alexametrics
28.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Data Tes PCR di Bali Masih Disembunyikan, Warga Minta Dibuka ke Publik

DENPASAR – Penangannan Covid-19 di Bali dirasa kurang terbuka oleh sejumlah kalangan. Salah satunya terkait data tes swab berbasis PCR yang dilakukan oleh pihak Satgas Covid-19 di Bali.

 

Hal tersebut diungkapkan Nyoman Mardika, selaku warga Denpasar. Ia mengatakan, pemerintah di Bali mestinya tak hanya memperlihatkan data perkembangan kasus Covid-19 saja, yakni jumlah kasus terkonfirmasi, kematian, dan kesembuhan. Melainkan, kata dia, juga perlu menyampaikan data jumlah 3T (testing, tracing, treatment) yang dilakukan.

 

“Setahu saya, yang berjalan maksimal itu hanya tracing yang dilakukan Dinas Kesehatan melalui puskesmas. Tetapi kalau testing dan treatment, saya pikir kurang maksimal,” ujarnya pada Jumat (23/7).

 

Sehingga dia menilai, 3T tersebut kurang maksimal berjalan di Bali. Pun bila dilakukan, Mardika berharap data tersebut juga diungkapkan ke publik.

 

“3T ini kan menjadi tolak ukur pemerintah, baik terkait untuk menurunkan level PPKM di Bali. Pak Gubernur seperti laporannya ke pusat soal ini? Datanya (3T) mana? Wajib pemerintahan buka data jumlah 3T. Ini untuk mengukur kerja pemerintah, dan publik bisa tahu,” ujarnya.

 

Seberapa penting publik tahu data 3T? “Ini kan untuk mensinkronisasikan antara data yang positif dan dan yang ditesting. Jangan-jangan, kan bisa saja terjadi sesuatu kalau datanya tidak linear?,” jawabnya.

Baca Juga:  Butik Emas Logam Mulia Bali Pindah Lokasi

 

Apalagi, dalam Instruksi Mendagri Nomor 22 tahun 2021 juga sudah tegas bahwa Bali masuk dalam PPKM Level 3. Pemerintah di Bali pun dalam Inmendagri itu ditarget untuk mengejar jumlah tes PCR sebanyak 8.233 orang per hari.

 

Bahkan, dalam Inmendagri menegaskan jumlah tes harus ditingkatkan sampai positivity rate (PR) turun sampai di bawah 10 persen. PR merupakan pembagian jumlah kasus terkonfirmasi dengan jumlah tes dalam sepekan.

 

Tidak itu saja, ketentuan meningkatkan jumlah orang dites PCR per hari tidak hanya diatur di dalam Inmendagri. Pada SE Gubernur Bali Nomor 11 tahun 2021 juga Kembali menegaskan tentang target tes PCR tersebut. Isinya sama dengan Inmendagri.

 

Terkait hal ini, Kadis Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya belum memberikan penjelasan bagaimana capaian tes PCR setelah adanya Inmendagri 22 tahun 2021 yang terbit pada 20 Juli 2021 tersebut. Meski demikian, Suarjaya pada tanggal 16 Juli 2021 sempat mengatakan bahwa Bali saat itu melakukan tracing 5-6 orang per kasus.

Baca Juga:  Krama Sanih Desak Kepastian Status Tanah Negara Eks Hotel Puri Sanih

 

“Per 1 kasus, jumlah tracing itu 5-6 orang,” ujarnya beberapa waktu lalu saat dikonfirmasi.

 

Namun saat ditanya detail data PCR, Suarjaya masih menyembunyikan data tersebut. Dia sulit untuk dimintai data jumlah tes PCR di Bali.

 

Bila mengacu pada pengakuan Suarjaya 1 kasus dilakukan tracing dan testing pada 5-6 orang yang berkontak dengan orang terkonfirmasi, maka jumlah itu pun masih jauh di bawah standar. Dari rilis yang didapat radarbali.id, pada tanggal 16 Juli dan sebelumnya, kasus poritif di Bali rata-rata 700-800 orang per hari. Bila dikali 5 atau 6 kontak tracing per 1 kasus, maka jumlah tes PCR di Bali baru sekitar 3.500 sampai 4.800. Masih berada setengah dari target yang dibebankan dalam Inmendagri maupun Se Gubernur Bali.

Tertutupnya data tes PCR di Bali ini berbeda dengan sikap Pemerintah Pusat. Pemerintah pusat masih sering, walaupun tidak selalu setiap hari, mengumumkan data tes PCR. Berbeda dengan cara Pemprov Sumatera Barat yang selalu mengumumkan setiap hari jumlah orang yang dites PCR per harinya.  


