alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Seniman Senior Drama Gong Meninggal Dunia

SEMARAPURA- Seniman senior drama gong, Anak Agung Gede Rai Kalam, asal Puri Satria Kawan, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung berpulang. Almarhum meninggal di usianya yang ke-82 tahun, Senin (20/12) sekitar pukul 10.00.

 

Sebelum berpulang, ayah lima orang anak itu beberapa kali masuk rumah sakit lantaran komplikasi diabetes yang diidapnya sejak lama.

 

Saat wartawan menyambangi kediaman Anak Agung Gede Rai Kalam, tampak jenazah seniman senior Bali itu berada di kamarnya dengan sejumlah keluarga mendampingi. Sementara kerabat lainnya tampak sedang menyiapkan prosesi upacara jenazah Rai Kalam sejak pukul 11.40. Rencananya kakek dari tujuh orang cucu itu akan dipelebon pada Kamis (23/12).

 

Salah seorang sepupu Rai Kalam, Anak Agung Gede Sayang saat ditemui di rumah duka menuturkan Rai Kalam meninggal dunia sekitar pukul 10.00. Pada saat itu, pihak keluarganya melihat Rai Kalam dalam kondisi yang lemah.

 

Pihak keluarga pun berinisiatif memastikan kondisi Rai Kalam melalui denyut nadi lengan pria empat orang cicit itu. “Waktu itu denyut nadinya lemah sekali. Kemudian kami memanggil petugas puskesmas untuk melakukan pengecekan. Setelah dicek, oleh petugas puskesmas dinyatakan sudah meninggal dunia,” terangnya.

Baca Juga:  Diguyur Hujan Lebat, Fasilitas di“Kampung Seni” Gianyar Banyak Rusak

 

Sebelum meninggal dunia, anak kedua Rai Kalam, Anak Agung Istri Oka Yuniari menambahkan kondisi kesehatan ayahnya kurang baik. Di mana pria yang berperan sebagai tokoh protagonis dalam Drama Gong itu beberapa kali sempat dirawat di rumah sakit karena komplikasi diabetes yang sudah lama dideritanya.

 

Bahkan sebulan yang lalu Rai Kalam dirawat di rumah sakit sekitar 8 hari karena penyakitnya itu. Dan sehari-hari, pria empat orang cicit itu hanya bisa terbaring di tempat tidur.

 

“Biasanya kalau ada siaran tinju, ajik (ayah, Red) minta dibawa keluar untuk menonton siaran tinju itu. Ajik saya memang suka dengan tinju, bulu tangkis,” bebernya.

 

Walau begitu, Rai Kalam yang aktif bermain drama gong sejak tahun 1960an itu masih bisa berkomunikasi dengan baik. Bahkan sehari sebelum meninggal dunia, Rai Kalam sempat meminta sang cucu, Gede Agus Ari Wijaya untuk mencukur dan memotong kukunya. “Kemarin masih bisa berbicara. Meminta dicukur dan potong kuku,” katanya.

 

Lebih lanjut diungkapkannya, mantan Kepala SD Negeri 2 Talibeng itu terakhir kali pentas saat penggalangan dana untuk Wayan Lodra yang juga merupakan seniman senior drama gong di Art Center Denpasar tahun 2015 lalu.

Baca Juga:  Ini Kisah Romeo and Juliet Ala Buleleng, Kritis dan Mengelitik…

 

Setelah itu, kondisi kesehatan Rai Kalam menurun dan kerap masuk rumah sakit. Sehingga tidak pernah lagi pentas dalam drama gong. “Tidak ada yang meneruskan menjadi pemain drama. Saya sempat ikut bermain drama namun karena diberikan pilihan serius bersekolah atau bermain drama, akhirnya saya pilih untuk serius bersekolah,” tandasnya.

 

Sementara itu, salah seorang seniman Kabupaten Klungkung, I Dewa Gede Alit Saputra mengungkapkan Rai Kalam sebagai sosok seniman drama gong kelas atas yang bersahaja. Ilmu yang dimiliki dibagi untuk menciptakan regenerasi drama gong. Tidak heran banyak seniman yang menjadikan Rai Kalam sebagai panutan.

 

Semangatnya untuk melestarikan seni pun patut diacungkan jempol. Sebab meski dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, ia masih menyempatkan diri untuk membina drama gong. “Terakhir saat PKB 2019, dalam kondisi sakit masih ikut mengantar pentas ke Art Center, bahkan ikut begadang sampai pukul 02.00,” ungkapnya.

