alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Hutan di Jembrana Rusak Parah, Pengawen Mulai Tanami Dengan Pohon Buah

NEGARA – Kondisi hutan yang berada di utara Jembrana, sejak dua dekade ini mengalami kerusakan parah.

Pohon besar ditebang dan hutan beralih fungsi menjadi perkebunan yang dimiliki warga atau pengawen.

Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di seluruh hutan Jembrana, dari ujung barat di Kecamatan Melaya hingga Kecamatan Pekutatan di bagian timur.

Karena kerusakan hutan tersebut, masyarakat mengalami dampaknya, tidak hanya pengawen, tetapi warga lain.

Dampak yang paling terasa adalah krisis air bersih saat musim kemarau. Warga yang dulu tidak pernah kekeringan, karena kondisi hutan mulai gundul mulai merasakan dampak kekeringan.

“Dampaknya pada air. Saat kemarau kekurangan air. Padahal, dulu waktu hutan masih bagus, tidak pernah kekurangan air,” kata Gusti Komang Artha, warga Banjar Benel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya kemarin.

Baca Juga:  Jembrana Raih Anugerah Parahita Ekapraya Kementerian PPPA

Karena dampak kekeringan tersebut, pria yang juga pengawen di hutan mulai menanami lahan 40 are hasil dari membabat hutan dua puluh tahun silam itu dengan pohon buah.

Seperti durian dan pohon buah lainnya. Tanaman pisang dan tanaman musiman hanya sebagian kecil dari lahan yang dikelolanya. “Pohonnya swadaya dan dapat bantuan juga,” imbuhnya.

Selain Artha, warga lain yang memiliki lahan awen di hutan sudah beralih dengan menanam pohon buah dan kayu hutan.

Warga mulai sadar untuk mengembalikan fungsi hutan dengan menanam pohon yang bisa mengembalikan kondisi hutan lebih baik dan bermanfaat bagi warga.

 



NEGARA – Kondisi hutan yang berada di utara Jembrana, sejak dua dekade ini mengalami kerusakan parah.

Pohon besar ditebang dan hutan beralih fungsi menjadi perkebunan yang dimiliki warga atau pengawen.

Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di seluruh hutan Jembrana, dari ujung barat di Kecamatan Melaya hingga Kecamatan Pekutatan di bagian timur.

Karena kerusakan hutan tersebut, masyarakat mengalami dampaknya, tidak hanya pengawen, tetapi warga lain.

Dampak yang paling terasa adalah krisis air bersih saat musim kemarau. Warga yang dulu tidak pernah kekeringan, karena kondisi hutan mulai gundul mulai merasakan dampak kekeringan.

“Dampaknya pada air. Saat kemarau kekurangan air. Padahal, dulu waktu hutan masih bagus, tidak pernah kekurangan air,” kata Gusti Komang Artha, warga Banjar Benel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya kemarin.

Baca Juga:  Terbaik Tangani Covid-19 di Bali, Pusat Ganjar Jembrana DID Rp 14,9 M

Karena dampak kekeringan tersebut, pria yang juga pengawen di hutan mulai menanami lahan 40 are hasil dari membabat hutan dua puluh tahun silam itu dengan pohon buah.

Seperti durian dan pohon buah lainnya. Tanaman pisang dan tanaman musiman hanya sebagian kecil dari lahan yang dikelolanya. “Pohonnya swadaya dan dapat bantuan juga,” imbuhnya.

Selain Artha, warga lain yang memiliki lahan awen di hutan sudah beralih dengan menanam pohon buah dan kayu hutan.

Warga mulai sadar untuk mengembalikan fungsi hutan dengan menanam pohon yang bisa mengembalikan kondisi hutan lebih baik dan bermanfaat bagi warga.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/