alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Koster Berharap Arak Bali Bisa Saingi Produk Mikol Luar Negeri

AMLAPURA-Gubernur Bali Wayan Koster berharap, keberadaan minuman tradisional arak Bali bisa menyaingi produk minuman beralkohol luar negeri seperti Sake dan lainnya.

 

Dengan begitu, Koster optimistis, minuman lokal arak Bali bisa menjadi “raja” di negeri sendiri.

 

Harapan Wayan Koster agar arak Bali bisa bersaing dengan produk mikol luar negeri itu, sebagaimana disampaikan saat bertemu dengan petani arak “Gumi Lahar” Karangasem di Restauran La Grande Desa Ababi, Kabupaten Karangasem, Senin (21/9).

 

Menurutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terus berupaya agar arak mampu bersaing secara sehat.

 

Salah satu upaya pemprov itu, yakni dengan dukungan regulasi untuk melegalkan produk arak dan produk lokal lainnya seperti tuak dan brem melalui Pergub Bali No 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan Destilasi Khas Bali.

 

“Proses keluarnya (Pergub Bali 1/2020) ini tidaklah mudah. Namun melalui perjuangan keras dengan merubah Perpres (Peraturan Presiden),”katanya.

Baca Juga:  Jokowi Izinkan Makan di Tempat, Mendagri dan Gubernur Bali Melarang

 

Ditambahkan, peraturan (Pergub) sengaja dibuat untuk membantu petani arak.

 

Sehingga dengan Pergub, kata Koster, para petani arak bisa lebih terlindungi dan bisa dengan tenang melakukan produksi.

 

“Tentu kedepan diharapkan arak mampu meningkatkan potensi masyarakat. Karena di Desa banyak pohon jaka atau enao serta kelapa yang bisa menjadi sumber tanaman arak. Arak Bali itu riil beredar di masyarakat dan bisa membantu secara perekonomian,” ujarnya.

 

Selain itu, kata Koster, produk-produk seperti tuak, arak, dan brem selalu digunakan untuk upacara di Bali untuk sarana Tetabuhan.  

 

“Kita alam Bali dianugrahi sumber daya alam berupa pohon enao dan kelapa yang tumbuh subur dan menghasilkan tuak serta arak,” ujarnya.

 

Sementara itu, menanggapi paparan gubernur, salah satu perwakilan petani Arak asal Sidemen I Ketut Sudarma mengaku sangat beterima kasih kepada Gubernur Koster karena telah membantu petani arak dalam hal pemasaran.

Baca Juga:  Koster Masuk Bursa Capres 2024 Pilihan PDIP, Ini Respon Aktivis Bali

 

Temasuk soal legalisasi minumal tradisional beralkohol khas Bali. “Saat ini petani arak merasa lebih terlindungi,” ujarnya.

 

Kata Sudarma, sebelum adanya Pergub, petani arak kerap kucing-kucingan dengan aparat kepolisian agar bisa menjual produksinya tersebut.

Padahal arak merupakan mata pencaharian utama warga di beberapa tempat di Karangasem.

Dari hasil produksi arak, warga bisa menyekolahkan anak -anaknya dan juga membantu secara ekonomi.

 

Kedepan, Sudarma berharap gubernur bisa membantu petani untuk menekan harga alat fermentasi untuk memproduksi arak. Saat ini harga alat tersebut sekitar Rp 3 juta, dan hal ini bagi petani arak masih terlalu mahal.

 

“Kami berharap pak Gubernur bisa membantu kami agar harga fermentasi tersebut lebih murah dan terjangku buat petani,” harapnya.

 



AMLAPURA-Gubernur Bali Wayan Koster berharap, keberadaan minuman tradisional arak Bali bisa menyaingi produk minuman beralkohol luar negeri seperti Sake dan lainnya.

 

Dengan begitu, Koster optimistis, minuman lokal arak Bali bisa menjadi “raja” di negeri sendiri.

 

Harapan Wayan Koster agar arak Bali bisa bersaing dengan produk mikol luar negeri itu, sebagaimana disampaikan saat bertemu dengan petani arak “Gumi Lahar” Karangasem di Restauran La Grande Desa Ababi, Kabupaten Karangasem, Senin (21/9).

 

Menurutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terus berupaya agar arak mampu bersaing secara sehat.

 

Salah satu upaya pemprov itu, yakni dengan dukungan regulasi untuk melegalkan produk arak dan produk lokal lainnya seperti tuak dan brem melalui Pergub Bali No 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan Destilasi Khas Bali.

 

“Proses keluarnya (Pergub Bali 1/2020) ini tidaklah mudah. Namun melalui perjuangan keras dengan merubah Perpres (Peraturan Presiden),”katanya.

Baca Juga:  Jembrana Rawan Pencurian, Polres Gelar Operasi dengan Sandiā€¦

 

Ditambahkan, peraturan (Pergub) sengaja dibuat untuk membantu petani arak.

 

Sehingga dengan Pergub, kata Koster, para petani arak bisa lebih terlindungi dan bisa dengan tenang melakukan produksi.

 

“Tentu kedepan diharapkan arak mampu meningkatkan potensi masyarakat. Karena di Desa banyak pohon jaka atau enao serta kelapa yang bisa menjadi sumber tanaman arak. Arak Bali itu riil beredar di masyarakat dan bisa membantu secara perekonomian,” ujarnya.

 

Selain itu, kata Koster, produk-produk seperti tuak, arak, dan brem selalu digunakan untuk upacara di Bali untuk sarana Tetabuhan.  

 

“Kita alam Bali dianugrahi sumber daya alam berupa pohon enao dan kelapa yang tumbuh subur dan menghasilkan tuak serta arak,” ujarnya.

 

Sementara itu, menanggapi paparan gubernur, salah satu perwakilan petani Arak asal Sidemen I Ketut Sudarma mengaku sangat beterima kasih kepada Gubernur Koster karena telah membantu petani arak dalam hal pemasaran.

Baca Juga:  Banser dan Pecalang Amankan Galungan, Wujud Indahnya Toleransi di Bali

 

Temasuk soal legalisasi minumal tradisional beralkohol khas Bali. “Saat ini petani arak merasa lebih terlindungi,” ujarnya.

 

Kata Sudarma, sebelum adanya Pergub, petani arak kerap kucing-kucingan dengan aparat kepolisian agar bisa menjual produksinya tersebut.

Padahal arak merupakan mata pencaharian utama warga di beberapa tempat di Karangasem.

Dari hasil produksi arak, warga bisa menyekolahkan anak -anaknya dan juga membantu secara ekonomi.

 

Kedepan, Sudarma berharap gubernur bisa membantu petani untuk menekan harga alat fermentasi untuk memproduksi arak. Saat ini harga alat tersebut sekitar Rp 3 juta, dan hal ini bagi petani arak masih terlalu mahal.

 

“Kami berharap pak Gubernur bisa membantu kami agar harga fermentasi tersebut lebih murah dan terjangku buat petani,” harapnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/