alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 16, 2022

Kurva Kasus DBD di Jembrana Menurun, Begini Penjelasan Diskes

NEGARA – Kasus demam berdarah dengue (DBD) yang sempat meningkat awal tahun lalu, mulai menurun drastis.

Dari 179 kasus yang terjadi sejak bulan Januari lalu, dua orang meninggal yang terjadi saat puncak DBD bulan Maret lalu.

Meski sudah ada penurunan jumlah kasus, warga tetap resah karena beredar kabar seorang bayi 7 bulan meninggal karena DBD.

Bayi yang dikabarkan meninggal karena DBD tersebut berasal dari Desa Tegal Badeng Timur. Namun, hal tersebut dibantah Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Jembrana I Gusti Agung Putu Arisantha.

Menurutnya, bayi yang meninggal di RSU Negara tersebut sebelumnya sempat dibawa ke Puskesmas II Negara, di Desa Pengambengan. “Meninggalnya bukan karena demam berdarah,” ujar Arisantha.

Baca Juga:  Gelombang Pasang, Akses Jalan Putus, Puluhan Rumah Warga Rusak

Menurutnya, berdasar keterangan dokter spesialis yang menangani bayi tersebut suspect ensefalitis atau peradangan selaput otak dan diduga suspect aspirasi pnemonia.

Karena itu, pasien tersebut meninggal bukan karena DBD seperti kabar yang tersebar di masyarakat.

Begitu juga dengan pasien asal Desa Medewi yang meninggal diduga karena DBD, pasien tersebut mengalami infeksi yang secara menyeluruh pada seluruh tubuh.

Arisantha menambahkan, kasus DBD Jembrana puncaknya terjadi pada bulan Maret lalu, dimana saat itu terjadi 40 kasus DBD, dua orang diantaranya meninggal dunia.

Jadi, secara kumulatif dari bulan Januari hingga bulan Juli ini sudah ada 179 kasus DBD Jembrana. Dalam mencegah kasus DBD selain melakukan pemberantasan jentik nyamuk juga dilakukan kegiatan fogging.

Baca Juga:  Demam Berdarah Renggut Satu Nyawa di Gianyar

Fogging dimaksudkan untuk meminimalisir persebaran nyamuk Aedes Aegypti di tengah-tengah masyarakat. Fogging dilakukan secara rutin di daerah-daerah yang disinyalir rawan dari wabah nyamuk. 



NEGARA – Kasus demam berdarah dengue (DBD) yang sempat meningkat awal tahun lalu, mulai menurun drastis.

Dari 179 kasus yang terjadi sejak bulan Januari lalu, dua orang meninggal yang terjadi saat puncak DBD bulan Maret lalu.

Meski sudah ada penurunan jumlah kasus, warga tetap resah karena beredar kabar seorang bayi 7 bulan meninggal karena DBD.

Bayi yang dikabarkan meninggal karena DBD tersebut berasal dari Desa Tegal Badeng Timur. Namun, hal tersebut dibantah Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Jembrana I Gusti Agung Putu Arisantha.

Menurutnya, bayi yang meninggal di RSU Negara tersebut sebelumnya sempat dibawa ke Puskesmas II Negara, di Desa Pengambengan. “Meninggalnya bukan karena demam berdarah,” ujar Arisantha.

Baca Juga:  TEGANG! Gagal Bayar, Rumah Cabup Buleleng Disita, Yustika: Tolong Pak!

Menurutnya, berdasar keterangan dokter spesialis yang menangani bayi tersebut suspect ensefalitis atau peradangan selaput otak dan diduga suspect aspirasi pnemonia.

Karena itu, pasien tersebut meninggal bukan karena DBD seperti kabar yang tersebar di masyarakat.

Begitu juga dengan pasien asal Desa Medewi yang meninggal diduga karena DBD, pasien tersebut mengalami infeksi yang secara menyeluruh pada seluruh tubuh.

Arisantha menambahkan, kasus DBD Jembrana puncaknya terjadi pada bulan Maret lalu, dimana saat itu terjadi 40 kasus DBD, dua orang diantaranya meninggal dunia.

Jadi, secara kumulatif dari bulan Januari hingga bulan Juli ini sudah ada 179 kasus DBD Jembrana. Dalam mencegah kasus DBD selain melakukan pemberantasan jentik nyamuk juga dilakukan kegiatan fogging.

Baca Juga:  Bila PPKM Darurat Kembali Diperpanjang, Bupati Jembrana Tegas Menolak

Fogging dimaksudkan untuk meminimalisir persebaran nyamuk Aedes Aegypti di tengah-tengah masyarakat. Fogging dilakukan secara rutin di daerah-daerah yang disinyalir rawan dari wabah nyamuk. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/