alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Kali Kedua Jadi Korban Gunung Agung, Sriasih: Saya Trauma Berat

RadarBali.com – Pengungsi Gunung Agung berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman. Di antara yang mengungsi, ada yang pernah jadi korban Gunung Agung saat meletus tahun 1963 silam.

Cerita itu datang dari Wayan Mastra, 57, dan Nyoman Sriasih, 70. Keduanya turut mengalami Gunung Agung meletus di tahun 1963 silam. “Sekarang saya mengungsi lagi,” kata Mastra.

Saat Gunung Agung meletus tahun 1963, Mastra mengaku masih kecil. Ia samar-samar mengingat kejadian itu. Bapak dan ibu serta adik-adiknya tetap tinggal di Candikuning.

Hanya dia yang kembali pulang 20 tahun kemudian. “Setelah menikah, saya pulang. Menempati rumah di Karangasem. Bapak, ibu dan adik-adik tetap di sini (Candikuning),” terangnya.

Baca Juga:  Ratusan Mobil Mewah di Gianyar Bali Nunggak Pajak Hingga Miliaran

Kini, ia kembali bertemu dengan sang ibu, Wayan Abian, 80-an, dan adik-adiknya dalam pengungsian kedua ini.

Jadi pengungsi untuk kedua kalinya, Sriasih turut meratapi nasib. Saat Gunung Agung meletus 1963, dia dibawa orangtuanya mengungsi ke Candikuning.

Waktu itu, dia turut berjalan kaki dari Sebudi menuju jalan utama yang dilewati kendaraan umum. “Waktu itu ndak ada mobil. Maka jalan dulu,” tuturnya.

Ketika sudah bisa menumpang kendaraan, Sriasih dan keluarganya sampai di Candikuning. Lima tahun dalam pengungsian, dia akhirnya kembali ke kampungnya.

Namun, gempa yang datang berkali-kali, hingga kasurnya goyang-goyang membuat lelaki yang bekerja sebagai petani ini ketakutan.

Katanya, dalam semalam saja bisa merasakan gempa sampai empat kali. “Sekarang saya mengungsi lagi. Saya trauma. Rasanya hidup-mati,” tutur pria yang rambutnya sudah memutih ini.

Baca Juga:  Suiasa Harapkan Kebijakan Konkrit dari Pusat Untuk Recovery Pariwisata

Menurut Nengah Mudita, adik dari Mastra, dia sempat menghubungi sang kakak untuk segera mengungsi.

Tapi, tidak mau dengan alasan masih aman. Namun, tiba-tiba Kamis dini hari, tiga truk sanak familinya datang tanpa menginformasikan lebih dulu.

“Kaget saya. Datang dini hari pakai tiga truk. Bingung cari tempat untuk menampung tidur. Jadinya ya begini,” jelas Mudita menunjuk rumahnya yang ditinggalo Wayan Neca, 37, sang keponakan, anak dari Mastra. 



RadarBali.com – Pengungsi Gunung Agung berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman. Di antara yang mengungsi, ada yang pernah jadi korban Gunung Agung saat meletus tahun 1963 silam.

Cerita itu datang dari Wayan Mastra, 57, dan Nyoman Sriasih, 70. Keduanya turut mengalami Gunung Agung meletus di tahun 1963 silam. “Sekarang saya mengungsi lagi,” kata Mastra.

Saat Gunung Agung meletus tahun 1963, Mastra mengaku masih kecil. Ia samar-samar mengingat kejadian itu. Bapak dan ibu serta adik-adiknya tetap tinggal di Candikuning.

Hanya dia yang kembali pulang 20 tahun kemudian. “Setelah menikah, saya pulang. Menempati rumah di Karangasem. Bapak, ibu dan adik-adik tetap di sini (Candikuning),” terangnya.

Baca Juga:  Suiasa Harapkan Kebijakan Konkrit dari Pusat Untuk Recovery Pariwisata

Kini, ia kembali bertemu dengan sang ibu, Wayan Abian, 80-an, dan adik-adiknya dalam pengungsian kedua ini.

Jadi pengungsi untuk kedua kalinya, Sriasih turut meratapi nasib. Saat Gunung Agung meletus 1963, dia dibawa orangtuanya mengungsi ke Candikuning.

Waktu itu, dia turut berjalan kaki dari Sebudi menuju jalan utama yang dilewati kendaraan umum. “Waktu itu ndak ada mobil. Maka jalan dulu,” tuturnya.

Ketika sudah bisa menumpang kendaraan, Sriasih dan keluarganya sampai di Candikuning. Lima tahun dalam pengungsian, dia akhirnya kembali ke kampungnya.

Namun, gempa yang datang berkali-kali, hingga kasurnya goyang-goyang membuat lelaki yang bekerja sebagai petani ini ketakutan.

Katanya, dalam semalam saja bisa merasakan gempa sampai empat kali. “Sekarang saya mengungsi lagi. Saya trauma. Rasanya hidup-mati,” tutur pria yang rambutnya sudah memutih ini.

Baca Juga:  Longsor Picu Kerusakan Parah di Desa Gobleg, Ini Datanya…

Menurut Nengah Mudita, adik dari Mastra, dia sempat menghubungi sang kakak untuk segera mengungsi.

Tapi, tidak mau dengan alasan masih aman. Namun, tiba-tiba Kamis dini hari, tiga truk sanak familinya datang tanpa menginformasikan lebih dulu.

“Kaget saya. Datang dini hari pakai tiga truk. Bingung cari tempat untuk menampung tidur. Jadinya ya begini,” jelas Mudita menunjuk rumahnya yang ditinggalo Wayan Neca, 37, sang keponakan, anak dari Mastra. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/