alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Hi…Hi…Roh Orok Tanpa Kepala Dititip di Laut, Beri Kesempatan Si Ibu…

NEGARA – Krama Desa Pakraman Kertha Jaya, Pendem, Negara akhirnya memutuskan untuk mengupacarai orok yang ditemukan tanpa kepala sekitar tiga tahun lalu.

Sebagaimana diberitakan, pada Selasa, 27 Januari 2015 silam malam warga lingkungan Dewasana, Pendem, dikagetkan oleh penemuan orok perempuan yang kondisinya mengenaskan di salah satu pekarangan warga.

Bagian kepala dan perut orok malang yang diduga hasil hubungan gelap itu hilang dan diduga di makan anjing.

Polres Jembrana sudah berusaha mengerahkan daya dan upaya untuk menungkap siapa ibu atau pelaku yang membuang orok itu.

Namun, hingga kini kasusnya masih gelap. Oleh warga, orok yang oleh warga Desa Pekraman Kertha Jaya diberi nama Mawar itu kemudian dikubur di setra (kuburan) setempat.

Baca Juga:  Raih 19 Kursi DPRD, PDIP Buleleng Diprediksi Kuasai Parlemen

Setelah tiga tahun lebih dan kasusnya tidak kunjung terungkap, Krama Desa Pekraman kemudian menggelar paruman (rapat) dan diputuskan untuk mengupacari orok malang yang diduga hasil aoborsi itu.

Menurut Bendesa Pekraman Kertha Jaya, Pendem, I Wayan Diandra, prosesi upacara ngelungah itu diawali dengan ngangkid (membongkar) kuburan orok tersebut yang dilakukan kemarin pagi.

Setelah upacara ngangkid, jasad Mawar kemudian diangkat lalu dipindahkan untuk dititip sementara di Setra Desa Pakraman Sangkaragung, Jembrana.

Kemudian Senin (24/9) besok akan dilakukan prosesi penjemputan di Setra Sangkaragung untuk dibawa ke lokasi pengabenan masal/kolektif di tersebut untuk diikutkan upacara ngelungah.

Upacara ngelunggah untuk Mawar itu dilaksanakan pada Selasa (25/9) di Desa Sangkaragung.”Orok itu akan diikutkan upacara ngelungah.

Baca Juga:  WASPADA! Angin Berembus Kencang, Lahan Kering di Tujuh Lokasi Terbakar

Tetapi prosesinya hanya sampai pada nganyud atau menitipkan roh di segara (laut) atau tidak sampai tingkatan ngelinggihang,” ungkapnya.

Tujuanya kata Diandra, untuk memberikan kesempatan kepada ibu yang membuang orok itu menjemput roh anaknya di pantai  jika ingin melakukan prosesi selanjutnya sampai ngelinggihan.

“Tidak mungkin ibu bayi itu berani muncul terang-terangan untuk melakukan prosesi upacara. Jika berani muncul jelas akan ditangkap polisi,” terangnya.(



NEGARA – Krama Desa Pakraman Kertha Jaya, Pendem, Negara akhirnya memutuskan untuk mengupacarai orok yang ditemukan tanpa kepala sekitar tiga tahun lalu.

Sebagaimana diberitakan, pada Selasa, 27 Januari 2015 silam malam warga lingkungan Dewasana, Pendem, dikagetkan oleh penemuan orok perempuan yang kondisinya mengenaskan di salah satu pekarangan warga.

Bagian kepala dan perut orok malang yang diduga hasil hubungan gelap itu hilang dan diduga di makan anjing.

Polres Jembrana sudah berusaha mengerahkan daya dan upaya untuk menungkap siapa ibu atau pelaku yang membuang orok itu.

Namun, hingga kini kasusnya masih gelap. Oleh warga, orok yang oleh warga Desa Pekraman Kertha Jaya diberi nama Mawar itu kemudian dikubur di setra (kuburan) setempat.

Baca Juga:  TERKUAK! Oknum Polisi Pemeras Turis Jepang Itu Anggota Polres Jembrana

Setelah tiga tahun lebih dan kasusnya tidak kunjung terungkap, Krama Desa Pekraman kemudian menggelar paruman (rapat) dan diputuskan untuk mengupacari orok malang yang diduga hasil aoborsi itu.

Menurut Bendesa Pekraman Kertha Jaya, Pendem, I Wayan Diandra, prosesi upacara ngelungah itu diawali dengan ngangkid (membongkar) kuburan orok tersebut yang dilakukan kemarin pagi.

Setelah upacara ngangkid, jasad Mawar kemudian diangkat lalu dipindahkan untuk dititip sementara di Setra Desa Pakraman Sangkaragung, Jembrana.

Kemudian Senin (24/9) besok akan dilakukan prosesi penjemputan di Setra Sangkaragung untuk dibawa ke lokasi pengabenan masal/kolektif di tersebut untuk diikutkan upacara ngelungah.

Upacara ngelunggah untuk Mawar itu dilaksanakan pada Selasa (25/9) di Desa Sangkaragung.”Orok itu akan diikutkan upacara ngelungah.

Baca Juga:  Badah, Curi Uang dan Main Judi Togel, Dua Oknum PNS Jembrana Diadili

Tetapi prosesinya hanya sampai pada nganyud atau menitipkan roh di segara (laut) atau tidak sampai tingkatan ngelinggihang,” ungkapnya.

Tujuanya kata Diandra, untuk memberikan kesempatan kepada ibu yang membuang orok itu menjemput roh anaknya di pantai  jika ingin melakukan prosesi selanjutnya sampai ngelinggihan.

“Tidak mungkin ibu bayi itu berani muncul terang-terangan untuk melakukan prosesi upacara. Jika berani muncul jelas akan ditangkap polisi,” terangnya.(


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/