alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Innalillahi…Kondisi Menurun, Bayi Kembar Siam Meninggal Dunia

RadarBali.com – Bayi kembar siam, buah hati pasangan Syamsudin, 48, dan Asyini, 38, mengembuskan nafas terakhirnya.

Bayi kembar siam yang lahir premature itu, dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 18.00, Minggu (22/10) sore. Bayi meninggal, setelah kondisinya terus merosot sejak Sabtu (21/10) sore.

Bayi yang mengalami dempet pada bagian dada hingga perut ini, sempat mengalami panas tinggi. Tim medis pun terus memberikan perhatian ekstra, agar kondisi bayi tersebut tetap stabil dan tidak terkena infeksi.

Kasubbag Humas RSUD Buleleng I Ketut Budiantara mengatakan, bayi kembar siam dengan jenis kelamin perempuan itu, sejak Jumat terus berada dalam pengawasan intensif tim dokter.

Bayi dirawat di Ruang NICU dengan pengawasan selama 24 jam penuh. Bayi juga dirawat di dalam inkubator agar tak mengalami hipotermia dan kondisinya benar-benar steril.

Budi mengatakan, sejak Sabtu (21/10) lalu, kondisi kedua bayi sempat naik turun. Secara umum, pada Minggu (22/10), kondisi kedua bayi menurun. Apalagi bayi sempat mengalami demam.

“Bayinya sempat mengalami demam beberapa kali. Terakhir tadi pagi (Minggu, Red), panasnya sampai 39 lebih. Sekitar jam 18.00, dinyatakan meninggal oleh tim medis,” kata Budiantara.

Direktur RSUD Buleleng dr. Gede Wiartana yang dihubungi terpisah, membenarkan bayi kembar siam yang premature itu meninggal dunia.

Menurut Wiartana, kondisi bayi sejak awal memang kurang stabil. Mengingat bayi dilahirkan dalam kondisi premature, yakni usia 31 minggu kehamilan.

Tim medis pun sudah berencana merujuk ke RS Sanglah. Namun belum dilakukan karena kondisi bayi belum stabil.

Menurut Wiartana, dari kacamata medis, usia 31 minggu kehamilan memang belum cukup bulan.

 “Dengan kondisi itu, organ dalamnya belum siap. Tapi kami berusaha semaksimal mungkin menjaga kondisi bayi stabil. Karena menstabilkan kondisi itu yang paling penting,” jelas Wiartana.

Untuk sementara, tim medis menduga kedua bayi kembar siam itu meninggal karena kegagalan organ.

Selain itu bayi juga belum cukup umur, sehingga organ dalam belum cukup umur untuk mendukung kehidupan bayi.



RadarBali.com – Bayi kembar siam, buah hati pasangan Syamsudin, 48, dan Asyini, 38, mengembuskan nafas terakhirnya.

Bayi kembar siam yang lahir premature itu, dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 18.00, Minggu (22/10) sore. Bayi meninggal, setelah kondisinya terus merosot sejak Sabtu (21/10) sore.

Bayi yang mengalami dempet pada bagian dada hingga perut ini, sempat mengalami panas tinggi. Tim medis pun terus memberikan perhatian ekstra, agar kondisi bayi tersebut tetap stabil dan tidak terkena infeksi.

Kasubbag Humas RSUD Buleleng I Ketut Budiantara mengatakan, bayi kembar siam dengan jenis kelamin perempuan itu, sejak Jumat terus berada dalam pengawasan intensif tim dokter.

Bayi dirawat di Ruang NICU dengan pengawasan selama 24 jam penuh. Bayi juga dirawat di dalam inkubator agar tak mengalami hipotermia dan kondisinya benar-benar steril.

Budi mengatakan, sejak Sabtu (21/10) lalu, kondisi kedua bayi sempat naik turun. Secara umum, pada Minggu (22/10), kondisi kedua bayi menurun. Apalagi bayi sempat mengalami demam.

“Bayinya sempat mengalami demam beberapa kali. Terakhir tadi pagi (Minggu, Red), panasnya sampai 39 lebih. Sekitar jam 18.00, dinyatakan meninggal oleh tim medis,” kata Budiantara.

Direktur RSUD Buleleng dr. Gede Wiartana yang dihubungi terpisah, membenarkan bayi kembar siam yang premature itu meninggal dunia.

Menurut Wiartana, kondisi bayi sejak awal memang kurang stabil. Mengingat bayi dilahirkan dalam kondisi premature, yakni usia 31 minggu kehamilan.

Tim medis pun sudah berencana merujuk ke RS Sanglah. Namun belum dilakukan karena kondisi bayi belum stabil.

Menurut Wiartana, dari kacamata medis, usia 31 minggu kehamilan memang belum cukup bulan.

 “Dengan kondisi itu, organ dalamnya belum siap. Tapi kami berusaha semaksimal mungkin menjaga kondisi bayi stabil. Karena menstabilkan kondisi itu yang paling penting,” jelas Wiartana.

Untuk sementara, tim medis menduga kedua bayi kembar siam itu meninggal karena kegagalan organ.

Selain itu bayi juga belum cukup umur, sehingga organ dalam belum cukup umur untuk mendukung kehidupan bayi.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/