alexametrics
29.8 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Miris, Pengelola Taman Ujung Tak Mampu Bayarkan Premi BPJS Karyawan

AMLAPURA-Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat terus berdampak buruk terhadao semua sektor.

 

Salah satunya objek wisata Taman Soekasada Ujung.

 

Akibat PPKM Darurat, pengelola objek wisata Taman Ujung tak bisa membayarkan premi BPJS Ketenaga Kerjaan dan Kesehatan bagi puluhan pekerjanya.

 

Hal itu diungkapkan langsung Pengelola Taman Soekasada Ujung, Ida Made Alit, Senin (19/7).

- Advertisement -

Ida Made Alit mengungkapkan, dampak penerapan PPKM darurat bagi Taman Ujung sangat buruk.

 

Jangankan sebelum penerapakan PPKM darurat, kondisi sulit sudah dihadapi sejak covid-19 mulai merebak di Indonesia khususnya Bali yang bergantung pada sektor pariwisata.

 

“Sebelum pandemi saja kami sudah tertatih-tatih. Ditambah kondisi PPKM semakin hancur akibat objek wisata ditutup,” terangnya.

Alit menjelaskan, bahwa untuk bulan Juli 2021 ini, pihak pengelola kemungkinan tidak mampu lagi untuk membayar premi BPJS Ketenagakerjaan dan kesehatan terhadap 47 karyawan.

Baca Juga:  4 KRI Dekati Perairan Bali Utara, Nelayan Masih Melaut di Laut Bali

 

“Sebelumnya kami berusaha agar tidak merumahkan karyawan dengan cara menerapkan bekerja bergantian dan dibayarkan setengah gaji. Tapi dengan kondisi seperti saat ini, kemungkinan bulan ini kami tidak mampu untuk membayar BPJS Karyawan,” beber Ida Made Alit.

Ini karena pendapatan di masa pandemi turun hampir 60 persen.

 

Di masa pandemi, pendapatan hanya berkisar Rp2 sampai 3 juta saja per hari. Sedangkan di masa normal, bisa mencapai Rp15 juta per hari.

 

“Kami menggaji karyawan hanya 50 persen sejak pandemi. Dengan berbagai pengehematan yang maksimal saja, biaya operasional kami mencapai Rp150 juta dalam sebulan. Uang cadangan sudag habis sejak beberapa bulan lalu,” ungkap Ida Made Alit.

Baca Juga:  Dulu Pendapatan Per Hari Bisa Rp 100 Juta, Kini Anjlok Jadi Rp 5 Juta

Dengan adanya penutupan selama penerapan PPKM Darurat ini, Taman Soekasada kehilangan pendapatan hingga Rp50 juta lebih.

 

“Padahal pendapatan segitu sangat berarti di masa pandemi ini. Itu bisa membantu biaya operasional. Kalau sudah tidak ada pemasukan, terus bagaimana nasib taman ini. Saya tidak bisa berkata apa-apa,” tukas Made Alit.

Untuk diketahui, setiap bulannya pihak pengelola Taman Soekasada Ujung, harus mengeluarkan dana sekitar Rp17 juta untuk membayarkan premi BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan bagi 47 orang karyawan.

 

Dimana untuk pembayaran iuran premi BPJS Ketenagakerjaan pihak pengelola mengeluarkan biaya sebesar Rp13 juta lebih, sedangkan untuk pembayaran BPJS kesehatan sebanyak Rp3 juta lebih.

- Advertisement -

AMLAPURA-Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat terus berdampak buruk terhadao semua sektor.

 

Salah satunya objek wisata Taman Soekasada Ujung.

 

Akibat PPKM Darurat, pengelola objek wisata Taman Ujung tak bisa membayarkan premi BPJS Ketenaga Kerjaan dan Kesehatan bagi puluhan pekerjanya.

 

Hal itu diungkapkan langsung Pengelola Taman Soekasada Ujung, Ida Made Alit, Senin (19/7).

Ida Made Alit mengungkapkan, dampak penerapan PPKM darurat bagi Taman Ujung sangat buruk.

 

Jangankan sebelum penerapakan PPKM darurat, kondisi sulit sudah dihadapi sejak covid-19 mulai merebak di Indonesia khususnya Bali yang bergantung pada sektor pariwisata.

 

“Sebelum pandemi saja kami sudah tertatih-tatih. Ditambah kondisi PPKM semakin hancur akibat objek wisata ditutup,” terangnya.

Alit menjelaskan, bahwa untuk bulan Juli 2021 ini, pihak pengelola kemungkinan tidak mampu lagi untuk membayar premi BPJS Ketenagakerjaan dan kesehatan terhadap 47 karyawan.

Baca Juga:  Libur Nataru, PHRI Buleleng Usul PPKM Dilonggarkan

 

“Sebelumnya kami berusaha agar tidak merumahkan karyawan dengan cara menerapkan bekerja bergantian dan dibayarkan setengah gaji. Tapi dengan kondisi seperti saat ini, kemungkinan bulan ini kami tidak mampu untuk membayar BPJS Karyawan,” beber Ida Made Alit.

Ini karena pendapatan di masa pandemi turun hampir 60 persen.

 

Di masa pandemi, pendapatan hanya berkisar Rp2 sampai 3 juta saja per hari. Sedangkan di masa normal, bisa mencapai Rp15 juta per hari.

 

“Kami menggaji karyawan hanya 50 persen sejak pandemi. Dengan berbagai pengehematan yang maksimal saja, biaya operasional kami mencapai Rp150 juta dalam sebulan. Uang cadangan sudag habis sejak beberapa bulan lalu,” ungkap Ida Made Alit.

Baca Juga:  Kembangkan Objek Wisata Baru, Gianyar Tambah Lima Desa Wisata

Dengan adanya penutupan selama penerapan PPKM Darurat ini, Taman Soekasada kehilangan pendapatan hingga Rp50 juta lebih.

 

“Padahal pendapatan segitu sangat berarti di masa pandemi ini. Itu bisa membantu biaya operasional. Kalau sudah tidak ada pemasukan, terus bagaimana nasib taman ini. Saya tidak bisa berkata apa-apa,” tukas Made Alit.

Untuk diketahui, setiap bulannya pihak pengelola Taman Soekasada Ujung, harus mengeluarkan dana sekitar Rp17 juta untuk membayarkan premi BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan bagi 47 orang karyawan.

 

Dimana untuk pembayaran iuran premi BPJS Ketenagakerjaan pihak pengelola mengeluarkan biaya sebesar Rp13 juta lebih, sedangkan untuk pembayaran BPJS kesehatan sebanyak Rp3 juta lebih.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/