alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Anggrek Amerta Jati Terancam Punah, Hanya Ditemukan di Tamblingan

MUNDUK – Tanaman Anggrek Tricolor Amerta Jati (Vanda tricolor Lindl. var. pallida) terancam punah. Anggrek ini diyakini tanaman endemis di Taman Wisata Alam (TWA) Buyan-Tamblingan.

Sayangnya di alam bebas, tanaman ini sudah tak ditemukan lagi karena perburuan liar. Flora endemis ini terbilang unik.

Tanaman hanya tumbuh pada cabang pohon besar yang cukup terbuka dan menerima cahaya terang. Biasanya tanaman ini tumbuh pada ketinggian 700-1.600 meter dari permukaan laut.

Dulunya banyak ditemukan di sekitar Hutan Amerta Jati. Ironisnya kini anggrek itu sudah tidak ditemukan lagi di hutan Amerta Jati.

Pada medio 2000-an, banyak orang berburu anggrek ini sehingga lenyap di habitatnya. Masyarakat di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan

Baca Juga:  Cemari Lingkungan, Warga Protes Minta TPS Dipindah ke Lokasi Lain

bersama Komunitas Virtual Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama Virtual), berinisiatif mengembalikan anggrek tersebut.

Beberapa anggrek di rumah warga, dibiakkan. Hasil pembiakan itu kemudian dikembalikan ke rumah asalnya, yakni di Hutan Amerta Jati.

Kelian Desa Pakraman Munduk, Jro Putu Ardana mengatakan, pihaknya sengaja menggandeng komunitas Kagama Virtual yang dipelopori Sulastama Rahardja, untuk mengembalikan anggrek itu.

Hutan Amerta Jati sengaja dipilih dengan berbagai pertimbangan. Bukan hanya menjadi habitat asli, hutan ini juga disakralkan krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

“Mengembalikan anggrek tricolor Amerta Jati yang sudah hilang ini, adalah bagian dari upaya melestarikan kawasan religi ini. Total ada 50 batang anggrek yang kami kembalikan ke habitat asalnya,” jelas Ardana.

Baca Juga:  Sepupu Mau Menikah, Perempuan Paro Baya Ini Doyan Telanjang, Jadinya…

Tim memilih beberapa pohon berukuran raksasa, sebagai inang anggrek. Beberapa orang kemudian memanjat, dan meletakkan anggrek tersebut di dahan pohon.

Sebisa mungkin anggrek diletakkan di dahan yang terbuka dan menerima cahaya yang cukup. Pengembalian anggrek itu diyakini akan berpengaruh terhadap kehidupan kawasan hutan.

Bau anggrek yang wangi, akan menarik serangga datang. Selanjutnya serangga akan berperan sebagai penyebar serbuk sari.

Penyebaran serbuk itu diyakini akan berdampak positif bagi habitat hutan, maupun areal perkebunan dan pertanian warga sekitar. 



MUNDUK – Tanaman Anggrek Tricolor Amerta Jati (Vanda tricolor Lindl. var. pallida) terancam punah. Anggrek ini diyakini tanaman endemis di Taman Wisata Alam (TWA) Buyan-Tamblingan.

Sayangnya di alam bebas, tanaman ini sudah tak ditemukan lagi karena perburuan liar. Flora endemis ini terbilang unik.

Tanaman hanya tumbuh pada cabang pohon besar yang cukup terbuka dan menerima cahaya terang. Biasanya tanaman ini tumbuh pada ketinggian 700-1.600 meter dari permukaan laut.

Dulunya banyak ditemukan di sekitar Hutan Amerta Jati. Ironisnya kini anggrek itu sudah tidak ditemukan lagi di hutan Amerta Jati.

Pada medio 2000-an, banyak orang berburu anggrek ini sehingga lenyap di habitatnya. Masyarakat di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan

Baca Juga:  Sepupu Mau Menikah, Perempuan Paro Baya Ini Doyan Telanjang, Jadinya…

bersama Komunitas Virtual Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama Virtual), berinisiatif mengembalikan anggrek tersebut.

Beberapa anggrek di rumah warga, dibiakkan. Hasil pembiakan itu kemudian dikembalikan ke rumah asalnya, yakni di Hutan Amerta Jati.

Kelian Desa Pakraman Munduk, Jro Putu Ardana mengatakan, pihaknya sengaja menggandeng komunitas Kagama Virtual yang dipelopori Sulastama Rahardja, untuk mengembalikan anggrek itu.

Hutan Amerta Jati sengaja dipilih dengan berbagai pertimbangan. Bukan hanya menjadi habitat asli, hutan ini juga disakralkan krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

“Mengembalikan anggrek tricolor Amerta Jati yang sudah hilang ini, adalah bagian dari upaya melestarikan kawasan religi ini. Total ada 50 batang anggrek yang kami kembalikan ke habitat asalnya,” jelas Ardana.

Baca Juga:  Kendaraan Pribadi Mulai Padati Pintu Masuk Pelabuhan Gilimanuk

Tim memilih beberapa pohon berukuran raksasa, sebagai inang anggrek. Beberapa orang kemudian memanjat, dan meletakkan anggrek tersebut di dahan pohon.

Sebisa mungkin anggrek diletakkan di dahan yang terbuka dan menerima cahaya yang cukup. Pengembalian anggrek itu diyakini akan berpengaruh terhadap kehidupan kawasan hutan.

Bau anggrek yang wangi, akan menarik serangga datang. Selanjutnya serangga akan berperan sebagai penyebar serbuk sari.

Penyebaran serbuk itu diyakini akan berdampak positif bagi habitat hutan, maupun areal perkebunan dan pertanian warga sekitar. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/