alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Bahaya! Rumah Sakit di Bali Krisis Oksigen untuk Tangani Pasien

SINGARAJA – Bila pada awal pelaksanaan PPKM darurat Kadis Kesehatan Bali dr Ketut Suarjaya menyatakan stok oksigen di Bali masih aman, ternyata beberapa hari ini rumah sakit di Bali menyatakan sebaliknya. Mereka mengaku kehabisan oksigen.

 

“Oksigen cukup. Stok 60 juta liter pemakaian 10 juta liter per hari,” terang Suarjaya pada 5 Juli 2021 lalu. 

 

Kadinkes Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya menyatakan ketersediaan oksigen saat itu 60 juta liter dan pemakaiannya 10 juta  liter untuk satu hari. Sehingga mencukupi karena terjaga oleh 7 distributor penyedia. 

 

Namun, kasus terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami kenaikan signifikan beberapa pekan ini membuat kebutuhan oksigen meningkat drastis. Di sisi lain, pasien non-Covid-19 juga sebagian membutuhkan oksigen dalam perawatan atau penangannyaa. 

Sebelumnya kelangkaan oksigen juga dirasakan pihak RSD Mangusada Badung. Kini diakui RSUD Buleleng.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengaku telah berkoordinasi dengan Pemprov Bali. Saat ini Buleleng mengajukan tambahan 2 ton oksigen cair, ditambah 1 ton cadangan.

 

Menurut Suyasa saat ini daerah harus mengajukan permintaan oksigen pada Pemprov Bali. Sebab seluruh rumah sakit di Bali kini mengalami krisis oksigen.

Baca Juga:  Kaget Lihat Sampah mengunung, Ajak Ratusan Prajurit Peduli Lingkungan

 

“Dulu kan bisa dari Jawa langsung ke Buleleng. Sekarang semua dikoordinir lewat provinsi. Kami sudah berkoordinasi ke provinsi, supaya (Senin, 19/7)) malam ini kami dapat pasokan. Biar tidak sampai kehabisan,” demikian Suyasa.

 

Krisis oksigen di RSUD Buleleng sebenarnya telah terjadi sejak sepekan terakhir. Namun manajemen RSUD Buleleng terus berusaha menghemat penggunaan oksigen. Sayangnya pada Senin (19/7), ketersediaan oksigen tak bisa ditawar lagi. Cadangan oksigen hanya bertahan hingga pukul 19.00 malam.

 

Oksigen cair disebut sudah kosong sejak pukul 16.00 Minggu (18/7) sore. Sehingga kini tim medis hanya mengandalkan cadangan oksigen tabung. Pada pukul 16.00 sore kemarin, hanya tinggal tersisa 10 tabung saja.

 

“Oksigen tabung kita hanya bertahan lagi 3 jam. Mudah-mudahan dari Denpasar bisa dapat tambahan oksigen malam ini,” kata Dirut RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD saat dihubungi pada Senin sore.

Baca Juga:  Klaim Melandai, GTPP Tak Temukan Tambahan Kasus Baru Positif Covid-19

 

Menurut Arya, kelangkaan oksigen terjadi karena tingginya permintaan di daerah Jawa Timur. Sementara Bali hanya mengandalkan pengiriman dari Pulau Jawa.

 

Dia menjelaskan, dulu RSUD Buleleng mendapat pasokan 4-5 ton dalam sepekan. Kini RSUD Buleleng hanya mendapat pasokan paling banyak 2 ton dalam sepekan. Itu pun bisa habis dalam waktu 2 hari.

 

Lebih lanjut Arya mengatakan, oksigen bukan hanya dibutuhkan oleh pasien covid-19 saja. Di RSUD Buleleng, pasokan oksigen justru lebih banyak dibutuhkan oleh pasien noncovid. Sebut saja pasien gagal ginjal, jantung, maupun paru. Arya menyebut setidaknya ada 70 orang pasien noncovid yang membutuhkan suplai oksigen secara kontinyu.

 

Dampaknya RSUD Buleleng harus menghemat penggunaan oksigen. Salah satunya menunda tindakan operasi pasien. Karena khawatir kehabisan oksigen saat proses operasi tengah berlangsung.

 

“Operasi besar maupun tindakan bedah yang bisa ditunda, kami tunda dulu. Jadi sekarang oksigen sentral itu sudah kosong. Kami hanya mengandalkan (oksigen) tabung saja, dan itu sudah akan habis dalam beberapa jam,” imbuhnya.

