migran agar bersedia mengikuti protokol karantina yang telah ditetapkan. Gugus tugas mengklaim masih melakukan upaya persuasif pada para pekerja migran itu. Namun bila masih membandel, tak menutup kemungkinan gugus tugas akan mengambil langkah yang lebih tegas.

“Kalau memang pada waktunya mengambil keputusan, tentu akan ada tindakan yang lebih dari sekadar pendekatan (persuasif). Ini upaya pencegahan. Jelas kalau ngomong hukum, pasti ada ketentuan,” imbuhnya.

Disisi lain, tim medis yang sempat diabaikan oleh para pekerja migran pada Minggu lalu, memilih melakukan pemeriksaan ke fasilitas penginapan lain.

Baca Juga:  Dampak Penerapan Rujukan Online, Kunjungan ke RS Buleleng Turun Parah

Suyasa mengatakan tim medis belum memiliki jadwal kembali ke hotel tempat sejumlah pekerja migran menolak diperiksa.

“Tim medis kami tidak mengurus pekerja migran di hotel itu saja. Ada OTG (Orang Tanpa Gejala) yang perlu dicek, ada fasilitas penginapan lain yang juga harus diperiksa pekerja migrannya. Banyak yang harus mereka periksa, dan sudah terjadwal. Kalau terjadi penolakan seperti kemarin, sangat disayangkan. Karena harus diatur ulang kembali jadwal tim yang memeriksa,” tukas Suyasa.

Sekadar diketahui, saat ini sebanyak 382 orang pekerja migran tengah menjalani karantina pada fasilitas yang telah disiapkan pemerintah.

Sebanyak 262 orang menjalani karantina di penginapan yang disediakan pemerintah, sementara 120 orang lainnya menjalani karantina di rumah kost maupun gedung sekolah yang disiapkan pemerintah desa.



SINGARAJA – Aksi tidak tertib oknum pekerja migran yang sedang menjalani karantina mandiri di Kabupaten  Buleleng kembali terekam.

Seorang pekerja migran ditemukan tidak berada dalam kamar melakukan karantina.

Melainkan melakukan kegiatan lain di luar kamar.

Peristiwa itu pun disayangkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Buleleng .

Sebab oknum pekerja migran itu tidak mentaati protokol karantina yang ditetapkan pemerintah.

Terlebih pada Minggu (19/4) lalu, Gugus Tugas juga menjumpai sejumlah pekerja migran yang menolak mengikuti pemeriksaan kesehatan dari tim medis.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, peristiwa itu terjadi pada Minggu (19/4) lalu, di Pop Hotel Singaraja.

 Saat itu tim medis dari Puskesmas Buleleng I dan Babinsa Kampung Baru mendatangi areal hotel untuk melakukan pemeriksaan.

Ternyata ada beberapa pekerja migran yang tidak ada di tempatnya.

Saat dilakukan pengecekan di seluruh penjuru hotel, seorang pekerja migran ditemukan di rooftop hotel sedang bermain gitar.

Baca Juga:  Bupati Putu Artha: Rapid Test Sopir Logistik asal Jembrana Gratis

Pekerja migran itu pun diminta kembali ke kamarnya dan mengikuti protokol karantina yang ditetapkan pemerintah.

Sekretaris GTPP Covid-19 Kabupaten Buleleng Gede Suyasa yang dikonfirmasi tak menampik hal tersebut.

“Itu (kejadian) kemarin. Ketika didatangi, malam milih main gitar ketimbang diperiksa kesehatannya. Ini yang kami sayangkan,” kata Suyasa melalui telekonferensi, Senin (20/4) siang.

Menurut Suyasa, gugus tugas sudah melakukan pendekatan persuasif pada para pekerja migran agar bersedia mengikuti protokol karantina yang telah ditetapkan. Gugus tugas mengklaim masih melakukan upaya persuasif pada para pekerja migran itu. Namun bila masih membandel, tak menutup kemungkinan gugus tugas akan mengambil langkah yang lebih tegas.

“Kalau memang pada waktunya mengambil keputusan, tentu akan ada tindakan yang lebih dari sekadar pendekatan (persuasif). Ini upaya pencegahan. Jelas kalau ngomong hukum, pasti ada ketentuan,” imbuhnya.

Disisi lain, tim medis yang sempat diabaikan oleh para pekerja migran pada Minggu lalu, memilih melakukan pemeriksaan ke fasilitas penginapan lain.

Baca Juga:  Kasus Harian di Bali Masih Tembus 1.000 Lebih, Warga Diminta Waspada

Suyasa mengatakan tim medis belum memiliki jadwal kembali ke hotel tempat sejumlah pekerja migran menolak diperiksa.

“Tim medis kami tidak mengurus pekerja migran di hotel itu saja. Ada OTG (Orang Tanpa Gejala) yang perlu dicek, ada fasilitas penginapan lain yang juga harus diperiksa pekerja migrannya. Banyak yang harus mereka periksa, dan sudah terjadwal. Kalau terjadi penolakan seperti kemarin, sangat disayangkan. Karena harus diatur ulang kembali jadwal tim yang memeriksa,” tukas Suyasa.

Sekadar diketahui, saat ini sebanyak 382 orang pekerja migran tengah menjalani karantina pada fasilitas yang telah disiapkan pemerintah.

Sebanyak 262 orang menjalani karantina di penginapan yang disediakan pemerintah, sementara 120 orang lainnya menjalani karantina di rumah kost maupun gedung sekolah yang disiapkan pemerintah desa.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/