alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Drone ATS Sukses Tuntaskan Misi Terbangi Kawah, Hasilnya Mengejutkan…

RadarBali.com – Setelah beberapa kali gagal terbang karena gangguan mesin, akhirnya drone milik tim Aero Terrasscan (ATS) sukses memotret kawah Gunung Agung kemarin, beberapa jam sebelum terjadi erupsi.

Pada penerbangan kemarin dilakukan pukul 08.00 Wita dengan membawa sensor asap dan juga kamera pengintai.

Penerbangan dilakukan dari Lapangan Umum Selat, Karangasem. Membawa sensor gas memang merupakan misi baru ATS bersama dengan PVMBG.

Misi ini berhasil setelah modem pesawat yang awalnya diletakkan luar. di pindah ke bagian dalam.

“Awalnya saat terbang pertama modem memang di dalam, namun karena mengganggu sensor makanya di letakkan di luar. Kendalanya, mesin cepat panas,” ujar pilot drone, Dirgantara Purnama dari ATS kemarin.

Solusi agar sensor tidak terganggu adalah dengan cara membungkusnya dengan plastik bekas snack. Sensor gas yang dibawa di antaranya adalah sensor SO2 atau sulfur.

Baca Juga:  Menikah di Pengungsian, Dwipayana: Hanya Bawa Banten, Lupa Sandal

Untuk misi selanjutnya, sensor gas akan digantikan dengan H2S. “Untuk kandungan SO2 masih dianalisis, secara umum masih di atas ambang batas normal,” bebernya.

Untuk diketahui, sensor gas tersebut bersifat multi. Ada tiga sensor  gas yang dibawa yakni H2O, CO2 dan SO2.

Caranya, drone yang naik pada ketinggian 3.400 mdpl melakukan terbang menembus fluida atau asap di puncak kawah Gunung Agung.

“Kemarin drone empat kali menembus fluida,” ujar Ugan Saing, staf PVMBG yang ikut dalam misi tersebut.

Sistemnya, multi gas mengambil udara atau asap disekitar kawah melalui pompa dengan cara menyedotnya. Gas yang masuk kemudian di analisa di masing masing sensor yang dibawa drone.

Tiga sensor tersebut bisa mengenali tiga jenis gas berbeda. Kemudian semua data di simpan di logger yang tersimpan di bagian sensor.

Baca Juga:  Pemutihan Piutang di RSUD Buleleng Bisa Dihapus Setelah Ada Audit BPK

Saat pesawat landing, alat tersebut akan diambil dan hasilnya dalam bentuk file akan di download.

Untuk pengambilan sampel H2S harus dilakukan secara berbeda, tidak boleh dilakukan bersamaan. Makanya akan dilakukan penerbangan kembali dengan pesawat yang sama.

Apakah Gunung Agung menghasilkan gas berbahaya? Menurut Ugan, iya. Karena itu, warga di lereng gunung harus menghindar.  “Biasanya, gas berbahaya itu hanya ada di puncak saja,” bebernya



RadarBali.com – Setelah beberapa kali gagal terbang karena gangguan mesin, akhirnya drone milik tim Aero Terrasscan (ATS) sukses memotret kawah Gunung Agung kemarin, beberapa jam sebelum terjadi erupsi.

Pada penerbangan kemarin dilakukan pukul 08.00 Wita dengan membawa sensor asap dan juga kamera pengintai.

Penerbangan dilakukan dari Lapangan Umum Selat, Karangasem. Membawa sensor gas memang merupakan misi baru ATS bersama dengan PVMBG.

Misi ini berhasil setelah modem pesawat yang awalnya diletakkan luar. di pindah ke bagian dalam.

“Awalnya saat terbang pertama modem memang di dalam, namun karena mengganggu sensor makanya di letakkan di luar. Kendalanya, mesin cepat panas,” ujar pilot drone, Dirgantara Purnama dari ATS kemarin.

Solusi agar sensor tidak terganggu adalah dengan cara membungkusnya dengan plastik bekas snack. Sensor gas yang dibawa di antaranya adalah sensor SO2 atau sulfur.

Baca Juga:  Viral, Pria tanpa Identitas Tendang Sesajen di Gunung Semeru

Untuk misi selanjutnya, sensor gas akan digantikan dengan H2S. “Untuk kandungan SO2 masih dianalisis, secara umum masih di atas ambang batas normal,” bebernya.

Untuk diketahui, sensor gas tersebut bersifat multi. Ada tiga sensor  gas yang dibawa yakni H2O, CO2 dan SO2.

Caranya, drone yang naik pada ketinggian 3.400 mdpl melakukan terbang menembus fluida atau asap di puncak kawah Gunung Agung.

“Kemarin drone empat kali menembus fluida,” ujar Ugan Saing, staf PVMBG yang ikut dalam misi tersebut.

Sistemnya, multi gas mengambil udara atau asap disekitar kawah melalui pompa dengan cara menyedotnya. Gas yang masuk kemudian di analisa di masing masing sensor yang dibawa drone.

Tiga sensor tersebut bisa mengenali tiga jenis gas berbeda. Kemudian semua data di simpan di logger yang tersimpan di bagian sensor.

Baca Juga:  Terus Kosongkan Zona Bahaya, Evakuasi Paksa Pengungsi Jika Menolak

Saat pesawat landing, alat tersebut akan diambil dan hasilnya dalam bentuk file akan di download.

Untuk pengambilan sampel H2S harus dilakukan secara berbeda, tidak boleh dilakukan bersamaan. Makanya akan dilakukan penerbangan kembali dengan pesawat yang sama.

Apakah Gunung Agung menghasilkan gas berbahaya? Menurut Ugan, iya. Karena itu, warga di lereng gunung harus menghindar.  “Biasanya, gas berbahaya itu hanya ada di puncak saja,” bebernya


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/