alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Pemuda Desa Kumpulkan Sampah Plastik, Jadi Bahan Karya Seni Instalasi

TABANAN – Jengah dengan kondisi banyaknya kiriman sampah di pantai sejumlah pemuda di Desa Pangkungtibah, Kediri Tabanan, Bali, bergerak untuk memunguti sampah. Sampah-sampah itu kemudian dibuat dalam karya instalasi seni. 

 

Sampah-sampah yang mereka pungut dikumpulkan sementara waktu sebagai bahan yang nanti diolah dijadikan karya seni instalasi. 

 

Sejumlah anak muda Desa Pangkungtibah yang mengumpulkan sampah plastik, kayu dan karet itu tergabung dalam Komunitas SOS.

 

Anggota Komunitas SOS I Gede Oka Astawa mengaku memungut sampah-sampah kiriman di pantai yang menumpuk lalu kemudian dikumpulkan sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2015. 

- Advertisement -

 

Akan tetapi kembali dilakukan tahun 2022 ini karena prihatin melihat kondisi yang ada. Sampah banyak menumpuk di pantai tak ada yang membersihkan. Tampak jorok, apalagi pantai di Desa Pangkungtibah kerap kali dikunjungi warga. 

 

“Mulai kemarin lagi kami bergerak membersihkan sampah laut. Jadi ini saya inisiatif mandiri dan kawan-kawan pemuda, karena di desa tidak ada tukang bersih pantai, ketimbang duduk-duduk di pantai, mendingan bersihkan sampah plastik. Akhirnya ada beberapa pemuda yang peduli melihat kondisi tersebut sehingga mereka ikut terlibat,” kata Oka, dihubungi (22/1)

Baca Juga:  Dampak Cuaca Ekstrem, Hanya Sepekan, Ada Empat Bencana Alam di Tabanan

 

Sampah-sampah pantai yang dipungut ini sebanyak-banyaknya, nanti sebagai bahan yang dibuat karya instalasi seni. 

 

“Saya mau bikin karya seni instalasi tulisan SOS sesuai nama komunitas bahannya dari sampah plastik karet dan jenis sampah lainnya. Selain itu kami juga akan buat karya seni patung,” ujar pria yang juga selaku anggota Oka Art Foundation.  

 

Sementara itu untuk kayu-kayu yang terkumpul, dibuat kayu bakar untuk diberikan kepada ibu-ibu desa yang mencari kayu bakar. 

 

Selanjutnya untuk  botol-botol plastik di desa dibawa ke bank sampah, sehingga bisa dimanfaatkan. 

 

“Pengumpulan sampah pantai ini pihaknya lakukan seminggu dua kali yakni pada hari Sabtu dan Minggu sore. Dengan yang baru terlibat tiga orang pemuda desa,” ungkapnya.

 

Sejauh ini sampah-sampah plastik yang dipungut. Seperti botol dan sampah karet pihaknya kumpulkan setelah baru eksekusi untuk karya seni. 

Baca Juga:  Koster Minta Masyarakat Stop Polemikkan Pembatalan Nyipeng 3 Hari

 

“Rencana jika tak ada kendala seminggu lagi kita buat karya seni instalasi. Ini masih on proses pengumpulan bahan, besok kita turun lagi saya mengajak temen komunitas  untuk ngayah pungut sampah,” jelasnya.

 

Lalu berapa banyak sampah yang dikumpulkan? Oka mengaku untuk membuat karya instalasi sebanyak-banyak, karena semakin banyak bahan semakin mudah dan megah monumental membuat karya instalasi. 

 

“Ini akan terus berproses sampai  sampah benar bersih di pantai. Target pembuatan kalau sudah ada bahan mungkin minggu depan sudah bisa eksekusi,” imbuhnya. 

 

Sekedar diketahui Komunitas SOS, diartikan “Sunset on Sunday”. Sementara secara umum sebagai tanda bahaya. Sementara secara global minta bantuan atau tanda bahaya. 

 

“Jadi kami ingin ingatkan sampah sebagai penanda bukan main-main tidak diurus dengan ini bisa berbahaya konsep arahnya ke penyadaran ke publik bahwa sampah akan berbahaya jika tidak diurus dengan baik,” pungkasnya.

