alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

LSM BAWA Menentang Kadiskes Jembrana yang Sarankan Habisi Anjing Liar

NEGARA – LSM Bali Animal Welfare Assosiation (BAWA) yang berpusat di Ubud, menentang saran dari Dinas Kesehatan Jembrana agar anjing liar dihabisi atau dieliminasi untuk mengatasi rabies. BAWA menilai eliminasi anjing liar tak menyelesaikan masalah rabies yang saat ini kembali merebak di Bali, termasuk di Kabupaten Jembrana.

Menurut Cynthia dari LSM BAWA, jika ada cukup anggaran untuk eliminasi skala besar, dan stok racun strychnine diperlukan untuk melakukannya, lebih baik anggaran ini digunakan untuk hal yang lebih berguna yaitu skema vaksinasi masal yang metodis dan kuat.

“Ini (vaksinasi anjing) satu-satunya metode yang terbukti dan diakui secara global untuk mengontrol rabies, di mana sudah sukses dilakukan di Bali beberapa tahun lalu,” kata Cynthia melalui surat elektronik kepada radarbali.id, Jumat (20/5).

Dia mengakui, memang mengkhawatirkan bahwa di Bali ada banyak kasus rabies. Tapi, lanjutnya, jika semua anjing tidak berpemilik atau liar dibunuh, ini akan sangat tragis. Disebut liar, namun kenyataannya tidak ada anjing liar di Bali. Mereka adalah anjing yang memang berada di lingkungan sekitar dan tinggal di pantai ataupun hutan dan masih bergantung pada manusia agar bisa bertahan hidup.

“Dalam melawan rabies, anjing yang berkeliaran bukanlah masalahnya, namun anjing yang belum divaksin itu yang bermasalah. Jadi kita perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan memvaksinasi seluruh anjing di Bali dan terus memvaksinasi anak-anak anjing yang baru masuk dalam populasi,” tandas dia.

Menurut dia, Bali harus mencapai kestabilan populasi dan kekebalan kelompok. Untuk mencapai kekebalan kelompok butuh memvaksinasi lebih dari 70 persen dari jumlah anjing dalam satu populasi. Ini juga berarti tidak membunuh anjing yang sudah divaksin, tidak membuang anak-anak anjing atau anjing di jalanan dan pantai, melarang perkembangbiakan anjing di mana akan menambah anjing dalam satu populasi, yang mana kebanyakan akan dibuang ketika sakit atau tidak diinginkan lagi.

“Semua ini dapat menjadi penyebab populasi tidak stabil,” imbuhnya.

Cynthia melanjutkan, tanggapan baru-baru ini oleh Pemerintah Jembrana akibat peningkatan kasus rabies mengingatkan pada saat awal tahun-tahun rabies pertama masuk ke Bali. Catatan radarbali.id, kasus pertama rabies yang diketahui terjadi pada akhir 2008 di Badung.

“Ratusan bahkan ribuan ekor anjing dibunuh, dan itu tidak menyelesaikan masalah. Lalu BAWA memvaksinasi terus menerus, lalu pemerintah ikut memvaksinasi – metode itu sukses dan hampir mengatasi isu rabies secara keseluruhan,” tutur Cynthia.

Sayangnya, lanjut dia, pembunuhan anjing kembali terjadi dan rabies pun kembali datang. Saat mereka menyadari itu adalah langkah yang salah, program vaksinasi masal tahunan kembali diadakan di Bali dan semua berjalan baik.

“Hingga Covid-19 melanda. Karena pembatasan akibat pandemi dan tidak adanya anggaran, vaksinasi pun dihentikan, vaksin untuk manusia dan anjing pun langka, dan sekarang kita kembali ke awal,” jelasnya.

Dia pun menyatakan, karena rabies yang kembali merebak, maka pemerintah Bali harus belajar dari kesalahan dan kesuksesan yang sudah terjadi dalam penanganan rabies.

“Program vaksinasi pada anjing bekerja dengan baik dan sukses! Sedangkan program eliminasi tidak, dan pastinya tidak akan berhasil jika dijalankan sekarang,” katanya.

Lebih lanjut Cynthia menegaskan, rabies merupakan penyakit mematikan dan bisa dicegah dengan vaksinasi. “Kami menganjurkan Pemerintah Pusat memberi anggaran secepatnya untuk menyediakan vaksin rabies pada manusia dan suplai imunoglobulin untuk kasus yang serius agar dapat menyelamatkan kehidupan,” pungkasnya.