 


SEMARAPURA- Seniman senior drama gong, Anak Agung Gede Rai Kalam, asal Puri Satria Kawan, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung berpulang. Almarhum meninggal di usianya yang ke-82 tahun, Senin (20/12) sekitar pukul 10.00.

 

Sebelum berpulang, ayah lima orang anak itu beberapa kali masuk rumah sakit lantaran komplikasi diabetes yang diidapnya sejak lama.

 

Saat wartawan menyambangi kediaman Anak Agung Gede Rai Kalam, tampak jenazah seniman senior Bali itu berada di kamarnya dengan sejumlah keluarga mendampingi. Sementara kerabat lainnya tampak sedang menyiapkan prosesi upacara jenazah Rai Kalam sejak pukul 11.40. Rencananya kakek dari tujuh orang cucu itu akan dipelebon pada Kamis (23/12).

 

Salah seorang sepupu Rai Kalam, Anak Agung Gede Sayang saat ditemui di rumah duka menuturkan Rai Kalam meninggal dunia sekitar pukul 10.00. Pada saat itu, pihak keluarganya melihat Rai Kalam dalam kondisi yang lemah.

 

Pihak keluarga pun berinisiatif memastikan kondisi Rai Kalam melalui denyut nadi lengan pria empat orang cicit itu. “Waktu itu denyut nadinya lemah sekali. Kemudian kami memanggil petugas puskesmas untuk melakukan pengecekan. Setelah dicek, oleh petugas puskesmas dinyatakan sudah meninggal dunia,” terangnya.

Baca Juga:  Diguyur Hujan Lebat, Fasilitas di“Kampung Seni” Gianyar Banyak Rusak

 

Sebelum meninggal dunia, anak kedua Rai Kalam, Anak Agung Istri Oka Yuniari menambahkan kondisi kesehatan ayahnya kurang baik. Di mana pria yang berperan sebagai tokoh protagonis dalam Drama Gong itu beberapa kali sempat dirawat di rumah sakit karena komplikasi diabetes yang sudah lama dideritanya.

 

Bahkan sebulan yang lalu Rai Kalam dirawat di rumah sakit sekitar 8 hari karena penyakitnya itu. Dan sehari-hari, pria empat orang cicit itu hanya bisa terbaring di tempat tidur.

 

“Biasanya kalau ada siaran tinju, ajik (ayah, Red) minta dibawa keluar untuk menonton siaran tinju itu. Ajik saya memang suka dengan tinju, bulu tangkis,” bebernya.

 

Walau begitu, Rai Kalam yang aktif bermain drama gong sejak tahun 1960an itu masih bisa berkomunikasi dengan baik. Bahkan sehari sebelum meninggal dunia, Rai Kalam sempat meminta sang cucu, Gede Agus Ari Wijaya untuk mencukur dan memotong kukunya. “Kemarin masih bisa berbicara. Meminta dicukur dan potong kuku,” katanya.

 

Lebih lanjut diungkapkannya, mantan Kepala SD Negeri 2 Talibeng itu terakhir kali pentas saat penggalangan dana untuk Wayan Lodra yang juga merupakan seniman senior drama gong di Art Center Denpasar tahun 2015 lalu.

Baca Juga:  Ini Kisah Romeo and Juliet Ala Buleleng, Kritis dan Mengelitik…

 

Setelah itu, kondisi kesehatan Rai Kalam menurun dan kerap masuk rumah sakit. Sehingga tidak pernah lagi pentas dalam drama gong. “Tidak ada yang meneruskan menjadi pemain drama. Saya sempat ikut bermain drama namun karena diberikan pilihan serius bersekolah atau bermain drama, akhirnya saya pilih untuk serius bersekolah,” tandasnya.

 

Sementara itu, salah seorang seniman Kabupaten Klungkung, I Dewa Gede Alit Saputra mengungkapkan Rai Kalam sebagai sosok seniman drama gong kelas atas yang bersahaja. Ilmu yang dimiliki dibagi untuk menciptakan regenerasi drama gong. Tidak heran banyak seniman yang menjadikan Rai Kalam sebagai panutan.

 

Semangatnya untuk melestarikan seni pun patut diacungkan jempol. Sebab meski dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, ia masih menyempatkan diri untuk membina drama gong. “Terakhir saat PKB 2019, dalam kondisi sakit masih ikut mengantar pentas ke Art Center, bahkan ikut begadang sampai pukul 02.00,” ungkapnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/