alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Longsor di Jalur Singaraja – Denpasar Gitgit Picu Kemacetan Berjam-jam

SUKASADA – Para pengendara yang melintas di Jalan Raya Singaraja-Denpasar, harus ekstra waspada. Terlebih pada musim hujan seperti ini.

Bukan hanya persoalan aspal jalan yang mulai mengelupas. Jalur ini pun sangat rawan dengan bencana alam.

Buktinya pada Kamis (20/2) pagi, tebing di KM 18 Jalan Raya Singaraja-Denpasar, tepatnya di wilayah Banjar Dinas Wirabhuana, Desa Gitgit, longsor.

Tak pelak ruas jalan tersebut mengalami kemacetan panjang. Terlebih kemarin merupakan puncak arus balik setelah hari raya Galungan.

Musibah tanah longsor itu dilaporkan terjadi sekitar pukul 09.00 pagi. Tebing setinggi 15 meter tiba-tiba longsor dan menutupi separo badan jalan.

Utamanya lajur yang menuju arah Denpasar. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Relawan Destana (Desa Tangguh Bencana) di Desa Gitgit pun langsung melakukan penanganan.

Hanya saja material yang terlalu tebal, menyulitkan proses pembersihan. Akibatnya seonggok batang kayu masih tertinggal di lokasi longsoran, karena relawan kesulitan dalam proses evakuasi.

“Sebenarnya ada alat berat dari Balai Jalan (Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah VIII) yang stand by. Tapi operatornya tidak ada,

karena hari raya. Memang dalam cuaca seperti ini, sangat rentan ada tanah longsor,” kata Perbekel Gitgit Putu Arcana.

Menurut Arcana, ruas jalur tersebut memang sangat rawan terjadi bencana tanah longsor. Arcana menyebut jalur sepanjang

lima kilometer yang membentang di Desa Gitgit – utamanya Banjar Dinas Wirabhuana – sangat rawan terjadi tanah longsor.

“Kami sudah identifikasi titik-titik yang rawan. Memang yang paling rawan itu dari KM 13 sampai KM 18. Hampir di sepanjang jalan itu rawan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng Ida Bagus Suadnyana mengatakan, potensi tanah longsor memang cukup tinggi.

Pihaknya telah mengeluarkan peringatan dini sejak awal Februari lalu, terkait potensi longsor di sejumlah kecamatan.

Ia pun menghimbau agar masyarakat, terutama pengguna kendaraan bermotor, agar lebih waspada saat melintas. Mengingat potensi longsor masih akan terjadi.

“Kemungkinan potensinya sampai bulan Maret. Sebab dari prakiraan cuaca, curah hujan tinggi masih akan berlangsung sampai Maret. Sehingga potensi longsor juga masih mungkin terjadi,” kata Suadnyana. 



SUKASADA – Para pengendara yang melintas di Jalan Raya Singaraja-Denpasar, harus ekstra waspada. Terlebih pada musim hujan seperti ini.

Bukan hanya persoalan aspal jalan yang mulai mengelupas. Jalur ini pun sangat rawan dengan bencana alam.

Buktinya pada Kamis (20/2) pagi, tebing di KM 18 Jalan Raya Singaraja-Denpasar, tepatnya di wilayah Banjar Dinas Wirabhuana, Desa Gitgit, longsor.

Tak pelak ruas jalan tersebut mengalami kemacetan panjang. Terlebih kemarin merupakan puncak arus balik setelah hari raya Galungan.

Musibah tanah longsor itu dilaporkan terjadi sekitar pukul 09.00 pagi. Tebing setinggi 15 meter tiba-tiba longsor dan menutupi separo badan jalan.

Utamanya lajur yang menuju arah Denpasar. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Relawan Destana (Desa Tangguh Bencana) di Desa Gitgit pun langsung melakukan penanganan.

Hanya saja material yang terlalu tebal, menyulitkan proses pembersihan. Akibatnya seonggok batang kayu masih tertinggal di lokasi longsoran, karena relawan kesulitan dalam proses evakuasi.

“Sebenarnya ada alat berat dari Balai Jalan (Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah VIII) yang stand by. Tapi operatornya tidak ada,

karena hari raya. Memang dalam cuaca seperti ini, sangat rentan ada tanah longsor,” kata Perbekel Gitgit Putu Arcana.

Menurut Arcana, ruas jalur tersebut memang sangat rawan terjadi bencana tanah longsor. Arcana menyebut jalur sepanjang

lima kilometer yang membentang di Desa Gitgit – utamanya Banjar Dinas Wirabhuana – sangat rawan terjadi tanah longsor.

“Kami sudah identifikasi titik-titik yang rawan. Memang yang paling rawan itu dari KM 13 sampai KM 18. Hampir di sepanjang jalan itu rawan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng Ida Bagus Suadnyana mengatakan, potensi tanah longsor memang cukup tinggi.

Pihaknya telah mengeluarkan peringatan dini sejak awal Februari lalu, terkait potensi longsor di sejumlah kecamatan.

Ia pun menghimbau agar masyarakat, terutama pengguna kendaraan bermotor, agar lebih waspada saat melintas. Mengingat potensi longsor masih akan terjadi.

“Kemungkinan potensinya sampai bulan Maret. Sebab dari prakiraan cuaca, curah hujan tinggi masih akan berlangsung sampai Maret. Sehingga potensi longsor juga masih mungkin terjadi,” kata Suadnyana. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/