alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Porang di Tabanan Melimpah, Petani Porang Todong Bupati Bangun Pabrik

TABANAN – Bertani porang akhir-akhir ini dengan memanfaatkan lahan tidur semakin berkembang di Tabanan. Dan berpeluang menjadi pertanian baru di Tabanan.

 

Meski telah berkembang di Tabanan banyak petani porang yang ada di Tabanan berharap adanya pabrik pengolahan porang di Bali. Sehingga hasil komoditas porang tidak hanya sebagai pemenuhan pasokan pabrik porang untuk luar Bali. Melainkan pula di Bali sendiri.

 

Itulah yang diharapkan oleh Kelompok Tani Porang Sari, di Banjar Nyuh Gading, Desa Mundeh, Kecamatan Selemadeg Barat.

 

Wayan Gede Budiana selaku Ketua Kelompok Tani Porang Sari pun menodong Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya membangun pabrik pengolakan.

- Advertisement -

 

Dia sangat berharap kepada pemerintah Tabanan membangun pabrik apalagi banyak warga Tabanan yang kini mulai menanam porang. Kemudian juga lantaran produksi pertanian porang yang mulai melimpah.

 

“Ke depannya Pemda Daerah bisa memfasilitasi soal pabrik pengolahan porang. Sehingga hasil produksi porang dari petani terjadi kestabilan harga. Tidak hanya sampai di tengkulak. Selain itu adanya pabrik pengolahan porang juga petani tak perlu repot saat menjual porang,” ungkap Wayan Gde Budiana, saat panen perdana porang, Sabtu (20/8/2021).

 

Untuk harga jual saat ini tergantung dari jenis porang. Porang dengan jenis katak isian 150-200 harganya bisa mencapai Rp 350.000 per kilogramnya. Namun jenis biasa harga jual Rp 8-10 ribu per kilogramnya.

Baca Juga:  Anak Jalanan Lolos ke Bali Tanpa Vaksin, Gilimanuk Kembali Diperketat

 

Budiana mengaku sejauh ini di desanya ada sekitar 24 Hektar lahan telah disiapkan oleh kelompok untuk penanaman porang. Dimana kini sedang proses penggarapan lahan.

 

Masyarakat termotivasi menanam porang. Selain melihat dari nilai ekonomis, juga mudah cara menanam porang. Karena dalam masa penanamannya tidak terpengaruh keterbatasan wilayah. Jarak tanam hanya sekitar 30-40 cm, namun hasil yang maksimal bisa kita rasakan.

 

“Kami saat ini terkendala utama dalam pembudidayaan dan pada proses pengolahan tanah. Karena sama sekali tidak melibatkan penggunaan teknologi, meskipun total sudah 1 juta lebih bibit tertanam di lahan seluas 24 Hektar tersebut,” ungkapnya.

 

Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perkumpulan petani penggiat porang nusantara (P3N) Tabanan Putu Yasa Muncul mengaku kembali menggeliat pertanian porang di Tabanan ditengah pandemi Covid-19.

 

Setelah dibukanya keran pasar ekspor dan tingginya untuk kebutuhan ekspor keluar negeri. Karena tanaman porang tidak hanya digunakan sebagai bahan makanan, melainkan juga sebagai bahan kosmetik, bahan lem dan bahan makanan lainnya.

 

“Nah di Tabanan saat ini petani menanam porang sudah merata. Namun terbesar masih tanaman porang berada di Kecamatan Selemadeg Barat mencapai puluhan hektar. Sisanya berada di Selemadeg, Selemadeg Timur, Pupuan, Kerambitan dan Baturiti. Sementara untuk wilayah perkotaan Tabanan karena lahan sempit tanaman porang sangat sedikit,” ungkapnya.

Baca Juga:  Dari Kerja Kasino di Singapura hingga Bertahun-tahun di Kapal Pesiar

 

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya yang juga ikut panen perdana porang bersama kelompok Tani Porang Sari, di Banjar Nyuh Gading, Desa Mundeh mengatakan tanaman porang termasuk dalam jenis umbi-umbian.

 

Tanaman porang yang baru-baru ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah dan Menteri Pertanian, lantaran memiliki manfaat utama sebagai bahan baku pembuatan tepung konjak yang terkenal sebagai bahan utama olahan shirataki.

 

Selain itu, kadar karbohidrat dalam porang yang lebih sedikit dan pembudidayaannya yang mudah, membuat tanaman ini menjadi komoditas baru yang relatif menjanjikan.

 

“Porang ini suatu tumbuhan yang menjanjikan. Mudah-mudahan di Desa Mundeh, tanaman ini bisa dikembangkan secara serius,” kata Sanjaya.

Soal pabrik pengolahan baru berada di daerah Buleleng. Sisanya berada diluar Bali. Pabrik-pabrikan pengolahan ini bisa dimanfaatkan petani porang untuk memasukkan hasil pertanian mereka. Sebelum terbangunnya pabrik di Bali.

 

“Kami berharap petani data memanfaatkan pabrik yang ada dan memperkuat hasil produksi kualitas porang,” pungkasnya.