NEGARA – LSM Bali Animal Welfare Assosiation (BAWA) yang berpusat di Ubud, menentang saran dari Dinas Kesehatan Jembrana agar anjing liar dihabisi atau dieliminasi untuk mengatasi rabies. BAWA menilai eliminasi anjing liar tak menyelesaikan masalah rabies yang saat ini kembali merebak di Bali, termasuk di Kabupaten Jembrana.

Menurut Cynthia dari LSM BAWA, jika ada cukup anggaran untuk eliminasi skala besar, dan stok racun strychnine diperlukan untuk melakukannya, lebih baik anggaran ini digunakan untuk hal yang lebih berguna yaitu skema vaksinasi masal yang metodis dan kuat.

“Ini (vaksinasi anjing) satu-satunya metode yang terbukti dan diakui secara global untuk mengontrol rabies, di mana sudah sukses dilakukan di Bali beberapa tahun lalu,” kata Cynthia melalui surat elektronik kepada radarbali.id, Jumat (20/5).

Dia mengakui, memang mengkhawatirkan bahwa di Bali ada banyak kasus rabies. Tapi, lanjutnya, jika semua anjing tidak berpemilik atau liar dibunuh, ini akan sangat tragis. Disebut liar, namun kenyataannya tidak ada anjing liar di Bali. Mereka adalah anjing yang memang berada di lingkungan sekitar dan tinggal di pantai ataupun hutan dan masih bergantung pada manusia agar bisa bertahan hidup.

“Dalam melawan rabies, anjing yang berkeliaran bukanlah masalahnya, namun anjing yang belum divaksin itu yang bermasalah. Jadi kita perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan memvaksinasi seluruh anjing di Bali dan terus memvaksinasi anak-anak anjing yang baru masuk dalam populasi,” tandas dia.

Menurut dia, Bali harus mencapai kestabilan populasi dan kekebalan kelompok. Untuk mencapai kekebalan kelompok butuh memvaksinasi lebih dari 70 persen dari jumlah anjing dalam satu populasi. Ini juga berarti tidak membunuh anjing yang sudah divaksin, tidak membuang anak-anak anjing atau anjing di jalanan dan pantai, melarang perkembangbiakan anjing di mana akan menambah anjing dalam satu populasi, yang mana kebanyakan akan dibuang ketika sakit atau tidak diinginkan lagi.

“Semua ini dapat menjadi penyebab populasi tidak stabil,” imbuhnya.

Cynthia melanjutkan, tanggapan baru-baru ini oleh Pemerintah Jembrana akibat peningkatan kasus rabies mengingatkan pada saat awal tahun-tahun rabies pertama masuk ke Bali. Catatan radarbali.id, kasus pertama rabies yang diketahui terjadi pada akhir 2008 di Badung.

“Ratusan bahkan ribuan ekor anjing dibunuh, dan itu tidak menyelesaikan masalah. Lalu BAWA memvaksinasi terus menerus, lalu pemerintah ikut memvaksinasi – metode itu sukses dan hampir mengatasi isu rabies secara keseluruhan,” tutur Cynthia.

Sayangnya, lanjut dia, pembunuhan anjing kembali terjadi dan rabies pun kembali datang. Saat mereka menyadari itu adalah langkah yang salah, program vaksinasi masal tahunan kembali diadakan di Bali dan semua berjalan baik.

“Hingga Covid-19 melanda. Karena pembatasan akibat pandemi dan tidak adanya anggaran, vaksinasi pun dihentikan, vaksin untuk manusia dan anjing pun langka, dan sekarang kita kembali ke awal,” jelasnya.

Dia pun menyatakan, karena rabies yang kembali merebak, maka pemerintah Bali harus belajar dari kesalahan dan kesuksesan yang sudah terjadi dalam penanganan rabies.

“Program vaksinasi pada anjing bekerja dengan baik dan sukses! Sedangkan program eliminasi tidak, dan pastinya tidak akan berhasil jika dijalankan sekarang,” katanya.

Lebih lanjut Cynthia menegaskan, rabies merupakan penyakit mematikan dan bisa dicegah dengan vaksinasi. “Kami menganjurkan Pemerintah Pusat memberi anggaran secepatnya untuk menyediakan vaksin rabies pada manusia dan suplai imunoglobulin untuk kasus yang serius agar dapat menyelamatkan kehidupan,” pungkasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/