DENPASAR – Penangannan Covid-19 di Bali dirasa kurang terbuka oleh sejumlah kalangan. Salah satunya terkait data tes swab berbasis PCR yang dilakukan oleh pihak Satgas Covid-19 di Bali.

 

Hal tersebut diungkapkan Nyoman Mardika, selaku warga Denpasar. Ia mengatakan, pemerintah di Bali mestinya tak hanya memperlihatkan data perkembangan kasus Covid-19 saja, yakni jumlah kasus terkonfirmasi, kematian, dan kesembuhan. Melainkan, kata dia, juga perlu menyampaikan data jumlah 3T (testing, tracing, treatment) yang dilakukan.

 

“Setahu saya, yang berjalan maksimal itu hanya tracing yang dilakukan Dinas Kesehatan melalui puskesmas. Tetapi kalau testing dan treatment, saya pikir kurang maksimal,” ujarnya pada Jumat (23/7).

 

Sehingga dia menilai, 3T tersebut kurang maksimal berjalan di Bali. Pun bila dilakukan, Mardika berharap data tersebut juga diungkapkan ke publik.

 

“3T ini kan menjadi tolak ukur pemerintah, baik terkait untuk menurunkan level PPKM di Bali. Pak Gubernur seperti laporannya ke pusat soal ini? Datanya (3T) mana? Wajib pemerintahan buka data jumlah 3T. Ini untuk mengukur kerja pemerintah, dan publik bisa tahu,” ujarnya.

 

Seberapa penting publik tahu data 3T? “Ini kan untuk mensinkronisasikan antara data yang positif dan dan yang ditesting. Jangan-jangan, kan bisa saja terjadi sesuatu kalau datanya tidak linear?,” jawabnya.

Baca Juga:  Penumpang Bus Pingsan di Terminal Gilimanuk Bikin Warga Berhamburan

 

Apalagi, dalam Instruksi Mendagri Nomor 22 tahun 2021 juga sudah tegas bahwa Bali masuk dalam PPKM Level 3. Pemerintah di Bali pun dalam Inmendagri itu ditarget untuk mengejar jumlah tes PCR sebanyak 8.233 orang per hari.

 

Bahkan, dalam Inmendagri menegaskan jumlah tes harus ditingkatkan sampai positivity rate (PR) turun sampai di bawah 10 persen. PR merupakan pembagian jumlah kasus terkonfirmasi dengan jumlah tes dalam sepekan.

 

Tidak itu saja, ketentuan meningkatkan jumlah orang dites PCR per hari tidak hanya diatur di dalam Inmendagri. Pada SE Gubernur Bali Nomor 11 tahun 2021 juga Kembali menegaskan tentang target tes PCR tersebut. Isinya sama dengan Inmendagri.

 

Terkait hal ini, Kadis Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya belum memberikan penjelasan bagaimana capaian tes PCR setelah adanya Inmendagri 22 tahun 2021 yang terbit pada 20 Juli 2021 tersebut. Meski demikian, Suarjaya pada tanggal 16 Juli 2021 sempat mengatakan bahwa Bali saat itu melakukan tracing 5-6 orang per kasus.

Baca Juga:  Gudang Beras Oplosan Digerebek, Penggilingan Padi Tutup Sementara

 

“Per 1 kasus, jumlah tracing itu 5-6 orang,” ujarnya beberapa waktu lalu saat dikonfirmasi.

 

Namun saat ditanya detail data PCR, Suarjaya masih menyembunyikan data tersebut. Dia sulit untuk dimintai data jumlah tes PCR di Bali.

 

Bila mengacu pada pengakuan Suarjaya 1 kasus dilakukan tracing dan testing pada 5-6 orang yang berkontak dengan orang terkonfirmasi, maka jumlah itu pun masih jauh di bawah standar. Dari rilis yang didapat radarbali.id, pada tanggal 16 Juli dan sebelumnya, kasus poritif di Bali rata-rata 700-800 orang per hari. Bila dikali 5 atau 6 kontak tracing per 1 kasus, maka jumlah tes PCR di Bali baru sekitar 3.500 sampai 4.800. Masih berada setengah dari target yang dibebankan dalam Inmendagri maupun Se Gubernur Bali.

Tertutupnya data tes PCR di Bali ini berbeda dengan sikap Pemerintah Pusat. Pemerintah pusat masih sering, walaupun tidak selalu setiap hari, mengumumkan data tes PCR. Berbeda dengan cara Pemprov Sumatera Barat yang selalu mengumumkan setiap hari jumlah orang yang dites PCR per harinya.  


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/