- Advertisement -

TABANAN – Jengah dengan kondisi banyaknya kiriman sampah di pantai sejumlah pemuda di Desa Pangkungtibah, Kediri Tabanan, Bali, bergerak untuk memunguti sampah. Sampah-sampah itu kemudian dibuat dalam karya instalasi seni. 

 

Sampah-sampah yang mereka pungut dikumpulkan sementara waktu sebagai bahan yang nanti diolah dijadikan karya seni instalasi. 

 

Sejumlah anak muda Desa Pangkungtibah yang mengumpulkan sampah plastik, kayu dan karet itu tergabung dalam Komunitas SOS.

 

Anggota Komunitas SOS I Gede Oka Astawa mengaku memungut sampah-sampah kiriman di pantai yang menumpuk lalu kemudian dikumpulkan sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2015. 

 

Akan tetapi kembali dilakukan tahun 2022 ini karena prihatin melihat kondisi yang ada. Sampah banyak menumpuk di pantai tak ada yang membersihkan. Tampak jorok, apalagi pantai di Desa Pangkungtibah kerap kali dikunjungi warga. 

 

“Mulai kemarin lagi kami bergerak membersihkan sampah laut. Jadi ini saya inisiatif mandiri dan kawan-kawan pemuda, karena di desa tidak ada tukang bersih pantai, ketimbang duduk-duduk di pantai, mendingan bersihkan sampah plastik. Akhirnya ada beberapa pemuda yang peduli melihat kondisi tersebut sehingga mereka ikut terlibat,” kata Oka, dihubungi (22/1)

Baca Juga:  300 KK di Tejakula Dilanda Krisis Air Bersih

 

Sampah-sampah pantai yang dipungut ini sebanyak-banyaknya, nanti sebagai bahan yang dibuat karya instalasi seni. 

 

“Saya mau bikin karya seni instalasi tulisan SOS sesuai nama komunitas bahannya dari sampah plastik karet dan jenis sampah lainnya. Selain itu kami juga akan buat karya seni patung,” ujar pria yang juga selaku anggota Oka Art Foundation.  

 

Sementara itu untuk kayu-kayu yang terkumpul, dibuat kayu bakar untuk diberikan kepada ibu-ibu desa yang mencari kayu bakar. 

 

Selanjutnya untuk  botol-botol plastik di desa dibawa ke bank sampah, sehingga bisa dimanfaatkan. 

 

“Pengumpulan sampah pantai ini pihaknya lakukan seminggu dua kali yakni pada hari Sabtu dan Minggu sore. Dengan yang baru terlibat tiga orang pemuda desa,” ungkapnya.

 

Sejauh ini sampah-sampah plastik yang dipungut. Seperti botol dan sampah karet pihaknya kumpulkan setelah baru eksekusi untuk karya seni. 

Baca Juga:  Kandas Berjam-jam, Penumpang KMP Swakarsa Merasa Dikerjai Awak Kapal

 

“Rencana jika tak ada kendala seminggu lagi kita buat karya seni instalasi. Ini masih on proses pengumpulan bahan, besok kita turun lagi saya mengajak temen komunitas  untuk ngayah pungut sampah,” jelasnya.

 

Lalu berapa banyak sampah yang dikumpulkan? Oka mengaku untuk membuat karya instalasi sebanyak-banyak, karena semakin banyak bahan semakin mudah dan megah monumental membuat karya instalasi. 

 

“Ini akan terus berproses sampai  sampah benar bersih di pantai. Target pembuatan kalau sudah ada bahan mungkin minggu depan sudah bisa eksekusi,” imbuhnya. 

 

Sekedar diketahui Komunitas SOS, diartikan “Sunset on Sunday”. Sementara secara umum sebagai tanda bahaya. Sementara secara global minta bantuan atau tanda bahaya. 

 

“Jadi kami ingin ingatkan sampah sebagai penanda bukan main-main tidak diurus dengan ini bisa berbahaya konsep arahnya ke penyadaran ke publik bahwa sampah akan berbahaya jika tidak diurus dengan baik,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/