alexametrics
23.7 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Lama Tinggal 7 Hari, Karantina 5 Hari, PHRI: Tidak Worth It

DENPASAR – Dengan longgarnya kegiatan masyarakat saat ini karena sudah turunnya level pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) aktivitas di Bali sudah mulai bergeliat. Ketua PHRI Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mengaku sudah ada peningkatan kedatangan wisatawan domestik yang mencapai 10 ribu orang. 

 

Akan tetapi, untuk wisatawan mancanegara, Rai Suryawijaya mengakui masih kosong meski penerbangan internasional sudah dibuka selama sepekan ini. Ia pun mengungkap bahwa karantina yang terlalu lama menjadi penyebabnya.

 

“Minggu ini ada perubahan level 2. Sudah mulai wisatawan domestik bahkan mencapai 10 ribu lagi. Jumat Sabtu Minggu kita pertahankan. Jangan sampai isunya itu kan blunder kembali yang lama pakai PCR bukan antigen. Vaksin dua kali cukup antigen,” ucap Suryawijaya, Rabu (20/10).

 

Menurutnya, harus konsisten dan kepastian mengenai pariwisata karena wisatawan akan memperhitungkan keuangannya saat datang ke Bali. Dari mencari hotel dan makanan serta memenuhi syarat perjalanan. 

- Advertisement -

 

Terkait wisman yang belum ada “bau-bau” kedatangan, Suryawijaya mengatakan, itu karena masih melihat masa karantina yang terlalu panjang. Karantina menjadi tantangan karena negara yang diajak kerjasama ada 19 negara rata-rata memiliki lama tinggal (length of stay) satu minggu atau 7 hari, sedangkan lama karantina 5 hari.

Baca Juga:  RS dan Puskesmas Rawat Inap Dibangun Berdekatan, Ini Dalih Diskes...

 

“Kalau mereka karantina lima hari tentu tidak worth it (setimpal). Jadi, efektif (berwisata) hanya dua hari,” kata Suryawijaya.

 

Sebagai ketua PHRI juga ketua Badan Promosi Pariwisata, Suryawijaya mengaku sudah mengusulkan ke Gubernur dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terkait kendala ini.

 

Untuk usulan dengan waktu karantina bila tak ingin tanpa karantina, lanjut Suryawijaya, bisa dipangkas waktu karantina misalnya tiga hari. Di hari keempat diperiksa kalau hasilnya negatif sehingga dipersilakan mengunjungi tempat wisata serta belanja ke tempat oleh-oleh.

 

“Sehingga semua hidup, mereka belanja. Itu yang saya usulkan mungkin sedang dipertimbangkan, awalnya (lama karantina) delapan (hari) turun ke lima (hari) dan belum ada respons perkembangkan wisatawan khususnya mancanegara,” kata dia.

 

Jika ternyata pemberlakuan karantina selama lima hari ini tidak ada perkembangan signifikan, dia yakin pasti akan dievaluasi.

Baca Juga:  Bikin Mewek, Nenek Renta Rawat Cucu Difabel Seorang Diri

“Bila perlu tanpa karantina. Yang penting penerapan protokol kesehatan dengan disiplin yang ketat,” usulnya.

Suryawijaya menyatakan, tanpa karantina pun, sejatinya syarat ke Bali sudah cukup ketat. Sebelum wisman berangkat ke Bali sudah mengisi EHAC, memasang aplikasi PeduliLindungi dan Love Bali, juga sudah vaksin lengkap dan tes Swab PCR negatif.

Tidak itu saja, sebelum berangkat pun wisman mesti pesan hotel dan wajib ada asuransi untuk meng-cover kalau ada Covid-19. Bahkan, sampai di Bali juga diperiksa kesehatan melalui prosedur Imigrasi. Selain itu dilakukan swab PCR lagi ketika baru tiba di Bali.

 

“Kalau dari negaranya negatif (Covid-19) dan di sini (Bali) negatif kenapa mengkarantina orang negatif. Yang dikarantina yang positif walau tanpa gejala ini harus dipahami berarti tidak percaya dengan hasil PCR kita. Dibandingkan wisdom sampai di Bali tidak ada karantina dan negara yang diajak kerja sama adalah yang berisiko rendah, ” jelasnya.

