alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Pandemi Tak Kunjung Mereda, Angka Kemiskinan di Buleleng Meningkat

SINGARAJA – Angka kemiskinan di Kabupaten Buleleng mengalami peningkatan. Pandemi ditengarai menjadi salah satu pemicu naiknya angka kemiskinan.

Meski terjadi kenaikan angka masyarakat miskin, tingkat daya beli masyarakat disebut mengalami peningkatan.

Fakta itu diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) Buleleng. Selain melakukan sensus penduduk pada tahun 2020 lalu, BPS juga melakukan penelusuran tingkat kemiskinan penduduk di Kabupaten Buleleng.

Mengacu data BPS Buleleng, tingkat kemiskinan di Buleleng kini menjadi 5,32 persen. Naik sebanyak 0,13 persen bila dibandingkan pada tahun 2019 lalu yang mencapai 5,19 persen.

Bila dilihat secara angka riil, jumlah masyarakat miskin pada tahun 2019 lalu sebanyak 34.260 jiwa. Sementara pada tahun 2020 ini, masyarakat miskin di Buleleng menjadi 35.250 jiwa.

Baca Juga:  Pencairan BLT Bagi Warga Terdampak Covid-19 Diundur

Kepala BPS Buleleng Made Bimbo Abdi Suardika menyebutkan, dari sisi angka, memang terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin di Buleleng.

Namun, setelah dilakukan penelusuran lebih dalam, terjadi perubahan indkes pada parameter kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan.

Dengan kata lain, kemampuan daya beli masyarakat miskin kini mengalami peningkatan. “Misalnya dulu dia rata-rata hanya bisa belanja Rp 100 ribu sebulan. Sekarang sudah bisa belanja Rp 300 ribu sebulan. Memang masih kategori miskin, tapi kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya,” kata Bimbo.

Lebih lanjut Bimbo mengatakan, salah satu faktor pemicu meningkatnya angka kemiskinan di Buleleng adalah kondisi pandemi covid-19.

Menurutnya, pemerintah pusat memang baru memutuskan Indonesia masuk kondisi pandemi pada awal Maret 2020 lalu.

Baca Juga:  Ekonomi Terpuruk, Turis Tiongkok Buka Peluang Segera Liburan ke Bali

Namun masyarakat Buleleng, terutama yang bekerja di sektor pariwisata, sudah merasakan dampaknya sejak akhir 2019.

“Karena sejak itu jumlah wisatawan sudah turun. Terutama yang dari Tiongkok. Sehingga mulai berpengaruh pada pendapatan masyarakat,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Buleleng I Putu Kariaman Putra tak menampik kondisi tersebut. Menurut Kariaman, pandemi memang sangat berdampak pada kondisi kemiskinan.

Cukup banyak masyarakat kehilangan pendapatan dan akhirnya masuk kategori masyarakat rentan miskin.

Kariaman mengaku pihaknya tetap mengupayakan bantuan pada masyarakat yang terdampak covid.

“Pemerintah pusat sampai desa kan sudah meluncurkan program jaring pengaman sosial. Macam-macam programnya.

Dari bantuan sembako sampai bantuan tunai. Kami harap ini bisa mencegah angka kemiskinan naik lebih tinggi lagi,” papar Kariaman. 



SINGARAJA – Angka kemiskinan di Kabupaten Buleleng mengalami peningkatan. Pandemi ditengarai menjadi salah satu pemicu naiknya angka kemiskinan.

Meski terjadi kenaikan angka masyarakat miskin, tingkat daya beli masyarakat disebut mengalami peningkatan.

Fakta itu diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) Buleleng. Selain melakukan sensus penduduk pada tahun 2020 lalu, BPS juga melakukan penelusuran tingkat kemiskinan penduduk di Kabupaten Buleleng.

Mengacu data BPS Buleleng, tingkat kemiskinan di Buleleng kini menjadi 5,32 persen. Naik sebanyak 0,13 persen bila dibandingkan pada tahun 2019 lalu yang mencapai 5,19 persen.

Bila dilihat secara angka riil, jumlah masyarakat miskin pada tahun 2019 lalu sebanyak 34.260 jiwa. Sementara pada tahun 2020 ini, masyarakat miskin di Buleleng menjadi 35.250 jiwa.

Baca Juga:  Waspada! Seluruh Kecamatan di Klungkung Berpotensi Tanah Longsor

Kepala BPS Buleleng Made Bimbo Abdi Suardika menyebutkan, dari sisi angka, memang terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin di Buleleng.

Namun, setelah dilakukan penelusuran lebih dalam, terjadi perubahan indkes pada parameter kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan.

Dengan kata lain, kemampuan daya beli masyarakat miskin kini mengalami peningkatan. “Misalnya dulu dia rata-rata hanya bisa belanja Rp 100 ribu sebulan. Sekarang sudah bisa belanja Rp 300 ribu sebulan. Memang masih kategori miskin, tapi kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya,” kata Bimbo.

Lebih lanjut Bimbo mengatakan, salah satu faktor pemicu meningkatnya angka kemiskinan di Buleleng adalah kondisi pandemi covid-19.

Menurutnya, pemerintah pusat memang baru memutuskan Indonesia masuk kondisi pandemi pada awal Maret 2020 lalu.

Baca Juga:  Eks Gedung Tabanan Teater Terbakar, Diduga Karena…

Namun masyarakat Buleleng, terutama yang bekerja di sektor pariwisata, sudah merasakan dampaknya sejak akhir 2019.

“Karena sejak itu jumlah wisatawan sudah turun. Terutama yang dari Tiongkok. Sehingga mulai berpengaruh pada pendapatan masyarakat,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Buleleng I Putu Kariaman Putra tak menampik kondisi tersebut. Menurut Kariaman, pandemi memang sangat berdampak pada kondisi kemiskinan.

Cukup banyak masyarakat kehilangan pendapatan dan akhirnya masuk kategori masyarakat rentan miskin.

Kariaman mengaku pihaknya tetap mengupayakan bantuan pada masyarakat yang terdampak covid.

“Pemerintah pusat sampai desa kan sudah meluncurkan program jaring pengaman sosial. Macam-macam programnya.

Dari bantuan sembako sampai bantuan tunai. Kami harap ini bisa mencegah angka kemiskinan naik lebih tinggi lagi,” papar Kariaman. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/