- Advertisement -

TABANAN – Bertani porang akhir-akhir ini dengan memanfaatkan lahan tidur semakin berkembang di Tabanan. Dan berpeluang menjadi pertanian baru di Tabanan.

 

Meski telah berkembang di Tabanan banyak petani porang yang ada di Tabanan berharap adanya pabrik pengolahan porang di Bali. Sehingga hasil komoditas porang tidak hanya sebagai pemenuhan pasokan pabrik porang untuk luar Bali. Melainkan pula di Bali sendiri.

 

Itulah yang diharapkan oleh Kelompok Tani Porang Sari, di Banjar Nyuh Gading, Desa Mundeh, Kecamatan Selemadeg Barat.

 

Wayan Gede Budiana selaku Ketua Kelompok Tani Porang Sari pun menodong Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya membangun pabrik pengolakan.

 

Dia sangat berharap kepada pemerintah Tabanan membangun pabrik apalagi banyak warga Tabanan yang kini mulai menanam porang. Kemudian juga lantaran produksi pertanian porang yang mulai melimpah.

 

“Ke depannya Pemda Daerah bisa memfasilitasi soal pabrik pengolahan porang. Sehingga hasil produksi porang dari petani terjadi kestabilan harga. Tidak hanya sampai di tengkulak. Selain itu adanya pabrik pengolahan porang juga petani tak perlu repot saat menjual porang,” ungkap Wayan Gde Budiana, saat panen perdana porang, Sabtu (20/8/2021).

 

Untuk harga jual saat ini tergantung dari jenis porang. Porang dengan jenis katak isian 150-200 harganya bisa mencapai Rp 350.000 per kilogramnya. Namun jenis biasa harga jual Rp 8-10 ribu per kilogramnya.

Baca Juga:  Kasus Positif Hasil Rapid Test di Pelabuhan Gilimanuk Meningkat Tajam

 

Budiana mengaku sejauh ini di desanya ada sekitar 24 Hektar lahan telah disiapkan oleh kelompok untuk penanaman porang. Dimana kini sedang proses penggarapan lahan.

 

Masyarakat termotivasi menanam porang. Selain melihat dari nilai ekonomis, juga mudah cara menanam porang. Karena dalam masa penanamannya tidak terpengaruh keterbatasan wilayah. Jarak tanam hanya sekitar 30-40 cm, namun hasil yang maksimal bisa kita rasakan.

 

“Kami saat ini terkendala utama dalam pembudidayaan dan pada proses pengolahan tanah. Karena sama sekali tidak melibatkan penggunaan teknologi, meskipun total sudah 1 juta lebih bibit tertanam di lahan seluas 24 Hektar tersebut,” ungkapnya.

 

Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perkumpulan petani penggiat porang nusantara (P3N) Tabanan Putu Yasa Muncul mengaku kembali menggeliat pertanian porang di Tabanan ditengah pandemi Covid-19.

 

Setelah dibukanya keran pasar ekspor dan tingginya untuk kebutuhan ekspor keluar negeri. Karena tanaman porang tidak hanya digunakan sebagai bahan makanan, melainkan juga sebagai bahan kosmetik, bahan lem dan bahan makanan lainnya.

 

“Nah di Tabanan saat ini petani menanam porang sudah merata. Namun terbesar masih tanaman porang berada di Kecamatan Selemadeg Barat mencapai puluhan hektar. Sisanya berada di Selemadeg, Selemadeg Timur, Pupuan, Kerambitan dan Baturiti. Sementara untuk wilayah perkotaan Tabanan karena lahan sempit tanaman porang sangat sedikit,” ungkapnya.

Baca Juga:  Foto Bugil Tersebar di WA dan IG Sendiri karena Lupa Hapus Akun di HP

 

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya yang juga ikut panen perdana porang bersama kelompok Tani Porang Sari, di Banjar Nyuh Gading, Desa Mundeh mengatakan tanaman porang termasuk dalam jenis umbi-umbian.

 

Tanaman porang yang baru-baru ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah dan Menteri Pertanian, lantaran memiliki manfaat utama sebagai bahan baku pembuatan tepung konjak yang terkenal sebagai bahan utama olahan shirataki.

 

Selain itu, kadar karbohidrat dalam porang yang lebih sedikit dan pembudidayaannya yang mudah, membuat tanaman ini menjadi komoditas baru yang relatif menjanjikan.

 

“Porang ini suatu tumbuhan yang menjanjikan. Mudah-mudahan di Desa Mundeh, tanaman ini bisa dikembangkan secara serius,” kata Sanjaya.

Soal pabrik pengolahan baru berada di daerah Buleleng. Sisanya berada diluar Bali. Pabrik-pabrikan pengolahan ini bisa dimanfaatkan petani porang untuk memasukkan hasil pertanian mereka. Sebelum terbangunnya pabrik di Bali.

 

“Kami berharap petani data memanfaatkan pabrik yang ada dan memperkuat hasil produksi kualitas porang,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/