alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Duh, Pengungsi Gunung Agung Asal Kubu Keleleran di Tegalalang

RadarBali.com – Warga di lereng gunung Agung mulai mengungsi ke lokasi pengungsian. Di Gianyar ada tiga lokasi yang menjadi sasaran pengungsi.

Salah satu wilayah jujukan 75 warga Dusun Pengalusan, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem itu adalah kediaman I Wayan Tumbuh di Banjar Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegalalang.

Rumah Tumbuh kondisinya sederhana dan banyak lalat. Jumat kemarin (22/9), warga yang terdiri dari anak-anak dan balita tampak gelisah.

Warga Desa Ban, I Ketut Tulus, 37, yang merupakan koordinator 19 KK pengungsi Desa Bun menyatakan, mereka memiliki mencari I Wayan Tumbuh di Taro karena masih merupakan kerabat.

Mereka datang mengendarai truk pada Kamis malam (21/9), membawa kasur, beras serta puluhan binatang.

“Anak saya dinikahi sama pak Wayan Tumbuh, jadi kami memilih yang dekat keluarga dan jauh dari Gunung Agung,” ujar Tulus, kemarin.

Selain karena masih keluarga, lingkungan di kediaman I Wayan Tumbuh di Taro dianggap cocok bagi mereka.

Baca Juga:  Lewati Usia Kehamilan, Pengungsi Jalani Operasi Caesar, Syukur…

Itu karena di rumah Wayan Tumbuh masih alami dekat tegalan. Jadi ternak pengungsi berupa 30 ekor sapi, 5 ekor kambing dan 1 ekor babi bisa dilepas di tegalan.

Selama mereka di rumah Tumbuh, hanya membawa bekal beras dan uang seadanya. Selain itu, kondisi rumah Tumbuh yang sederhana, membuat warga itu tidur berdesak-desakan.

Kondisi rumah Tumbuh yang dihuni pengungsi cukup memprihatinkan. Atap balai daja (utara) tampak bolong, balai dauh yang sederhana.

Tidak itu saja, di rumah Tumbuh, banyak lalat hinggap. Kondisi itu membuat anak-anak dan balita tampak gelisah.

Terutama bayi tampak kurang nyaman dengan kondisi tersebut. Ibu mereka pun berusaha menggendong dan menenangkan sambil menyusui.

“Mau bagaimana lagi, ini sudah untung ada yang mau menerima. Kami takut di rumah (Karangasem, red),” terang Ketut Tulus.

Dia mengaku, yang membuatnya mengungsi jauh dari warga lainnya, selain untuk mengamankan ternak, karena takut getaran gempa yang kian keras.

Baca Juga:  Limbah Medis Covid-19 Harus Dipisah, RS Tabanan Awasi Manifest

 “Tadi malam (Kamis malam, red) goyang berkali-kali, setiap dua jam goyang. Kami takut pas tidur ada bencana, makanya kemari,” terangnya.

Sementara itu, sebanyak 21 warga Banjar Pura, Desa Sebudi, Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem mengungsi ke rumah I Wayan Mega di Banjar Palak, Desa Keramas Kecamatan Blahbatuh.

Tidak di sana saja, sebanyak 9 warga Banjar Pendem, Desa Muncan, Kecamatan Selatan, Kabupaten Karangasem mengungsi ke rumah I Ketut Gambar di Banjar Bulu Desa Guwang, Kecamatan Sukawati.

Pemkab Gianyar sendiri langsung bertindak. Wakil Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra sempat menengok pengungsi di Banjar Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegalalang.

Selain memerintahkan melakukan penyemprotan untuk mengusir lalat, petugas juga berencana memindahkan pengungsi dari rumah Tumbuh ke tenda yang lebih lapang supaya pengungsi bisa tidur nyenyak.  



RadarBali.com – Warga di lereng gunung Agung mulai mengungsi ke lokasi pengungsian. Di Gianyar ada tiga lokasi yang menjadi sasaran pengungsi.

Salah satu wilayah jujukan 75 warga Dusun Pengalusan, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem itu adalah kediaman I Wayan Tumbuh di Banjar Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegalalang.

Rumah Tumbuh kondisinya sederhana dan banyak lalat. Jumat kemarin (22/9), warga yang terdiri dari anak-anak dan balita tampak gelisah.

Warga Desa Ban, I Ketut Tulus, 37, yang merupakan koordinator 19 KK pengungsi Desa Bun menyatakan, mereka memiliki mencari I Wayan Tumbuh di Taro karena masih merupakan kerabat.

Mereka datang mengendarai truk pada Kamis malam (21/9), membawa kasur, beras serta puluhan binatang.

“Anak saya dinikahi sama pak Wayan Tumbuh, jadi kami memilih yang dekat keluarga dan jauh dari Gunung Agung,” ujar Tulus, kemarin.

Selain karena masih keluarga, lingkungan di kediaman I Wayan Tumbuh di Taro dianggap cocok bagi mereka.

Baca Juga:  Erupsi Tak Kunjung Reda, Okupansi Hotel Merosot Tajam

Itu karena di rumah Wayan Tumbuh masih alami dekat tegalan. Jadi ternak pengungsi berupa 30 ekor sapi, 5 ekor kambing dan 1 ekor babi bisa dilepas di tegalan.

Selama mereka di rumah Tumbuh, hanya membawa bekal beras dan uang seadanya. Selain itu, kondisi rumah Tumbuh yang sederhana, membuat warga itu tidur berdesak-desakan.

Kondisi rumah Tumbuh yang dihuni pengungsi cukup memprihatinkan. Atap balai daja (utara) tampak bolong, balai dauh yang sederhana.

Tidak itu saja, di rumah Tumbuh, banyak lalat hinggap. Kondisi itu membuat anak-anak dan balita tampak gelisah.

Terutama bayi tampak kurang nyaman dengan kondisi tersebut. Ibu mereka pun berusaha menggendong dan menenangkan sambil menyusui.

“Mau bagaimana lagi, ini sudah untung ada yang mau menerima. Kami takut di rumah (Karangasem, red),” terang Ketut Tulus.

Dia mengaku, yang membuatnya mengungsi jauh dari warga lainnya, selain untuk mengamankan ternak, karena takut getaran gempa yang kian keras.

Baca Juga:  Banjar Munduk Dikarantina, Enam Warga Reaktif Jalani Isolasi Mandiri

 “Tadi malam (Kamis malam, red) goyang berkali-kali, setiap dua jam goyang. Kami takut pas tidur ada bencana, makanya kemari,” terangnya.

Sementara itu, sebanyak 21 warga Banjar Pura, Desa Sebudi, Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem mengungsi ke rumah I Wayan Mega di Banjar Palak, Desa Keramas Kecamatan Blahbatuh.

Tidak di sana saja, sebanyak 9 warga Banjar Pendem, Desa Muncan, Kecamatan Selatan, Kabupaten Karangasem mengungsi ke rumah I Ketut Gambar di Banjar Bulu Desa Guwang, Kecamatan Sukawati.

Pemkab Gianyar sendiri langsung bertindak. Wakil Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra sempat menengok pengungsi di Banjar Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegalalang.

Selain memerintahkan melakukan penyemprotan untuk mengusir lalat, petugas juga berencana memindahkan pengungsi dari rumah Tumbuh ke tenda yang lebih lapang supaya pengungsi bisa tidur nyenyak.  


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/