alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Soal Sampradaya, Wisnu Bawa Tenaya: Pelan-Pelan Kita Beri Pencerahan

AMLAPURA – Setelah sukses menggelar Mahasabha XII di Hotel Sultan, Jakarta pada akhir Oktober lalu, Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDI Pusat) Masa Bhakti 2021-2026 melaksakan upacara mejaya-jaya di Pura Agung Besakih pada Saniscara Kliwon, Wuku Kuningan yang jatuh pada Sabtu (20/11). Upacara tersebut dipuput lima sulinggih sekaligus. 

 

Mejaya-jaya sendiri adalah kegiatan pelantikan secara niskala (agama) yang bertujuan untuk memohon restu dan waranugraha kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kepengurusan PHDI Pusat dalam waktu lima tahun ke depan dapat berjalan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan melalui hasil Mahasabha XII PHDI.

 

Upacara mejaya-jaya ini diikuti kurang lebih empat puluh orang pengurus PHDI pusat. “Upacara mejaya-jaya ini dilaksanakna sesuai dresta Bali,” kata Ketua Umum PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.

 

Upacara ini lanjut Wisnu, sesuai semangat  PHDI untuk menghormati, menjaga, merawat, dan melaksanakan tradisi warisan leluhur. Karena upacara dilakukan di Bali tentu disesuaikan dengan dresta Bali. “Ini adalah bukti keragaman Hindu yang menjadikan Hindu kaya tradisi sekaligus indah karena dilandasi semangat toleransi,” imbuhnya.

Baca Juga:  Bangunan Kampus Politeknik KKP Molor, Nasib 75 Taruna Terkatung-katung

 

Mantan Pangdam IX/Udayana ini berpesan agar umat Hindu senantiasa menjunjung persatuan dan kesatuan, ibarat seperti sapu lidi agar menjadi kuat menghadapi berbagai tantangan keumatan. Ia menyatakan bahwa perbedaan adalah keniscayaan oleh karenanya harus diterima dengan prinsip-prinsip saling menghormati, mengharhai, dan toleransi.

Pria yang akrab disapa WBT tersebut mengingatkan bahwa Pancasila adalah perasan dari kearifan masyarakat Indonesia dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika adalah bersumber dari spirit ajaran Hindu, sehingga umat Hindu seharusnya dapat menjadi contoh dan teladan dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Setelah Mahasabha berakhir, melalui upacara mejaya-jaya dengan menghaturkan bakti kepada Sang Hyang Widi Warsa diharapkan apa yang menjadi program PHDI ke depan bisa berjalan lancar, aman dan damai.

Baca Juga:  Terus Beredar Luas, Video Siswi Digilir Empat Siswa Minta Di-Take Down

“Kami mengajak semua umat seluruh Indonesia. Ayo sama-sama bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Jadi rapatkan barisan. Inget kawitan, bisama, sulinggih dan pandita kita,” pintanya.

 

Sementara itu disinggung soal tuduhan PHDI yang juga menaungi ajaran-ajaran sampradaya dan sejenisnya dan ditentang umat Hindu, mantan Danjen Kopasus ini menanggapi santai. Kata dia dalam kehidupan ini selalu ada pro dan kontra.

“Celebingkah beten biu, gumi linggah ajak liu. Ada kene ada keto. Pelan-pelan kami berikan pencerahan. Mari kita tumbuhkan kesadaran sebagai umat manusia. Di momen Kuningan ini ayo kita berdoa bersama intropeksi diri masing-masing,” tandasnya.

Namun, WBT tidak menjelaskan lebih lanjut siapa yang akan diberikan pencerahan. Apakah mereka yang menolak adanya sampradaya asing yang saat ini terjadi, khususnya di Bali, atau sebaliknya pencerahan kepada  kalangan sampradaya asing.


AMLAPURA – Setelah sukses menggelar Mahasabha XII di Hotel Sultan, Jakarta pada akhir Oktober lalu, Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDI Pusat) Masa Bhakti 2021-2026 melaksakan upacara mejaya-jaya di Pura Agung Besakih pada Saniscara Kliwon, Wuku Kuningan yang jatuh pada Sabtu (20/11). Upacara tersebut dipuput lima sulinggih sekaligus. 

 

Mejaya-jaya sendiri adalah kegiatan pelantikan secara niskala (agama) yang bertujuan untuk memohon restu dan waranugraha kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kepengurusan PHDI Pusat dalam waktu lima tahun ke depan dapat berjalan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan melalui hasil Mahasabha XII PHDI.

 

Upacara mejaya-jaya ini diikuti kurang lebih empat puluh orang pengurus PHDI pusat. “Upacara mejaya-jaya ini dilaksanakna sesuai dresta Bali,” kata Ketua Umum PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.

 

Upacara ini lanjut Wisnu, sesuai semangat  PHDI untuk menghormati, menjaga, merawat, dan melaksanakan tradisi warisan leluhur. Karena upacara dilakukan di Bali tentu disesuaikan dengan dresta Bali. “Ini adalah bukti keragaman Hindu yang menjadikan Hindu kaya tradisi sekaligus indah karena dilandasi semangat toleransi,” imbuhnya.

Baca Juga:  Mahasiswa Demo DPRD Buleleng Soroti BBM, Migor, hingga Pertemuan G-20

 

Mantan Pangdam IX/Udayana ini berpesan agar umat Hindu senantiasa menjunjung persatuan dan kesatuan, ibarat seperti sapu lidi agar menjadi kuat menghadapi berbagai tantangan keumatan. Ia menyatakan bahwa perbedaan adalah keniscayaan oleh karenanya harus diterima dengan prinsip-prinsip saling menghormati, mengharhai, dan toleransi.

Pria yang akrab disapa WBT tersebut mengingatkan bahwa Pancasila adalah perasan dari kearifan masyarakat Indonesia dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika adalah bersumber dari spirit ajaran Hindu, sehingga umat Hindu seharusnya dapat menjadi contoh dan teladan dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Setelah Mahasabha berakhir, melalui upacara mejaya-jaya dengan menghaturkan bakti kepada Sang Hyang Widi Warsa diharapkan apa yang menjadi program PHDI ke depan bisa berjalan lancar, aman dan damai.

Baca Juga:  Evaluasi PAD, Alihkan ke Sektor Kesehatan, Pendidikan dan Pangan

“Kami mengajak semua umat seluruh Indonesia. Ayo sama-sama bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Jadi rapatkan barisan. Inget kawitan, bisama, sulinggih dan pandita kita,” pintanya.

 

Sementara itu disinggung soal tuduhan PHDI yang juga menaungi ajaran-ajaran sampradaya dan sejenisnya dan ditentang umat Hindu, mantan Danjen Kopasus ini menanggapi santai. Kata dia dalam kehidupan ini selalu ada pro dan kontra.

“Celebingkah beten biu, gumi linggah ajak liu. Ada kene ada keto. Pelan-pelan kami berikan pencerahan. Mari kita tumbuhkan kesadaran sebagai umat manusia. Di momen Kuningan ini ayo kita berdoa bersama intropeksi diri masing-masing,” tandasnya.

Namun, WBT tidak menjelaskan lebih lanjut siapa yang akan diberikan pencerahan. Apakah mereka yang menolak adanya sampradaya asing yang saat ini terjadi, khususnya di Bali, atau sebaliknya pencerahan kepada  kalangan sampradaya asing.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/