alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Terpaksa Tidur di Atas Truk untuk Pantau Hewan Ternak di Kampung

RadarBali.com—Arus pengungsi terus terjadi. Mereka terpaksa mengungsi karena ada imbauan dari pihak terkait untuk meninggalkan kampong halaman menghindari erupsi Gunung Agung.

Sayangnya, kondisi para pengungsi belum tertangani dengan baik. Seperti di Rendang, misalnya. Pengungsi di Banjar Kelod, Rendang, yangberasal dari Yeh He, Selat, terpaksa tinggal di balai banjar kecil dan berdesak desakan.

Ada sekitar 50 orang dalam gedung tersebut dengan MCK terbatas. Sementara bantuan makanan seperti dapur umum atau nasi bungkus belum mereka terima. 

Hal ini diakui salah satu warga Pande Sudiana. “Kalau dari pemerintah belum ada bantuan,” ujar Pande dengan tatapan kosong.

Baca Juga:  Banyak Jembatan di Jalan Denpasar-Gilimanuk Hampir Berusia Seabad

Hanya saja dia mengaku mendapat perhatian dari warga sekitar. Bahkan dia juga mendapat sumbangan air mineral dan kue.

Yang kasihan, mulai ada pengungsi yang sakit sejak masuk kamp pengungsian dua hari lalu. Mereka sedikit stres karena panik.

Para pengungsi mengaku terpaksa mengungsi karena intensitas gempa di lereng Gunung Agung kian intensif.

Warga Yeh He pun mengaku terpaksa meninggalkan rumah dan menjual hewan ternaknya dengan murah.

Babi, misalnya, kalau lagi aman dia jual Rp 25 ribu per kilo, sekarang dijual Rp 20 ribu per kilo. Itupun sulit menjualnya.

Yang lebih memrihatinkan lagi pengungsi asal Pura, Selat. Mereka mengungsi di lapangan Rendang. Namun mereka tidur diatas truk yang di pasang terpal.

Baca Juga:  135 Warga Asing di Buleleng Kantongi e-KTP, Begini Dalih Disdukcapil

Mereka tidur dan masak disana. Bahkan di antaranya juga mengajak anak anak kecil. Untuk MCK mereka pinjam di SDN 2 Randang.

Diketahui, truk itu milik Wayan Sumerta. “Saya mengungsi diatas truk karena tidak tahu harus kemana. Sekalian antisipasi kalau ada apa-apa bisa kabur duluan,” ujar Kadek Anggreni, salah satu pengungsi.

Menurut Kadek, selain terpaksa, dia dan suami harus sering-sering pulang ke kampung untuk memasak sekaligus melihat ternaknya.

Karena tinggal di atas truk, daya tahan anaknya mulai turun. “Mulai batuk,” katanya. Oleh penglingsir desa, dia diminta kos.

“Tapi, saya tidak punya uang untukkos,”katanya



RadarBali.com—Arus pengungsi terus terjadi. Mereka terpaksa mengungsi karena ada imbauan dari pihak terkait untuk meninggalkan kampong halaman menghindari erupsi Gunung Agung.

Sayangnya, kondisi para pengungsi belum tertangani dengan baik. Seperti di Rendang, misalnya. Pengungsi di Banjar Kelod, Rendang, yangberasal dari Yeh He, Selat, terpaksa tinggal di balai banjar kecil dan berdesak desakan.

Ada sekitar 50 orang dalam gedung tersebut dengan MCK terbatas. Sementara bantuan makanan seperti dapur umum atau nasi bungkus belum mereka terima. 

Hal ini diakui salah satu warga Pande Sudiana. “Kalau dari pemerintah belum ada bantuan,” ujar Pande dengan tatapan kosong.

Baca Juga:  Ini Dasar Pertimbangan Bandara Ngurah Rai Kembali Ditutup Total

Hanya saja dia mengaku mendapat perhatian dari warga sekitar. Bahkan dia juga mendapat sumbangan air mineral dan kue.

Yang kasihan, mulai ada pengungsi yang sakit sejak masuk kamp pengungsian dua hari lalu. Mereka sedikit stres karena panik.

Para pengungsi mengaku terpaksa mengungsi karena intensitas gempa di lereng Gunung Agung kian intensif.

Warga Yeh He pun mengaku terpaksa meninggalkan rumah dan menjual hewan ternaknya dengan murah.

Babi, misalnya, kalau lagi aman dia jual Rp 25 ribu per kilo, sekarang dijual Rp 20 ribu per kilo. Itupun sulit menjualnya.

Yang lebih memrihatinkan lagi pengungsi asal Pura, Selat. Mereka mengungsi di lapangan Rendang. Namun mereka tidur diatas truk yang di pasang terpal.

Baca Juga:  Tolong… Stok LPG Pos Pengungsi Desa Menanga Habis

Mereka tidur dan masak disana. Bahkan di antaranya juga mengajak anak anak kecil. Untuk MCK mereka pinjam di SDN 2 Randang.

Diketahui, truk itu milik Wayan Sumerta. “Saya mengungsi diatas truk karena tidak tahu harus kemana. Sekalian antisipasi kalau ada apa-apa bisa kabur duluan,” ujar Kadek Anggreni, salah satu pengungsi.

Menurut Kadek, selain terpaksa, dia dan suami harus sering-sering pulang ke kampung untuk memasak sekaligus melihat ternaknya.

Karena tinggal di atas truk, daya tahan anaknya mulai turun. “Mulai batuk,” katanya. Oleh penglingsir desa, dia diminta kos.

“Tapi, saya tidak punya uang untukkos,”katanya


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/