alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Dicegat di Gilimanuk, Ratusan Orang Gagal Mudik ke Jawa

NEGARA—Pemerintah telah memberlakukan larangan mudik, mulai Jumat (24/4) pukul 00.00 Wita.

Meski sudah diberlakukan, namun ada ratusan kendaraan baik roda empat dan roda dua yang datang dari arah Bali Selatan menuju Pelabuhan  Gilimanuk untuk menyeberang.

Akibatnya, para calon pemudik inipun terpaksa dicegat dan disuruh balik ke asal keberangakatan.

Namun demikian, tidak sedikit yang menolak dikembalikan. Banyak yang tetap ngotot meneruskan perjalanan ke Jawa karena mengaku tidak untuk mudik.

“Saya tidak mudik. Rumah di Jawa, keluarga di Jawa. Kalau tidak boleh pulang jadi gelandangan di Bali, sudah tidak ada kerja,” ujar seorang pria yang dicegat di pos penyekat Terminal Negara, Kecamatan Negara, Jumat (24/4).

Sementara meski banyak yang berdalih tidak mudik, puluhan orang yang menggunakan motor maupun mobil dari Denpasar menuju Pelabuhan Gilimanuk, terpaksa harus balik kanan.

Polisi tidak mentolerir orang yang akan mudik di saat ada larangan mudik karena pandemi Covid-19.

Kapolres Jembrana AKBP I Ketut Gede Adi Wibawa mengatakan, operasi ketupat tahun ini dimulai lebih awal dan lebih lama, sekitar 37 hari. Dimulai sejak hari Jumat (24/4) hingga Sabtu (30/5).

Baca Juga:  Paman Cabul Belum Tersangka, Komnas Perlindungan Anak Turun Tangan

Selama operasi sebanyak 211 orang personil diterjunkan untuk mengamankan seluruh wilayah hukum Polres Jembrana, terutama di jalur utama Denpasar-Gilimanuk.

Pihaknya juga sudah mendirikan pos pengamanan dan pos penyekatan dengan jumlah masing-masing tiga pos. Pos penyekatan yang berada di tiga tempat, khusus untuk mencegah pemudik. Pos penyekatan yang ada di Pengragoan, menyekat pemudik dari Denpasar, Tabanan atau Bali selatan lainnya menuju ke Jawa.

“Sedangkan pos penyekat terminal Negara, untuk menyekat pemudik yang dari wilayah Jembrana dan yang masih ada lewat di pos Pengragoan,” terangnya.

Pos penyekat terakhir berada di terminal Kargo Gilimanuk. Pos yang berada di kawasan lingkungan Penginuman tersebut untuk mencegah pemudik dari wilayah Kecamatan Negara, Kecamatan Melaya dan pemudik dari wilayah Buleleng. “Tiga pos itu yang kita gunakan untuk penyekatan. Tujuannya untuk melaksanakan instruksi presiden mengenai larangan mudik,” tegasnya.

Sejak operasi ketupat berlangsung, kapolres menyebut sudah ada ratusan orang yang dikembalikan agar tidak mudik. Kendaraan yang dikembalikan, mayoritas adalah kendaraan roda dua.

Meski ada larangan mudik, pelabuhan Gilimanuk tetap buka dan beroperasi normal. Hanya saja, pelabuhan diprioritaskan untuk akses kendaraan yang membawa logistik dari Jawa menuju Bali, NTT dan NTB maupun sebaliknya.” Logistik tetap jalan, cuma untuk warga yang mudik dilarang,” tegasnya.

Baca Juga:  Gubernur Koster Jamin Penanganan Ekstra Ketat Cegah Corona Masuk Bali

Pihaknya akan berkoordinasi dengan PT.ASDP Indonesia Ferry untuk mencegah pemudik dari awal. Yakni dari pembelian tiket. Karena sampai saat ini belum diberlakukan seratus persen mengenai pembelian tiket secara daring, masih belum bisa dilaksanakan.

“Pelaksanaan nanti 1 Mei, nanti akan koordinasi dengan ASDP apabila ada pengguna jasa penyeberangan agar bisa diseleksi lebih ketat,” tegasnya.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang-Gilimanuk Fahmi Alweni mengatakan, pelabuhan penyeberangan Gilimanuk beroperasi normal, artinya tidak ada penutupan pelabuhan. Kalau kapal penyeberangan juga mengangkut logistik. Tetapi kalau mengenai pelarangan mudik merupakan kewenangan dari Gugus Tugas.

Aparat gabungan dari TNI, Polri dan Perhubungan sudah melakukan pengamanan dan penjagaan di luar pelabuhan.

Apabila masih ada pemudik yang bandel dan sudah membeli tiket tidak ada kewenangan menolak. Misalnya ada yang ditolak dan sudah membeli tiket secara online, ASDP akan mengambilkan uangnya.

“Terkait dengan penegakan terhadap yang akan melakukan mudik, bukan di ASDP,” ujarnya. 



NEGARA—Pemerintah telah memberlakukan larangan mudik, mulai Jumat (24/4) pukul 00.00 Wita.

Meski sudah diberlakukan, namun ada ratusan kendaraan baik roda empat dan roda dua yang datang dari arah Bali Selatan menuju Pelabuhan  Gilimanuk untuk menyeberang.

Akibatnya, para calon pemudik inipun terpaksa dicegat dan disuruh balik ke asal keberangakatan.

Namun demikian, tidak sedikit yang menolak dikembalikan. Banyak yang tetap ngotot meneruskan perjalanan ke Jawa karena mengaku tidak untuk mudik.

“Saya tidak mudik. Rumah di Jawa, keluarga di Jawa. Kalau tidak boleh pulang jadi gelandangan di Bali, sudah tidak ada kerja,” ujar seorang pria yang dicegat di pos penyekat Terminal Negara, Kecamatan Negara, Jumat (24/4).

Sementara meski banyak yang berdalih tidak mudik, puluhan orang yang menggunakan motor maupun mobil dari Denpasar menuju Pelabuhan Gilimanuk, terpaksa harus balik kanan.

Polisi tidak mentolerir orang yang akan mudik di saat ada larangan mudik karena pandemi Covid-19.

Kapolres Jembrana AKBP I Ketut Gede Adi Wibawa mengatakan, operasi ketupat tahun ini dimulai lebih awal dan lebih lama, sekitar 37 hari. Dimulai sejak hari Jumat (24/4) hingga Sabtu (30/5).

Baca Juga:  Kejaksaan Ingatkan Perbekel Main-main Dana Covid-19 Bisa Dipidana

Selama operasi sebanyak 211 orang personil diterjunkan untuk mengamankan seluruh wilayah hukum Polres Jembrana, terutama di jalur utama Denpasar-Gilimanuk.

Pihaknya juga sudah mendirikan pos pengamanan dan pos penyekatan dengan jumlah masing-masing tiga pos. Pos penyekatan yang berada di tiga tempat, khusus untuk mencegah pemudik. Pos penyekatan yang ada di Pengragoan, menyekat pemudik dari Denpasar, Tabanan atau Bali selatan lainnya menuju ke Jawa.

“Sedangkan pos penyekat terminal Negara, untuk menyekat pemudik yang dari wilayah Jembrana dan yang masih ada lewat di pos Pengragoan,” terangnya.

Pos penyekat terakhir berada di terminal Kargo Gilimanuk. Pos yang berada di kawasan lingkungan Penginuman tersebut untuk mencegah pemudik dari wilayah Kecamatan Negara, Kecamatan Melaya dan pemudik dari wilayah Buleleng. “Tiga pos itu yang kita gunakan untuk penyekatan. Tujuannya untuk melaksanakan instruksi presiden mengenai larangan mudik,” tegasnya.

Sejak operasi ketupat berlangsung, kapolres menyebut sudah ada ratusan orang yang dikembalikan agar tidak mudik. Kendaraan yang dikembalikan, mayoritas adalah kendaraan roda dua.

Meski ada larangan mudik, pelabuhan Gilimanuk tetap buka dan beroperasi normal. Hanya saja, pelabuhan diprioritaskan untuk akses kendaraan yang membawa logistik dari Jawa menuju Bali, NTT dan NTB maupun sebaliknya.” Logistik tetap jalan, cuma untuk warga yang mudik dilarang,” tegasnya.

Baca Juga:  Puluhan Pekerja Migran Rapid Test, Nusa Penida Nihil Kasus Covid-19

Pihaknya akan berkoordinasi dengan PT.ASDP Indonesia Ferry untuk mencegah pemudik dari awal. Yakni dari pembelian tiket. Karena sampai saat ini belum diberlakukan seratus persen mengenai pembelian tiket secara daring, masih belum bisa dilaksanakan.

“Pelaksanaan nanti 1 Mei, nanti akan koordinasi dengan ASDP apabila ada pengguna jasa penyeberangan agar bisa diseleksi lebih ketat,” tegasnya.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang-Gilimanuk Fahmi Alweni mengatakan, pelabuhan penyeberangan Gilimanuk beroperasi normal, artinya tidak ada penutupan pelabuhan. Kalau kapal penyeberangan juga mengangkut logistik. Tetapi kalau mengenai pelarangan mudik merupakan kewenangan dari Gugus Tugas.

Aparat gabungan dari TNI, Polri dan Perhubungan sudah melakukan pengamanan dan penjagaan di luar pelabuhan.

Apabila masih ada pemudik yang bandel dan sudah membeli tiket tidak ada kewenangan menolak. Misalnya ada yang ditolak dan sudah membeli tiket secara online, ASDP akan mengambilkan uangnya.

“Terkait dengan penegakan terhadap yang akan melakukan mudik, bukan di ASDP,” ujarnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/