- Advertisement -

DENPASAR – Dengan longgarnya kegiatan masyarakat saat ini karena sudah turunnya level pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) aktivitas di Bali sudah mulai bergeliat. Ketua PHRI Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mengaku sudah ada peningkatan kedatangan wisatawan domestik yang mencapai 10 ribu orang. 

 

Akan tetapi, untuk wisatawan mancanegara, Rai Suryawijaya mengakui masih kosong meski penerbangan internasional sudah dibuka selama sepekan ini. Ia pun mengungkap bahwa karantina yang terlalu lama menjadi penyebabnya.

 

“Minggu ini ada perubahan level 2. Sudah mulai wisatawan domestik bahkan mencapai 10 ribu lagi. Jumat Sabtu Minggu kita pertahankan. Jangan sampai isunya itu kan blunder kembali yang lama pakai PCR bukan antigen. Vaksin dua kali cukup antigen,” ucap Suryawijaya, Rabu (20/10).

 

Menurutnya, harus konsisten dan kepastian mengenai pariwisata karena wisatawan akan memperhitungkan keuangannya saat datang ke Bali. Dari mencari hotel dan makanan serta memenuhi syarat perjalanan. 

 

Terkait wisman yang belum ada “bau-bau” kedatangan, Suryawijaya mengatakan, itu karena masih melihat masa karantina yang terlalu panjang. Karantina menjadi tantangan karena negara yang diajak kerjasama ada 19 negara rata-rata memiliki lama tinggal (length of stay) satu minggu atau 7 hari, sedangkan lama karantina 5 hari.

Baca Juga:  Mesin Bermasalah, KMP Trisaksi Elfina Mogok di Selat Bali

 

“Kalau mereka karantina lima hari tentu tidak worth it (setimpal). Jadi, efektif (berwisata) hanya dua hari,” kata Suryawijaya.

 

Sebagai ketua PHRI juga ketua Badan Promosi Pariwisata, Suryawijaya mengaku sudah mengusulkan ke Gubernur dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terkait kendala ini.

 

Untuk usulan dengan waktu karantina bila tak ingin tanpa karantina, lanjut Suryawijaya, bisa dipangkas waktu karantina misalnya tiga hari. Di hari keempat diperiksa kalau hasilnya negatif sehingga dipersilakan mengunjungi tempat wisata serta belanja ke tempat oleh-oleh.

 

“Sehingga semua hidup, mereka belanja. Itu yang saya usulkan mungkin sedang dipertimbangkan, awalnya (lama karantina) delapan (hari) turun ke lima (hari) dan belum ada respons perkembangkan wisatawan khususnya mancanegara,” kata dia.

 

Jika ternyata pemberlakuan karantina selama lima hari ini tidak ada perkembangan signifikan, dia yakin pasti akan dievaluasi.

Baca Juga:  DUH GUSTI! Main Perempuan, BK "Warning" Oknum Anggota DPRD Jembrana

“Bila perlu tanpa karantina. Yang penting penerapan protokol kesehatan dengan disiplin yang ketat,” usulnya.

Suryawijaya menyatakan, tanpa karantina pun, sejatinya syarat ke Bali sudah cukup ketat. Sebelum wisman berangkat ke Bali sudah mengisi EHAC, memasang aplikasi PeduliLindungi dan Love Bali, juga sudah vaksin lengkap dan tes Swab PCR negatif.

Tidak itu saja, sebelum berangkat pun wisman mesti pesan hotel dan wajib ada asuransi untuk meng-cover kalau ada Covid-19. Bahkan, sampai di Bali juga diperiksa kesehatan melalui prosedur Imigrasi. Selain itu dilakukan swab PCR lagi ketika baru tiba di Bali.

 

“Kalau dari negaranya negatif (Covid-19) dan di sini (Bali) negatif kenapa mengkarantina orang negatif. Yang dikarantina yang positif walau tanpa gejala ini harus dipahami berarti tidak percaya dengan hasil PCR kita. Dibandingkan wisdom sampai di Bali tidak ada karantina dan negara yang diajak kerja sama adalah yang berisiko rendah, ” jelasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/