alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Cegah Banjir, Mandeg Sebulan Lebih, DAS Tiingtali Kembali Dikeruk

SINGARAJA  – Setelah sebulan lebih terhenti, pekerjaan normalisasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tiingtali berlanjut lagi.

Kali ini jalur yang dinormalisasi terletak di Banjar Dinas Seraya, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng.

DAS Tiingtali sebenarnya salah satu aliran sungai yang cukup besar di Kabupaten Buleleng. Bagian hulu aliran sungai ini berada di Desa Panji, Kecamatan Sukasada. 

Sementara bagian hilir berada di Desa Baktiseraga. Sebenarnya proses normalisasi di DAS Baktiseraga sudah berjalan sejak dua bulan terakhir. 

Hanya saja, sejak sebulan lalu, pekerjaan normalisasi terhenti. Kemarin (22/12), pekerjaan normalisasi terlihat kembali berlanjut.

Sebuah ekskavator dikerahkan untuk mengeruk aliran sungai di Banjar Dinas Seraya. Lokasinya tak jauh dari Balai Banjar Dinas Seraya. 

Baca Juga:  Buntu, MDA Ambil Alih Mediasi Sengketa Kuburan 2 Desa Adat di Buleleng

Sedimentasi yang dikeruk pun cukup dalam. Mencapai satu meter. Perbekel Baktiseraga Gusti Putu Armada mengatakan, pekerjaan normalisasi itu memang baru dikerjakan kembali. 

Sebab perlu dilakukan normalisasi sodetan yang membentang di Jalan Laksamana, Desa Baktiseraga. Sodetan itu terletak tepat di sebelah barat Balai Banjar Dinas Seraya.

“Kalau dulu sodetannya itu sempit sekali. Sekarang sudah lebih besar dengan diameter 1,5×1,5 meter. Setelah sodetan selesai, langsung dikerjakan normalisasi,” kata Armada.

Menurutnya, ada sejumlah pekerjaan yang muncul di DAS Tiingtali. Di antaranya pembuatan sodetan di wilayah Banjar Dinas Seraya, pembuatan sodetan di Banjar Dinas Galiran, dan normalisasi di sepanjang Jalan Laksamana. 

Armada menyebut, pekerjaan normalisasi cukup penting. “Endapannya tebal sekali. kalau di Galiran itu, endepannya antara 1,5 meter sampai 2 meter. 

Baca Juga:  Mediasi Sengketa Kuburan Antar Dua Desa Adat di Buleleng Bali Gagal

Sisanya itu hanya 20 centimeter. Seingat saya, sejak saya kecil sampai sekarang saya umur 50 tahun, memang belum pernah dikeruk,” katanya.

Lebih lanjut Armada mengatakan, setelah normalisasi tuntas, pihaknya akan mengumpulkan warga dan pemilik badan usaha yang berada di sekitar DAS Tiingtali. 

Mereka diminta tak menutup aliran sungai, menggunakan beton. “Kami sarankan pakai besi saja. Supaya gampang melakukan pembersihan. 

Terutama kalau ada kayu-kayu gelondongan hanyut. Kalau kemarin-kemarin ini kan nggak bisa bersih sama sekali, karena sudah nyangkut di bawah beton,” tandasnya.



SINGARAJA  – Setelah sebulan lebih terhenti, pekerjaan normalisasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tiingtali berlanjut lagi.

Kali ini jalur yang dinormalisasi terletak di Banjar Dinas Seraya, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng.

DAS Tiingtali sebenarnya salah satu aliran sungai yang cukup besar di Kabupaten Buleleng. Bagian hulu aliran sungai ini berada di Desa Panji, Kecamatan Sukasada. 

Sementara bagian hilir berada di Desa Baktiseraga. Sebenarnya proses normalisasi di DAS Baktiseraga sudah berjalan sejak dua bulan terakhir. 

Hanya saja, sejak sebulan lalu, pekerjaan normalisasi terhenti. Kemarin (22/12), pekerjaan normalisasi terlihat kembali berlanjut.

Sebuah ekskavator dikerahkan untuk mengeruk aliran sungai di Banjar Dinas Seraya. Lokasinya tak jauh dari Balai Banjar Dinas Seraya. 

Baca Juga:  Potensi Pasar Besar, Bisnis VCO di Buleleng Mulai Menggeliat

Sedimentasi yang dikeruk pun cukup dalam. Mencapai satu meter. Perbekel Baktiseraga Gusti Putu Armada mengatakan, pekerjaan normalisasi itu memang baru dikerjakan kembali. 

Sebab perlu dilakukan normalisasi sodetan yang membentang di Jalan Laksamana, Desa Baktiseraga. Sodetan itu terletak tepat di sebelah barat Balai Banjar Dinas Seraya.

“Kalau dulu sodetannya itu sempit sekali. Sekarang sudah lebih besar dengan diameter 1,5×1,5 meter. Setelah sodetan selesai, langsung dikerjakan normalisasi,” kata Armada.

Menurutnya, ada sejumlah pekerjaan yang muncul di DAS Tiingtali. Di antaranya pembuatan sodetan di wilayah Banjar Dinas Seraya, pembuatan sodetan di Banjar Dinas Galiran, dan normalisasi di sepanjang Jalan Laksamana. 

Armada menyebut, pekerjaan normalisasi cukup penting. “Endapannya tebal sekali. kalau di Galiran itu, endepannya antara 1,5 meter sampai 2 meter. 

Baca Juga:  Duh, Kota Singaraja Dikepung Banjir

Sisanya itu hanya 20 centimeter. Seingat saya, sejak saya kecil sampai sekarang saya umur 50 tahun, memang belum pernah dikeruk,” katanya.

Lebih lanjut Armada mengatakan, setelah normalisasi tuntas, pihaknya akan mengumpulkan warga dan pemilik badan usaha yang berada di sekitar DAS Tiingtali. 

Mereka diminta tak menutup aliran sungai, menggunakan beton. “Kami sarankan pakai besi saja. Supaya gampang melakukan pembersihan. 

Terutama kalau ada kayu-kayu gelondongan hanyut. Kalau kemarin-kemarin ini kan nggak bisa bersih sama sekali, karena sudah nyangkut di bawah beton,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/