alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Sampah Dibuang Sekitar Selokan, Air Sisa Banjir Lambat Surut

NEGARA-Desa Pengambengan acap langganan banjir. Setiap banjir, air lambat surut. Penyebabnya, selain karena kontur tanah yang rendah dan drainase yang kecil sehingga tidak maksimal mengalirkan air. Pun sampah menjadi salah satu permasalahan yang belum teratasi.

 

Tumpukan sampah bisa ditemui di pinggir jalan. Bahkan dekat dengan selokan yang mengarah ke laut. Sampah yang terbuang ke selokan ini bisa menghambat aliran air drainase. Sehingga menyebabkan banjir dan air berhari-hari surut.

 

Kondisi tersebut diakui Perbekel Desa Pengambengan Kamaruzzaman. Menurutnya, sampah yang dibuang warga ke lingkungan memang masih terjadi, tidak hanya warga Desa Pengambengan tetapi juga warga dari luar. Karena sampah dibuang pada malam hari, pihaknya belum menemukan pelaku yang biasa buang sampah di lingkungan, terutama dekat selokan mengarah ke laut yang baru dibuat. “Banyak orang luar yang ikut buang sampah di sana,” ujar Perbekel, Kamis (23/9).

Baca Juga:  Gedung PDAM Terendam Banjir, Ribuan Arsip Rusak

 

Lokasi pembuangan sampah dekat selokan ke pantai, sebelumnya terdapat bak penampungan sampah sementara dari Dinas Lingkungan Hidup. Namun, saat ini bak sampah tersebut sudah diambil lagi karena ada program penanganan sampah yang dilakukan oleh pihak ketiga melalui program stop. “Kami di desa sudah persiapkan pengolahan sampah berbasis desa,” terangnya.

 

Selama program pengolahan sampah berbasis desa belum berjalan, pihak desa sudah rutin bersama masyarakat melakukan gotong-royong setiap hari Jumat. Sejumlah titik yang menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat juga sudah dipasang spanduk larangan membuang sampah, tetapi sepanduknya justru hilang.

 

Menurut Perbekel, mengenai sampah yang masih menjadi masalah klasik di Desa Pengambengan, tergantung kesadaran dari masyarakat. Apabila masyarakat sadar dan disiplin tidak membuang sampah ke lingkungan, maka masalah lain tidak muncul. Di antaranya yang paling sering terjadi banjir dan penyakit karena lingkungan kotor. “Kesadaran dan kedisiplinan masyarakat perlu ditekankan lagi. Agar ketika banjir pemerintah disalahkan, padahal penyebabnya karena sampah yang dibuat masyarakat,” tandasnya.

Baca Juga:  Kota Gianyar Dipercantik dengan Sembilan Bonsai dari Sidoarjo

 

Diberitakan sebelumnya, banjir yang disebabkan hujan deras pada Senin (20/9) lalu, hingga kemarin masih belum surut total. Drainase yang kecil dan tertutup sampah juga menyebabkan air tidak bisa surut.

NEGARA-Desa Pengambengan acap langganan banjir. Setiap banjir, air lambat surut. Penyebabnya, selain karena kontur tanah yang rendah dan drainase yang kecil sehingga tidak maksimal mengalirkan air. Pun sampah menjadi salah satu permasalahan yang belum teratasi.

 

Tumpukan sampah bisa ditemui di pinggir jalan. Bahkan dekat dengan selokan yang mengarah ke laut. Sampah yang terbuang ke selokan ini bisa menghambat aliran air drainase. Sehingga menyebabkan banjir dan air berhari-hari surut.

 

Kondisi tersebut diakui Perbekel Desa Pengambengan Kamaruzzaman. Menurutnya, sampah yang dibuang warga ke lingkungan memang masih terjadi, tidak hanya warga Desa Pengambengan tetapi juga warga dari luar. Karena sampah dibuang pada malam hari, pihaknya belum menemukan pelaku yang biasa buang sampah di lingkungan, terutama dekat selokan mengarah ke laut yang baru dibuat. “Banyak orang luar yang ikut buang sampah di sana,” ujar Perbekel, Kamis (23/9).

Baca Juga:  Dua Rumah Warga di Jembrana Ambruk Diterjang Hujan dan Angin

 

Lokasi pembuangan sampah dekat selokan ke pantai, sebelumnya terdapat bak penampungan sampah sementara dari Dinas Lingkungan Hidup. Namun, saat ini bak sampah tersebut sudah diambil lagi karena ada program penanganan sampah yang dilakukan oleh pihak ketiga melalui program stop. “Kami di desa sudah persiapkan pengolahan sampah berbasis desa,” terangnya.

 

Selama program pengolahan sampah berbasis desa belum berjalan, pihak desa sudah rutin bersama masyarakat melakukan gotong-royong setiap hari Jumat. Sejumlah titik yang menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat juga sudah dipasang spanduk larangan membuang sampah, tetapi sepanduknya justru hilang.

 

Menurut Perbekel, mengenai sampah yang masih menjadi masalah klasik di Desa Pengambengan, tergantung kesadaran dari masyarakat. Apabila masyarakat sadar dan disiplin tidak membuang sampah ke lingkungan, maka masalah lain tidak muncul. Di antaranya yang paling sering terjadi banjir dan penyakit karena lingkungan kotor. “Kesadaran dan kedisiplinan masyarakat perlu ditekankan lagi. Agar ketika banjir pemerintah disalahkan, padahal penyebabnya karena sampah yang dibuat masyarakat,” tandasnya.

Baca Juga:  Kesangkut Korupsi Pepadu, Status PNS Ketut Wisada Digantung Pemkab

 

Diberitakan sebelumnya, banjir yang disebabkan hujan deras pada Senin (20/9) lalu, hingga kemarin masih belum surut total. Drainase yang kecil dan tertutup sampah juga menyebabkan air tidak bisa surut.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/