alexametrics
28.8 C
Denpasar
Thursday, June 30, 2022

Madenan Punya Seribuan Pohon Alpukat, Didorong Jadi Produk Unggulan

SINGARAJA – Apa yang terpikir di benak Anda bila menyebut kata Madenan? Hal pertama yang muncul pasti ayam jago. Maklum selama ini Madenan tersohor karena peternakan ayam jago di desa tersebut.

Ayam yang dihasilkan disebut sebagai ayam-ayam unggul. Terlebih saat ayam-ayam itu turun di arena sabung ayam.

Selain ayam, biasanya Madenan juga identik dengan cengkih. Cengkih yang dihasilkan oleh petani di desa ini masuk dalam kategori cengkih unggul.

Ada pula durian. Durian yang tersohor ialah durian Ki Raja yang sempat meraih gelar runner up pada Festival Durian yang dilangsungkan pada Desember 2019 lalu.

Kini pemerintah desa setempat tengah berusaha mengembangkan produk unggulan baru. Yakni buah alpukat. Saat ini di Desa Madenan setidaknya ada dua jenis varietas yang ditanam petani setempat. Yakni alpukat mentega dan alpukat green star.

Perbekel Madenan Gede Mustika mengatakan, alpukat awalnya hanya ditanam untuk memenuhi kebutuhan buah keluarga. Belakangan masyarakat makin getol menanam buah alpukat.

Tanaman cengkih yang meranggas mati maupun yang tidak produktif, diganti dengan tanaman alpukat. Biasanya tiap petani selalu memiliki pohon alpukat, meski jumlahnya hanya 1-2 batang saja.

Mustika menyebut alpukat yang dihasilkan petani setempat memiliki sejumlah keunggulan. Dari sisi tekstur dan rasa, alpukat ini terasa sangat legit bahkan lumer. Dari sisi tampilan luar juga cukup mulus. Tak heran bila banyak alpukat dari Desa Madenan yang dijual di supermarket.

“Banyak alpukat dari petani kami yang sudah masuk supermarket. Tapi supliernya memang terbatas. Kebanyakan dari pengepul, kemudian dipilah lagi, baru masuk supermarket. Biasanya untuk kualitas supermarket itu, harganya sudah di atas Rp 20 ribu per kilogram,” kata Mustika saat dihubungi dari Singaraja kemarin (22/12).

Lebih lanjut Mustika mengatakan, saat ini kebanyakan petani menanam alpukat dengan sistem tumpang sari. Belum ada petani yang memang benar-benar fokus menanam alpukat untuk dibudidayakan. Meski hanya sekadar tumpang sari, Mustika memperkirakan populasi pohon alpukat di desanya tak kurang dari seribu batang.

Untuk proses budi daya, biasanya para petani setempat mengambil bibit dari sekitar desa. Mereka enggan mengambil bibit dari luar desa. Karena petani meyakini tanaman-tanaman yang ada di Desa Madenan merupakan tanaman unggul. Baik dari segi cuaca maupun daya tahan.

“Kami juga sudah serahkan alpukat ini pada Pak Bupati. Mudah-mudahan bisa masuk dalam daftar buah unggulan. Jadi bisa dijual di Pasar Banyuasri. Biar pasar untuk petani kami semakin luas lagi,” harapnya.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengaku sudah mendapatkan buah tersebut. Agus mengatakan tim curator akan mencicipi serta mengolah alpukat tersebut. Nantinya tim juga akan membandingkan rasa buah alpukat dari Desa Madenan, dengan buah alpukat dari desa lain yang ada di Buleleng.

“Kami ingin buah yang masuk kategori unggul itu benar-benar terukur. Makanya saya libatkan tim kurator independen, untuk memastikan apakah buah itu memang unggul atau tidak. Yang jelas saya berharap ke depan Buleleng ini benar-benar menjadi sentra produksi buah yang unggul dan berkualitas,” tukas Agus. 



SINGARAJA – Apa yang terpikir di benak Anda bila menyebut kata Madenan? Hal pertama yang muncul pasti ayam jago. Maklum selama ini Madenan tersohor karena peternakan ayam jago di desa tersebut.

Ayam yang dihasilkan disebut sebagai ayam-ayam unggul. Terlebih saat ayam-ayam itu turun di arena sabung ayam.

Selain ayam, biasanya Madenan juga identik dengan cengkih. Cengkih yang dihasilkan oleh petani di desa ini masuk dalam kategori cengkih unggul.

Ada pula durian. Durian yang tersohor ialah durian Ki Raja yang sempat meraih gelar runner up pada Festival Durian yang dilangsungkan pada Desember 2019 lalu.

Kini pemerintah desa setempat tengah berusaha mengembangkan produk unggulan baru. Yakni buah alpukat. Saat ini di Desa Madenan setidaknya ada dua jenis varietas yang ditanam petani setempat. Yakni alpukat mentega dan alpukat green star.

Perbekel Madenan Gede Mustika mengatakan, alpukat awalnya hanya ditanam untuk memenuhi kebutuhan buah keluarga. Belakangan masyarakat makin getol menanam buah alpukat.

Tanaman cengkih yang meranggas mati maupun yang tidak produktif, diganti dengan tanaman alpukat. Biasanya tiap petani selalu memiliki pohon alpukat, meski jumlahnya hanya 1-2 batang saja.

Mustika menyebut alpukat yang dihasilkan petani setempat memiliki sejumlah keunggulan. Dari sisi tekstur dan rasa, alpukat ini terasa sangat legit bahkan lumer. Dari sisi tampilan luar juga cukup mulus. Tak heran bila banyak alpukat dari Desa Madenan yang dijual di supermarket.

“Banyak alpukat dari petani kami yang sudah masuk supermarket. Tapi supliernya memang terbatas. Kebanyakan dari pengepul, kemudian dipilah lagi, baru masuk supermarket. Biasanya untuk kualitas supermarket itu, harganya sudah di atas Rp 20 ribu per kilogram,” kata Mustika saat dihubungi dari Singaraja kemarin (22/12).

Lebih lanjut Mustika mengatakan, saat ini kebanyakan petani menanam alpukat dengan sistem tumpang sari. Belum ada petani yang memang benar-benar fokus menanam alpukat untuk dibudidayakan. Meski hanya sekadar tumpang sari, Mustika memperkirakan populasi pohon alpukat di desanya tak kurang dari seribu batang.

Untuk proses budi daya, biasanya para petani setempat mengambil bibit dari sekitar desa. Mereka enggan mengambil bibit dari luar desa. Karena petani meyakini tanaman-tanaman yang ada di Desa Madenan merupakan tanaman unggul. Baik dari segi cuaca maupun daya tahan.

“Kami juga sudah serahkan alpukat ini pada Pak Bupati. Mudah-mudahan bisa masuk dalam daftar buah unggulan. Jadi bisa dijual di Pasar Banyuasri. Biar pasar untuk petani kami semakin luas lagi,” harapnya.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengaku sudah mendapatkan buah tersebut. Agus mengatakan tim curator akan mencicipi serta mengolah alpukat tersebut. Nantinya tim juga akan membandingkan rasa buah alpukat dari Desa Madenan, dengan buah alpukat dari desa lain yang ada di Buleleng.

“Kami ingin buah yang masuk kategori unggul itu benar-benar terukur. Makanya saya libatkan tim kurator independen, untuk memastikan apakah buah itu memang unggul atau tidak. Yang jelas saya berharap ke depan Buleleng ini benar-benar menjadi sentra produksi buah yang unggul dan berkualitas,” tukas Agus. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/