SINGARAJA – Bila pada awal pelaksanaan PPKM darurat Kadis Kesehatan Bali dr Ketut Suarjaya menyatakan stok oksigen di Bali masih aman, ternyata beberapa hari ini rumah sakit di Bali menyatakan sebaliknya. Mereka mengaku kehabisan oksigen.

 

“Oksigen cukup. Stok 60 juta liter pemakaian 10 juta liter per hari,” terang Suarjaya pada 5 Juli 2021 lalu. 

 

Kadinkes Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya menyatakan ketersediaan oksigen saat itu 60 juta liter dan pemakaiannya 10 juta  liter untuk satu hari. Sehingga mencukupi karena terjaga oleh 7 distributor penyedia. 

 

Namun, kasus terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami kenaikan signifikan beberapa pekan ini membuat kebutuhan oksigen meningkat drastis. Di sisi lain, pasien non-Covid-19 juga sebagian membutuhkan oksigen dalam perawatan atau penangannyaa. 

Sebelumnya kelangkaan oksigen juga dirasakan pihak RSD Mangusada Badung. Kini diakui RSUD Buleleng.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengaku telah berkoordinasi dengan Pemprov Bali. Saat ini Buleleng mengajukan tambahan 2 ton oksigen cair, ditambah 1 ton cadangan.

 

Menurut Suyasa saat ini daerah harus mengajukan permintaan oksigen pada Pemprov Bali. Sebab seluruh rumah sakit di Bali kini mengalami krisis oksigen.

Baca Juga:  Oknum Kepsek Cabul Diberhentikan, Posisinya Diganti

 

“Dulu kan bisa dari Jawa langsung ke Buleleng. Sekarang semua dikoordinir lewat provinsi. Kami sudah berkoordinasi ke provinsi, supaya (Senin, 19/7)) malam ini kami dapat pasokan. Biar tidak sampai kehabisan,” demikian Suyasa.

 

Krisis oksigen di RSUD Buleleng sebenarnya telah terjadi sejak sepekan terakhir. Namun manajemen RSUD Buleleng terus berusaha menghemat penggunaan oksigen. Sayangnya pada Senin (19/7), ketersediaan oksigen tak bisa ditawar lagi. Cadangan oksigen hanya bertahan hingga pukul 19.00 malam.

 

Oksigen cair disebut sudah kosong sejak pukul 16.00 Minggu (18/7) sore. Sehingga kini tim medis hanya mengandalkan cadangan oksigen tabung. Pada pukul 16.00 sore kemarin, hanya tinggal tersisa 10 tabung saja.

 

“Oksigen tabung kita hanya bertahan lagi 3 jam. Mudah-mudahan dari Denpasar bisa dapat tambahan oksigen malam ini,” kata Dirut RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD saat dihubungi pada Senin sore.

Baca Juga:  Mesin Jukung Mati Saat Ombak Besar, Selamat Usai Berjam-Jam Terapung

 

Menurut Arya, kelangkaan oksigen terjadi karena tingginya permintaan di daerah Jawa Timur. Sementara Bali hanya mengandalkan pengiriman dari Pulau Jawa.

 

Dia menjelaskan, dulu RSUD Buleleng mendapat pasokan 4-5 ton dalam sepekan. Kini RSUD Buleleng hanya mendapat pasokan paling banyak 2 ton dalam sepekan. Itu pun bisa habis dalam waktu 2 hari.

 

Lebih lanjut Arya mengatakan, oksigen bukan hanya dibutuhkan oleh pasien covid-19 saja. Di RSUD Buleleng, pasokan oksigen justru lebih banyak dibutuhkan oleh pasien noncovid. Sebut saja pasien gagal ginjal, jantung, maupun paru. Arya menyebut setidaknya ada 70 orang pasien noncovid yang membutuhkan suplai oksigen secara kontinyu.

 

Dampaknya RSUD Buleleng harus menghemat penggunaan oksigen. Salah satunya menunda tindakan operasi pasien. Karena khawatir kehabisan oksigen saat proses operasi tengah berlangsung.

 

“Operasi besar maupun tindakan bedah yang bisa ditunda, kami tunda dulu. Jadi sekarang oksigen sentral itu sudah kosong. Kami hanya mengandalkan (oksigen) tabung saja, dan itu sudah akan habis dalam beberapa jam,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/