alexametrics
24.8 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

22 Kali Layangan Nyangkut, Listrik Padam, PLN Rugi Rp 250 Juta

GIANYAR – Musim layangan membuat Perusahaan Listrik Negara (PLN) diganggu layangan nyangkut. 

Berdasar data, gangguan listrik akibat layangan, sudah ada 22 layangan nyangkut. 11 gangguan terjadi pada Juni, disusul 11 gangguan pada Juli.

Gangguan akibat layangan itu dibenarkan oleh Manajer Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) Gianyar, Billy Ramadhana. 

Gangguan terbaru, terjadi di wilayah Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh. Akibatnya, wilayah Banjar Banda sempat padam pada Selasa (21/7).

Billy menyatakan, pemilik layangan tidak di lapor ke pihak berwajib. Namun, pihaknya akan segera membuat berita acara dengan Pecalang setempat untuk melakukan penertiban jika ada anak yang bermain layangan di dekat tiang listrik. 

Baca Juga:  Ada di Zona Kuning, Jembrana Masuk Zona Risiko Rendah Covid-19 di Bali

“Kami akan buatkan berita acara ke Pecalang yang ditandatangani oleh Pecalang, pemilik layangan, Kepala Desa, dan Bhabinkamtibmas setempat,” jelasnya.

Dia berharap, berita acara tersebut bisa memberikan edukasi bagi para rare angon atau pecinta layangan. 

“Tujuannya untuk menjadikan ini pelajaran dan supaya tidak terulang kembali,” jelas Billy Ramadhana.

Berdasar data yang dibeberkan PLN Area Gianyar, selama puluhan kali gangguan terjadi, mengganggu aliran listrik ke 31.870 pelanggan. 

Gangguan itu membuat 2365,67 kWh tidak tersalurkan. “Tetapi, jika gangguan layangan ini sering terjadi di jaringan, maka akan berpotensi merusakan peralatan distribusi kami,” imbuhnya.

Apabila dirupiahkan, jumlahnya tidak sebanding dengan harga layangan. “Jika dirupiahkan kurang lebih kerugiannya sekitar Rp 250 juta,” jelasnya.

Baca Juga:  BNPB: Tolong Jangan Ada Lagi yang Naik Puncak Gunung, Masih Bahaya

Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada pecinta layangan bisa memahami kondisi tersebut. “Kami imbau, masyarakat agar tidak bermain layang-layang di dekat jaringan listri,” pungkasnya. 

Sementara itu, I Wayan Sanjaya, mahasiswa asal Banjar Banda, Desa Saba, menjadi salah satu warga yang terdampak listrik padam akibat layangan. 

Padahal, Selasa kemarin, dia semestinya membuat tugas yang diberikan dosen secara daring. “Listriknya mati. Otomatis tugas juga ngadat dan sempat tertinggal beberapa menit,” keluhnya.

Untuk menyiasati hal itu, Sanjaya pun beralih melakukan daring dengan handphonenya. Sehingga ia bisa langsung melanjutkan pertemuan tersebut. 

“Untung baterai handpone masih isi setengah. Kalau tidak bisa ketinggalan membuat tugas dan pertemuan dengan dosen,” tukasnya.



GIANYAR – Musim layangan membuat Perusahaan Listrik Negara (PLN) diganggu layangan nyangkut. 

Berdasar data, gangguan listrik akibat layangan, sudah ada 22 layangan nyangkut. 11 gangguan terjadi pada Juni, disusul 11 gangguan pada Juli.

Gangguan akibat layangan itu dibenarkan oleh Manajer Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) Gianyar, Billy Ramadhana. 

Gangguan terbaru, terjadi di wilayah Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh. Akibatnya, wilayah Banjar Banda sempat padam pada Selasa (21/7).

Billy menyatakan, pemilik layangan tidak di lapor ke pihak berwajib. Namun, pihaknya akan segera membuat berita acara dengan Pecalang setempat untuk melakukan penertiban jika ada anak yang bermain layangan di dekat tiang listrik. 

Baca Juga:  Tercemar Limbah Hotel, Buleleng Genjot Normalisasi Sungai Kalibukbuk

“Kami akan buatkan berita acara ke Pecalang yang ditandatangani oleh Pecalang, pemilik layangan, Kepala Desa, dan Bhabinkamtibmas setempat,” jelasnya.

Dia berharap, berita acara tersebut bisa memberikan edukasi bagi para rare angon atau pecinta layangan. 

“Tujuannya untuk menjadikan ini pelajaran dan supaya tidak terulang kembali,” jelas Billy Ramadhana.

Berdasar data yang dibeberkan PLN Area Gianyar, selama puluhan kali gangguan terjadi, mengganggu aliran listrik ke 31.870 pelanggan. 

Gangguan itu membuat 2365,67 kWh tidak tersalurkan. “Tetapi, jika gangguan layangan ini sering terjadi di jaringan, maka akan berpotensi merusakan peralatan distribusi kami,” imbuhnya.

Apabila dirupiahkan, jumlahnya tidak sebanding dengan harga layangan. “Jika dirupiahkan kurang lebih kerugiannya sekitar Rp 250 juta,” jelasnya.

Baca Juga:  Ada di Zona Kuning, Jembrana Masuk Zona Risiko Rendah Covid-19 di Bali

Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada pecinta layangan bisa memahami kondisi tersebut. “Kami imbau, masyarakat agar tidak bermain layang-layang di dekat jaringan listri,” pungkasnya. 

Sementara itu, I Wayan Sanjaya, mahasiswa asal Banjar Banda, Desa Saba, menjadi salah satu warga yang terdampak listrik padam akibat layangan. 

Padahal, Selasa kemarin, dia semestinya membuat tugas yang diberikan dosen secara daring. “Listriknya mati. Otomatis tugas juga ngadat dan sempat tertinggal beberapa menit,” keluhnya.

Untuk menyiasati hal itu, Sanjaya pun beralih melakukan daring dengan handphonenya. Sehingga ia bisa langsung melanjutkan pertemuan tersebut. 

“Untung baterai handpone masih isi setengah. Kalau tidak bisa ketinggalan membuat tugas dan pertemuan dengan dosen,” tukasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/