alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Selebaran Penolakan Sulinggih Picu Polemik, Ida Pandita Bilang…

GIANYAR – Prosesi upacara Ngenteg Linggih yang akan berlangsung Maret 2019 di Pura Desa Pakraman Perangsada, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh menuai masalah.

Masalah mencuat setelah munculnya selebaran yang tidak setuju atas keterlibatan Ida Pandita Mpu Wyasa Dhaksa Manuaba dari desa setempat.

Beruntung polemik tidak sampai meluas, karena Rabu malam (19/12) bendesa minta maaf dan berakhir damai.

Sementara itu, Ida Pandita Mpu Wyaksa Dhaksa Manuaba mengaku punya kewajiban untuk memaafkan siapapun.

“Pasti dan patut memaafkan,” jelasnya. Terkait permasalahannya, diakui bermula dari perencanaan pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih Pura Desa Pakraman Perangsada beberapa waktu lalu.

Dalam beberapa kali rapat, Ida Pandita pernah mengutarakan niatnya untuk ikut ngayah. Hanya saja, ditanggapi berbeda oleh krama hingga muncul penolakan agar tidak menggunakan Ida Pandita untuk muput.

Baca Juga:  Masuk Meja Hijau, PHDI Sebut Status Kesulinggihan Bisa Dicabut

“Padahal, tiang menyatakan ingin ngayah, tidak musti muput. Dan itu sudah tiang terima. Lalu, muncul masalah ketika ada surat pernyataan itu (selebaran, red),” terang Pandita Mpu Wyaksa Dhaksa Manuaba.

Terpenting baginya, polemik ini sudah berakhir damai. Pihaknya pun berharap, pelaksanaan karya bisa berjalan lancar.

Sementara itu, Pelaksana Harian PHDI Kabupaten Gianyar, I Wayan Patra mengatakan polemik selebaran itu sudah menemui titik temu.

“Sudah ada perdamaian. Terpenting saat ini adalah tindak lanjut dari perdamaian itu agar direalisasikan, sehingga

Kedepan menyama braya tetap kompak,” ujarnya. Pertemuan kemarin selanjutnya ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ida Pandita. 



GIANYAR – Prosesi upacara Ngenteg Linggih yang akan berlangsung Maret 2019 di Pura Desa Pakraman Perangsada, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh menuai masalah.

Masalah mencuat setelah munculnya selebaran yang tidak setuju atas keterlibatan Ida Pandita Mpu Wyasa Dhaksa Manuaba dari desa setempat.

Beruntung polemik tidak sampai meluas, karena Rabu malam (19/12) bendesa minta maaf dan berakhir damai.

Sementara itu, Ida Pandita Mpu Wyaksa Dhaksa Manuaba mengaku punya kewajiban untuk memaafkan siapapun.

“Pasti dan patut memaafkan,” jelasnya. Terkait permasalahannya, diakui bermula dari perencanaan pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih Pura Desa Pakraman Perangsada beberapa waktu lalu.

Dalam beberapa kali rapat, Ida Pandita pernah mengutarakan niatnya untuk ikut ngayah. Hanya saja, ditanggapi berbeda oleh krama hingga muncul penolakan agar tidak menggunakan Ida Pandita untuk muput.

Baca Juga:  Libur Sekolah dan Nataru Berbarengan, Gilimanuk Padat Merayap

“Padahal, tiang menyatakan ingin ngayah, tidak musti muput. Dan itu sudah tiang terima. Lalu, muncul masalah ketika ada surat pernyataan itu (selebaran, red),” terang Pandita Mpu Wyaksa Dhaksa Manuaba.

Terpenting baginya, polemik ini sudah berakhir damai. Pihaknya pun berharap, pelaksanaan karya bisa berjalan lancar.

Sementara itu, Pelaksana Harian PHDI Kabupaten Gianyar, I Wayan Patra mengatakan polemik selebaran itu sudah menemui titik temu.

“Sudah ada perdamaian. Terpenting saat ini adalah tindak lanjut dari perdamaian itu agar direalisasikan, sehingga

Kedepan menyama braya tetap kompak,” ujarnya. Pertemuan kemarin selanjutnya ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ida Pandita. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/