26.5 C
Denpasar
Thursday, June 1, 2023

Karena PPKM Darurat, Kambing Kurban Tak Laku, Pedagang Ngaku Stress

SEMARAPURA – Umat beragama Islam biasanya menyembelih sapi dan kambing untuk dibagi-bagikan saat Hari Raya Idul Adha. Tidak heran bila pedagang sapi dan kambing dadakan bermunculan.

 

Bahkan hingga menyewa lahan di pinggir-pinggir jalan lantaran biasanya permintaan sapi dan kambing meningkat signifikan dibandingkan dengan hari-hari biasa saat momen tersebut.

 

Tidak heran bila salah seorang pedagang kambing asal Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Agung Oka saat ditemui di kandang kambingnya, Senin (19/7) mengaku telah mempersiapkan stok kambingnya untuk kebutuhan Hari Raya Idul Adha sejak 1,5 bulan yang lalu.

 

Harapannya, ia dapat memenuhi peningkatan permintaan kambing untuk perayaan Hari Raya Idul Adha yang dirayakan umat Islam hari ini.

 

“Tidak hanya menjual langsung ke pembeli, saya juga menyediakan kambing untuk para pedagang. Bahkan dua bulan yang lalu pedagang-pedagang kambing di Denpasar sudah pada pesan. Bahkan ada yang pesan hingga 200 ekor,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kasus Penggelapan di LPD Dawan Widang Klod Digeser ke Pidana Korupsi

 

Namun harapannya memperoleh peningkatan omzet jelang Idul Adha pupus oleh penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang dimulai sejak 3-20 Juli 2021 itu.

 

Dua hari sebelum PPKM Darurat, diungkapkannya para pedagang yang memesan kambing di tempatnya mulai membatalkan pesanan. Tidak tanggung-tanggung, pesanan ratusan ekor kambing dibatalkan saat itu.

 

“Sebelum penerapan PPKM Darurat, pedagang-pedagang ini sudah dapat info bahwa kegiatan di masjid akan dibatasi sehingga berdampak pada kegiatan kurban saat Idul Adha. Jadi dibatalkan pesanan 200 ekor kambingnya. Saya stress waktu itu sampai tidak bisa tidur. Akhirnya saya jual rugi stok kambing yang di Jawa,” bebernya.

 

Tidak sampai di sana, PPKM Darurat juga membuat pembelian kambing oleh konsumen langsung sulit dilakukan. Penyekatan yang terjadi di sejumlah titik ruas jalan membuang konsumennya kesulitan mendatangi tempat berjualannya sehingga memutuskan untuk tidak membeli kambing di tempatnya.

Baca Juga:  BANGGA! Putra Nusa Penida Raih Beasiswa Sepak Bola Luar Negeri

 

Ratusan ekor kambing yang disiapkannya di kandang wilayah Desa Paksebali akhirnya hanya laku 54 ekor hingga H-1 jelang Hari Raya Idul Adha.

 

“Biasanya bisa laku 150 ekor lebih. Sekarang cuma terjual 54 ekor. Ada pelanggan dari Denpasar yang telepon bilang mau ke sini beli kambing, tapi karena ada penyekatan di mana-mana akhirnya batal,” ujarnya.

 

Stok kambing yang tidak laku terpaksa dipelihara kembali menunggu Idul Adha tahun depan. Selain itu ada juga yang akan dijual untuk kambing potong. Meski menjual kambing untuk kambing potong jauh lebih murah ketimbang untuk kebutuhan Idul Adha.

 

“Saya beli kambingnya mahal sekarang malah tidak ada yang beli. Kalau dijual untuk kambing potong, rugi Rp 400 ribu – Rp 500 ribu per ekor. Harga kambing saya berkisar Rp 2,5 juta – Rp 3,5 juta lebih. Semoga pandemi ini cepat berakhir,” tandasnya.



SEMARAPURA – Umat beragama Islam biasanya menyembelih sapi dan kambing untuk dibagi-bagikan saat Hari Raya Idul Adha. Tidak heran bila pedagang sapi dan kambing dadakan bermunculan.

 

Bahkan hingga menyewa lahan di pinggir-pinggir jalan lantaran biasanya permintaan sapi dan kambing meningkat signifikan dibandingkan dengan hari-hari biasa saat momen tersebut.

 

Tidak heran bila salah seorang pedagang kambing asal Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Agung Oka saat ditemui di kandang kambingnya, Senin (19/7) mengaku telah mempersiapkan stok kambingnya untuk kebutuhan Hari Raya Idul Adha sejak 1,5 bulan yang lalu.

 

Harapannya, ia dapat memenuhi peningkatan permintaan kambing untuk perayaan Hari Raya Idul Adha yang dirayakan umat Islam hari ini.

 

“Tidak hanya menjual langsung ke pembeli, saya juga menyediakan kambing untuk para pedagang. Bahkan dua bulan yang lalu pedagang-pedagang kambing di Denpasar sudah pada pesan. Bahkan ada yang pesan hingga 200 ekor,” ungkapnya.

Baca Juga:  Polisi Gencarkan Penegakan Prokes

 

Namun harapannya memperoleh peningkatan omzet jelang Idul Adha pupus oleh penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang dimulai sejak 3-20 Juli 2021 itu.

 

Dua hari sebelum PPKM Darurat, diungkapkannya para pedagang yang memesan kambing di tempatnya mulai membatalkan pesanan. Tidak tanggung-tanggung, pesanan ratusan ekor kambing dibatalkan saat itu.

 

“Sebelum penerapan PPKM Darurat, pedagang-pedagang ini sudah dapat info bahwa kegiatan di masjid akan dibatasi sehingga berdampak pada kegiatan kurban saat Idul Adha. Jadi dibatalkan pesanan 200 ekor kambingnya. Saya stress waktu itu sampai tidak bisa tidur. Akhirnya saya jual rugi stok kambing yang di Jawa,” bebernya.

 

Tidak sampai di sana, PPKM Darurat juga membuat pembelian kambing oleh konsumen langsung sulit dilakukan. Penyekatan yang terjadi di sejumlah titik ruas jalan membuang konsumennya kesulitan mendatangi tempat berjualannya sehingga memutuskan untuk tidak membeli kambing di tempatnya.

Baca Juga:  BANGGA! Putra Nusa Penida Raih Beasiswa Sepak Bola Luar Negeri

 

Ratusan ekor kambing yang disiapkannya di kandang wilayah Desa Paksebali akhirnya hanya laku 54 ekor hingga H-1 jelang Hari Raya Idul Adha.

 

“Biasanya bisa laku 150 ekor lebih. Sekarang cuma terjual 54 ekor. Ada pelanggan dari Denpasar yang telepon bilang mau ke sini beli kambing, tapi karena ada penyekatan di mana-mana akhirnya batal,” ujarnya.

 

Stok kambing yang tidak laku terpaksa dipelihara kembali menunggu Idul Adha tahun depan. Selain itu ada juga yang akan dijual untuk kambing potong. Meski menjual kambing untuk kambing potong jauh lebih murah ketimbang untuk kebutuhan Idul Adha.

 

“Saya beli kambingnya mahal sekarang malah tidak ada yang beli. Kalau dijual untuk kambing potong, rugi Rp 400 ribu – Rp 500 ribu per ekor. Harga kambing saya berkisar Rp 2,5 juta – Rp 3,5 juta lebih. Semoga pandemi ini cepat berakhir,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru