alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Miris! Puluhan Warga Kurang Mampu dan Cacat Masih Ditemukan di Tembuku

BANGLI-Sebanyak 20 krama atau warga kurang mampu dan penyandang disabilitas (cacat) masih ditemukan di Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.

 

Puluhan penyandang disabilitas ini hidup dengan kondisi keterbatasan dan memprihatinkan.

 

Selain menderita cacat tubuh secara permanen akibat stroke dan polio. Ada juga dari mereka yang mengalami gangguan kejiwaan saat dewasa dan gangguan gagal tumbuh atau stunting/ kerdil akibat kurangnya asupan gizi.

 

Mirisnya kondisi para penyandang disabilitas dan warga kurang mampu di Tembuku ini sebagaimana diungkap tim relawan anggota DPR RI I Wayan Sudirta saat melaksanakan aksi Turba (Turun ke Bawah), Kamis (22/10).

 

Saat aksi Turba yang digelar dari sejak 14-22 Oktober 2020, tim relawan Sudirta bersama relawan KORdEM Demokrasi Bali menyerahkan bantuan/bingkisan tali asih bagi warga kurang mampu dan penyandang disabilitas secara door to door.

 

Saat penyerahan bingkisan tali asih berupa beras dan uang saku di Tembuku, I Wayan Sudirta diwakili tiga relawannya, yakni Putu Wirata Dwikora, Nyoman Sutaya, dan Wayan Laksana.

 

Sejumlah tempat yang sempat disambangi tim relawan Sudirta, itu diantaranya meliputi Banjar Penaga, Banjar Sideparna, Banjar Kubusuih di  Desa Yangapi dan Desa Landih, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. 

Baca Juga:  Rektor UNHI Negeri GBS Komitmen Terima Mahasiswa Disabilitas di Bali

 

 

Sedangkan puluhan penyandang disabilitas yang disambangi, yakni diantaranya I Nengah Aristana, 26; Luh Putu Deviyanti, 10 (keduanya merupakan penderita abnormal akibat sering mengalami step/kejang sejak balita); Ni Ketut Sukri, 30; dan Ni Wayan Widiani (keduanya merupakan penderita gangguan kejiwaan)  

 

‘’Mereka ini memang warga kami di Tembuku, yang datanya telah direkap oleh relawan dan juga kepala dusun di sini,’’ terang Wayan Laksana, yang juga kader PDI Perjuangan di Bangli.

 

Selian keempat penderita disabilitas diatas, imbuh Laksana, ada juga warga penyandang cacat lainnya, yakni Nengah  Seranta, Nengah Nganti, Made Sareng, I Ketut Sonteng, I Wayan Penpen. Kelima warga yang kini sudah berusia diatas 60 tahun itu hanya bisa terbaring dan duduk akibat mengalami stroke akut.

 

Kemudian, kondisi lebih memprihatinkan lagi yakni dialami Ni Ketut Latri. Saat dijenguk di rumahnya, perempuan ini tidak bisa duduk tegak, dan hanya bisa terbaring akibat tubuhnya kaku.

 

Untuk beraktifitas seperti ke kamar mandi dan lainnya, Latri harus merayap dengan posisi tengadah.

 

Hampir senasib dengan Latri, masih di pekarangan rumah yang sama, kakaknya, I Made Selamat, 50, juga hidup dalam kondisi memprihatinkan akibat mengalami cacat fisik akibat serangan polio sejak kecil.

Baca Juga:  Pancasila Diusulkan Jadi ‘’Kitab Suci Kebangsaan’’

 

Meski dalam kondisi cacat fisik, Selamat masih tetap bekerja seperti menyabit rumput untuk pakan ternak dengan bantuan tongkat.

 

‘’Saya hanya menyabit, nanti anak-anak saya yang mengangkutnya ke kandang. Saya bekerja semampunya, untuk menghidupi keluarga,’’ kata Made Selamat, didampingi dua anak lelakinya yang sudah remaja.

 

Sementara itu, terkait kondisi para penyandang disabilitas di Bangli, Anggota DPR RI Dapil Bali Wayan Sudirta saat dikonfirmasi menyampaikan rasa keprihatinanya.

 

Ia berharap, dengan bantuan/ bingkisan tali asih yang diserahkan melalui tim relawan itu dapat membantu.

“Meskipun nilainya kecil dan tidak seberapa, mudah-mudahan tali asih ini bisa menjadi doa sekaligus dukungan moral bagi mereka (para penyandang disabilitas) dan keluarga yang merawatnya,”harap Sudirta.

 

Selain itu, dengan masih ditemukannya warga kurang mampu dan penyandang disabilitas, pihaknya juga mendorong agar pemerintah perlu serius membuat program bantuan sosial untuk warga cacat ini, karena mereka benar-benar membutuhkan pertolongan.

 

“Apalagi, konstitusi menyatakan bahwa fakir miskin dipelihara oleh Negara,”tukasnya.

 



BANGLI-Sebanyak 20 krama atau warga kurang mampu dan penyandang disabilitas (cacat) masih ditemukan di Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.

 

Puluhan penyandang disabilitas ini hidup dengan kondisi keterbatasan dan memprihatinkan.

 

Selain menderita cacat tubuh secara permanen akibat stroke dan polio. Ada juga dari mereka yang mengalami gangguan kejiwaan saat dewasa dan gangguan gagal tumbuh atau stunting/ kerdil akibat kurangnya asupan gizi.

 

Mirisnya kondisi para penyandang disabilitas dan warga kurang mampu di Tembuku ini sebagaimana diungkap tim relawan anggota DPR RI I Wayan Sudirta saat melaksanakan aksi Turba (Turun ke Bawah), Kamis (22/10).

 

Saat aksi Turba yang digelar dari sejak 14-22 Oktober 2020, tim relawan Sudirta bersama relawan KORdEM Demokrasi Bali menyerahkan bantuan/bingkisan tali asih bagi warga kurang mampu dan penyandang disabilitas secara door to door.

 

Saat penyerahan bingkisan tali asih berupa beras dan uang saku di Tembuku, I Wayan Sudirta diwakili tiga relawannya, yakni Putu Wirata Dwikora, Nyoman Sutaya, dan Wayan Laksana.

 

Sejumlah tempat yang sempat disambangi tim relawan Sudirta, itu diantaranya meliputi Banjar Penaga, Banjar Sideparna, Banjar Kubusuih di  Desa Yangapi dan Desa Landih, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. 

Baca Juga:  Sudirta "Bakar" Semangat Kader Banteng untuk Menangkan Dana-Dipa

 

 

Sedangkan puluhan penyandang disabilitas yang disambangi, yakni diantaranya I Nengah Aristana, 26; Luh Putu Deviyanti, 10 (keduanya merupakan penderita abnormal akibat sering mengalami step/kejang sejak balita); Ni Ketut Sukri, 30; dan Ni Wayan Widiani (keduanya merupakan penderita gangguan kejiwaan)  

 

‘’Mereka ini memang warga kami di Tembuku, yang datanya telah direkap oleh relawan dan juga kepala dusun di sini,’’ terang Wayan Laksana, yang juga kader PDI Perjuangan di Bangli.

 

Selian keempat penderita disabilitas diatas, imbuh Laksana, ada juga warga penyandang cacat lainnya, yakni Nengah  Seranta, Nengah Nganti, Made Sareng, I Ketut Sonteng, I Wayan Penpen. Kelima warga yang kini sudah berusia diatas 60 tahun itu hanya bisa terbaring dan duduk akibat mengalami stroke akut.

 

Kemudian, kondisi lebih memprihatinkan lagi yakni dialami Ni Ketut Latri. Saat dijenguk di rumahnya, perempuan ini tidak bisa duduk tegak, dan hanya bisa terbaring akibat tubuhnya kaku.

 

Untuk beraktifitas seperti ke kamar mandi dan lainnya, Latri harus merayap dengan posisi tengadah.

 

Hampir senasib dengan Latri, masih di pekarangan rumah yang sama, kakaknya, I Made Selamat, 50, juga hidup dalam kondisi memprihatinkan akibat mengalami cacat fisik akibat serangan polio sejak kecil.

Baca Juga:  Wayan Sudirta Terpilih Aklamasi Jadi Ketua Alumni Lemhanas

 

Meski dalam kondisi cacat fisik, Selamat masih tetap bekerja seperti menyabit rumput untuk pakan ternak dengan bantuan tongkat.

 

‘’Saya hanya menyabit, nanti anak-anak saya yang mengangkutnya ke kandang. Saya bekerja semampunya, untuk menghidupi keluarga,’’ kata Made Selamat, didampingi dua anak lelakinya yang sudah remaja.

 

Sementara itu, terkait kondisi para penyandang disabilitas di Bangli, Anggota DPR RI Dapil Bali Wayan Sudirta saat dikonfirmasi menyampaikan rasa keprihatinanya.

 

Ia berharap, dengan bantuan/ bingkisan tali asih yang diserahkan melalui tim relawan itu dapat membantu.

“Meskipun nilainya kecil dan tidak seberapa, mudah-mudahan tali asih ini bisa menjadi doa sekaligus dukungan moral bagi mereka (para penyandang disabilitas) dan keluarga yang merawatnya,”harap Sudirta.

 

Selain itu, dengan masih ditemukannya warga kurang mampu dan penyandang disabilitas, pihaknya juga mendorong agar pemerintah perlu serius membuat program bantuan sosial untuk warga cacat ini, karena mereka benar-benar membutuhkan pertolongan.

 

“Apalagi, konstitusi menyatakan bahwa fakir miskin dipelihara oleh Negara,”tukasnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/