alexametrics
25.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Selain Tak Tahu Ada Boikot, Bendesa Klaim Tak Ada Intervensi dari MDA

Ratusan krama atau warga Desa Adat Liligundi, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Jumat (20/8) menyatakan sikap untuk memboikot sejumlah aturan adat (perarem).

Pernyataan sikap yang dibacakan di Jaba Pura Penataran Desa Adat Liligundi ini sebagai bentuk akumulasi kekesalan warga yang tak kunjung mendapat penyelesaian masalah atas gejolak dengan prajuru adat setempat.

Lalu bagaimana respon dari pihak bendesa Adat Liligundi yang juga ketua MDA Karangasem dengan munculnya aksi boikot dari warga ini?

 

ZULFIKA RAHMAN, Karangasem

BENDESA Adat Liligundi Ketut Alit Suardana dihubungi melalui sambungan telepon mengaku tidak mengetahui adanya sikap pemboikotan krama Desa Adat Liligundi.

“Saya tidak tahu tentang pernyataan sikap itu, saya dari pagi di kantor (MDA Karangasem),” aku Alit Suardana yang juga menjabat sebagai ketua MDA Karangasem ini.

Hanya saja, kata Suardana dalam desa adat tersebut ada hak dan kewajiban bagi krama atau warga.

Baca Juga:  Siwaratri, Warga Diminta Tak Berkumpul di Pura Jagatnatha

Misalnya kata dia, ada kewajiban membayar upeti pelaba pura padahal hak krama diberikan seperti mencari kelapa, mencari cengkih dan tempat tinggal.

Begitu juga dengan hak mendapatkan air yang dikelola oleh Baga Utsaha Pedruwen Desa Adat (Bupda) Liligundi yang sudah terdaftar sah secara hukum.

Termasuk saat kelian adat banjar Kaja yang mengembalikan pipil banten.

“Hak krama mendapatkan air tapi tidak mau membayar, malah dipotong pipanya. Begitu juga hak lainnya sudah dipenuhi. Tapi kewajiban tidak ada. Waktu kelian adat Kaja mengembalikan pipil banten kami sempat panggil tapi tidak mau datang, bagaimana mau menyelesaikan masalah? Mereka tidak mau duduk bersama,” kata Suardana.

Dia mengakui gejolak warga sudah lama berlangsung. Namun terkait pencabutan pararem dirinya tegas menyatakan jika hal itu bukan menjadi kewenangan prajuru desa,

“Itu murni kewenangan dari MDA yang saat ini masih berproses di tingkat MDA Kecamatan. Tidak ada kelompok tirani mayoritas. Semua ada aturannya. Desa adat tidak bisa mencabut pararem, itu ada di MDA Kecamatan,” terang Suardana.

Baca Juga:  Wabup Suiasa Imbau Masyarakat Tetap Utamakan Protokol Kesehatan

Selain itu, pihaknya juga menuding bahwa kelompok krama ini tidak mau datang untuk mediasi di Desa Adat.

“Kami sudah undang tidak mau datang. Mereka datang saat mediasi di MDA Kecamatan, itu juga ramai-ramai, terus pakai pengeras suara, kerumunan sampai MDA Kecamatan ditegur kepolisian,” paparnya.

Disinggung soal adanya intervensi MDA Kabupaten kepada MDA Kecamatan, Suardana membantah.

“Boleh dicek, tidak ada intervensi. Tim itu terbentuk dan diberikan kewenangan penuh. Saya tidak punya kewenangan. Karena untuk membentuk saba panureksa itu bekerja independen. Kalau kecurigaan warga (ada intervensi) ya boleh saja,” pungkasnya.

Sementara itu, Bendesa Alit MDA Kecamatan Bebandem Nyoman Ganti belum bisa memberikan keteranga terkait masalah ini. Saat dihubungi melalui sambungan telepon, nomor yang bersangkutan tidak aktif. 


Ratusan krama atau warga Desa Adat Liligundi, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Jumat (20/8) menyatakan sikap untuk memboikot sejumlah aturan adat (perarem).

Pernyataan sikap yang dibacakan di Jaba Pura Penataran Desa Adat Liligundi ini sebagai bentuk akumulasi kekesalan warga yang tak kunjung mendapat penyelesaian masalah atas gejolak dengan prajuru adat setempat.

Lalu bagaimana respon dari pihak bendesa Adat Liligundi yang juga ketua MDA Karangasem dengan munculnya aksi boikot dari warga ini?

 

ZULFIKA RAHMAN, Karangasem

BENDESA Adat Liligundi Ketut Alit Suardana dihubungi melalui sambungan telepon mengaku tidak mengetahui adanya sikap pemboikotan krama Desa Adat Liligundi.

“Saya tidak tahu tentang pernyataan sikap itu, saya dari pagi di kantor (MDA Karangasem),” aku Alit Suardana yang juga menjabat sebagai ketua MDA Karangasem ini.

Hanya saja, kata Suardana dalam desa adat tersebut ada hak dan kewajiban bagi krama atau warga.

Baca Juga:  Dituntut 7,5 Tahun Bui, Hakim Hibur Terdakwa Ni Wayan Puspawati

Misalnya kata dia, ada kewajiban membayar upeti pelaba pura padahal hak krama diberikan seperti mencari kelapa, mencari cengkih dan tempat tinggal.

Begitu juga dengan hak mendapatkan air yang dikelola oleh Baga Utsaha Pedruwen Desa Adat (Bupda) Liligundi yang sudah terdaftar sah secara hukum.

Termasuk saat kelian adat banjar Kaja yang mengembalikan pipil banten.

“Hak krama mendapatkan air tapi tidak mau membayar, malah dipotong pipanya. Begitu juga hak lainnya sudah dipenuhi. Tapi kewajiban tidak ada. Waktu kelian adat Kaja mengembalikan pipil banten kami sempat panggil tapi tidak mau datang, bagaimana mau menyelesaikan masalah? Mereka tidak mau duduk bersama,” kata Suardana.

Dia mengakui gejolak warga sudah lama berlangsung. Namun terkait pencabutan pararem dirinya tegas menyatakan jika hal itu bukan menjadi kewenangan prajuru desa,

“Itu murni kewenangan dari MDA yang saat ini masih berproses di tingkat MDA Kecamatan. Tidak ada kelompok tirani mayoritas. Semua ada aturannya. Desa adat tidak bisa mencabut pararem, itu ada di MDA Kecamatan,” terang Suardana.

Baca Juga:  Larang ke Pantai, Ritual Melasti Sambut Nyepi Cukup di Desa Adat

Selain itu, pihaknya juga menuding bahwa kelompok krama ini tidak mau datang untuk mediasi di Desa Adat.

“Kami sudah undang tidak mau datang. Mereka datang saat mediasi di MDA Kecamatan, itu juga ramai-ramai, terus pakai pengeras suara, kerumunan sampai MDA Kecamatan ditegur kepolisian,” paparnya.

Disinggung soal adanya intervensi MDA Kabupaten kepada MDA Kecamatan, Suardana membantah.

“Boleh dicek, tidak ada intervensi. Tim itu terbentuk dan diberikan kewenangan penuh. Saya tidak punya kewenangan. Karena untuk membentuk saba panureksa itu bekerja independen. Kalau kecurigaan warga (ada intervensi) ya boleh saja,” pungkasnya.

Sementara itu, Bendesa Alit MDA Kecamatan Bebandem Nyoman Ganti belum bisa memberikan keteranga terkait masalah ini. Saat dihubungi melalui sambungan telepon, nomor yang bersangkutan tidak aktif. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/