alexametrics
27.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Bencana Masih Mengintai, Sehari Empat Pohon Tumbang

SINGARAJA– Warga Buleleng harus ekstra waspada pada musim penghujan ini. Sebab bencana alam masih mengintai. Tak hanya banjir dan tanah longsor, musibah pohon tumbang juga rentan terjadi.

 

Seperti yang terjadi pada Sabtu (20/11). Hujan yang disertai angin kencang, memicu musibah pohon tumbang di beberapa titik. Dalam waktu beberapa jam saja, dilaporkan ada empat titik pohon tumbang di Buleleng.

 

Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang mulai mengguyur Kabupaten Buleleng sekitar pukul 13.00 siang. Hujan berlangsung cukup lama. Curah hujan baru berkurang pada pukul 15.30 sore.

 

Pada pukul 14.30 siang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng menerima laporan pohon tumbang. Titik pertama adalah di Jalan Raya Seririt-Pupuan, tepatnya di sisi timur Setra Desa Adat Rangdu.

Beberapa menit berselang, BPBD Buleleng kembali menerima laporan terjadinya pohon tumbang. Yakni di Desa Kalianget. Berturut-turut kemudian terjadi pohon tumbang di Desa Dencarik. Seluruhnya menutup akses Jalan Raya Singaraja-Seririt. Dalam kurun waktu beberapa jam saja, ada empat pohon yang tumbang di 3 titik lokasi.

 

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, pohon asem yang tumbang di Desa Rangdu, akarnya sudah busuk sehingga mudah tumbang saat angin kencang.

 

Sementara di sepanjang Jalan Raya Singaraja-Denpasar, pohon yang tumbang adalah pohon suar. Pohon itu menjadi tanaman perindang jalan. Ariadi menduga pohon tidak kuat menahan terpaan air.

 

Pohon yang tumbang rata-rata memiliki diameter 60 centimeter hingga 100 centimeter. Sementara tingginya lebih dari 12 meter.

 

Lantaran terjadi hampir bersamaan, pihaknya harus membersihkan secara bertahap. “Harus kami kerjakan dari Dencarik dulu, kemudian ke Kalianget, baru ke Rangdu. Karena jalur utama tertutup semua. Ada 16 orang personel yang kami turunkan,” kata Ariadi.

 

Ariadi mengatakan pihaknya sudah berupaya melakukan langkah pencegahan. Salah satunya dengan pemangkasan pohon perindang secara bertahap. Hanya saja proses pemangkasan baru sampai di wilayah Desa Temukus. Sementara pohon perindang yang rawan tumbang tersebar di seluruh jalur protokol.

 

“Kami berupaya melakukan pemangkasan bertahap. Tiap hari kami dan DLH melakukan pemangkasan. Mudah-mudahan bisa kami tuntaskan dalam beberapa minggu mendatang,” demikian Ariadi. 



SINGARAJA– Warga Buleleng harus ekstra waspada pada musim penghujan ini. Sebab bencana alam masih mengintai. Tak hanya banjir dan tanah longsor, musibah pohon tumbang juga rentan terjadi.

 

Seperti yang terjadi pada Sabtu (20/11). Hujan yang disertai angin kencang, memicu musibah pohon tumbang di beberapa titik. Dalam waktu beberapa jam saja, dilaporkan ada empat titik pohon tumbang di Buleleng.

 

Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang mulai mengguyur Kabupaten Buleleng sekitar pukul 13.00 siang. Hujan berlangsung cukup lama. Curah hujan baru berkurang pada pukul 15.30 sore.

 

Pada pukul 14.30 siang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng menerima laporan pohon tumbang. Titik pertama adalah di Jalan Raya Seririt-Pupuan, tepatnya di sisi timur Setra Desa Adat Rangdu.

Beberapa menit berselang, BPBD Buleleng kembali menerima laporan terjadinya pohon tumbang. Yakni di Desa Kalianget. Berturut-turut kemudian terjadi pohon tumbang di Desa Dencarik. Seluruhnya menutup akses Jalan Raya Singaraja-Seririt. Dalam kurun waktu beberapa jam saja, ada empat pohon yang tumbang di 3 titik lokasi.

 

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, pohon asem yang tumbang di Desa Rangdu, akarnya sudah busuk sehingga mudah tumbang saat angin kencang.

 

Sementara di sepanjang Jalan Raya Singaraja-Denpasar, pohon yang tumbang adalah pohon suar. Pohon itu menjadi tanaman perindang jalan. Ariadi menduga pohon tidak kuat menahan terpaan air.

 

Pohon yang tumbang rata-rata memiliki diameter 60 centimeter hingga 100 centimeter. Sementara tingginya lebih dari 12 meter.

 

Lantaran terjadi hampir bersamaan, pihaknya harus membersihkan secara bertahap. “Harus kami kerjakan dari Dencarik dulu, kemudian ke Kalianget, baru ke Rangdu. Karena jalur utama tertutup semua. Ada 16 orang personel yang kami turunkan,” kata Ariadi.

 

Ariadi mengatakan pihaknya sudah berupaya melakukan langkah pencegahan. Salah satunya dengan pemangkasan pohon perindang secara bertahap. Hanya saja proses pemangkasan baru sampai di wilayah Desa Temukus. Sementara pohon perindang yang rawan tumbang tersebar di seluruh jalur protokol.

 

“Kami berupaya melakukan pemangkasan bertahap. Tiap hari kami dan DLH melakukan pemangkasan. Mudah-mudahan bisa kami tuntaskan dalam beberapa minggu mendatang,” demikian Ariadi. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/