alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Angka Kasus Kematian Akibat Covid di Buleleng Terus Terkerek Naik

SINGARAJA– Kasus kematian akibat covid-19 terus melaju di Buleleng.

Pada Kamis (22/7), Satgas sempat mengumumkan ada 7 (tujuh) kasus kematian terkait covid-19. Sementara pada Jumat (23/7), kasus kematian meningkat menjadi 11 kasus.

Merujuk data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, sebagian besar kasus meninggal dunia terjadi di RSUD Buleleng.

Pada Kamis tercatat ada 6 orang pasien  dari total 7 orang pasien yang meninggal di RSUD. Sementara pada Jumat tercatat ada 6 orang pasien dari total 11 orang pasien  yang juga meninggal di RSUD Buleleng.

Angka yang terus melaju tinggi, dikhawatirkan merupakan dampak langsung dari krisis pasokan oksigen yang terjadi sejak dua pekan terakhir.

Namun Satgas dengan tegas membantah bahwa hal itu tak terkait dengan pasokan oksigen.

Dirut RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD mengatakan, sebagian besar kasus meninggal dunia tak berdiri sendiri.

- Advertisement -

Selain dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19, pasien juga memiliki penyakit bawaan. Sebagian besar memiliki riwayat pneumonia atau gangguan paru, ditambah penyakit bawaan seperti diabetes, ginjal, dan jantung.

Baca Juga:  “Obok-Obok” Dua Desa, Dua Warga Lokal Diperiksa Polisi

Sementara pasokan oksigen, disebut hanya salah satu faktor dalam melakukan perawatan pasien.

“Kalau oksigen disebut sebagai faktor yang berpengaruh (menyebabkan pasien meninggal), tentu harus kita atasi sebaik-baiknya,” kata Arya.

Menurutnya saat ini RSUD Buleleng sangat tergantung dengan pasokan oksigen dari Jawa Timur. Sebab pabrik terdekat yang melakukan ekstraksi oksigen hanya ada di Banyuwangi. Saat permintaan di Pulau Jawa melonjak, tak pelak suplai ke Bali juga terdampak.

Alhasil manajemen RSUD harus menghemat penggunaan oksigen. Saat ini oksigen yang berasal dari tabung sentral, hanya dialirkan ke Ruang ICU, NICU, ruang isolasi covid-19, serta ruang operasi. Sementara pasien non covid dibantu dengan tabung oksigen.

Selain itu manajemen juga membatasi tindakan operasi. Hanya operasi yang berkaitan dengan pendarahan, cedera kepala, melahirkan, usus buntu, dan beberapa operasi darurat lain yang bisa dilakukan.

Rencananya manajemen rumah sakit mengajukan pembelian alat ekstraksi oksigen pada pemerintah daerah. Alat itu seharga Rp 2,5 miliar hingga Rp 4 miliar. Dengan keberadaan alat itu, diharapkan krisis oksigen bisa teratasi.

Baca Juga:  Pasien Corona Melonjak, Desak Bupati Tetapkan Karangasem Berstatus KLB

Di sisi lain, Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengatakan, naiknya angka kematian di Buleleng tak terkait dengan krisis oksigen yang terjadi.

 “Kalau menurut saya, itu karena komorbid (penyakit bawaan). Saat ini kita sudah disuplai oksigen lagi. Masih mampu untuk beberapa hari mendatang,” kata Suyasa.

Suyasa menegaskan pemerintah terus berupaya mencari pasokan oksigen. Terakhir pasokan oksigen cair sebanyak 3 ton telah diterima pada pukul 02.00 Jumat (23/7) dini hari. Selain itu satgas juga berupaya mengisi sendiri tabung oksigen yang tersedia ke perusahaan ekstraksi di Banyuwangi.

“Kami juga upayakan pinjaman ke beberapa rumah sakit. Kemarin RSUD Negara membantu kami 50 tabung dan di RSUD Giri Emas juga dipinjam 10 tabung. Intinya jangan sampai pasien kekurangan oksigen,” tukas Suyasa. 

- Advertisement -

SINGARAJA– Kasus kematian akibat covid-19 terus melaju di Buleleng.

Pada Kamis (22/7), Satgas sempat mengumumkan ada 7 (tujuh) kasus kematian terkait covid-19. Sementara pada Jumat (23/7), kasus kematian meningkat menjadi 11 kasus.

Merujuk data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, sebagian besar kasus meninggal dunia terjadi di RSUD Buleleng.

Pada Kamis tercatat ada 6 orang pasien  dari total 7 orang pasien yang meninggal di RSUD. Sementara pada Jumat tercatat ada 6 orang pasien dari total 11 orang pasien  yang juga meninggal di RSUD Buleleng.

Angka yang terus melaju tinggi, dikhawatirkan merupakan dampak langsung dari krisis pasokan oksigen yang terjadi sejak dua pekan terakhir.

Namun Satgas dengan tegas membantah bahwa hal itu tak terkait dengan pasokan oksigen.

Dirut RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD mengatakan, sebagian besar kasus meninggal dunia tak berdiri sendiri.

Selain dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19, pasien juga memiliki penyakit bawaan. Sebagian besar memiliki riwayat pneumonia atau gangguan paru, ditambah penyakit bawaan seperti diabetes, ginjal, dan jantung.

Baca Juga:  Pipa Transmisi PDAM Selesai Diperbaiki, Normalisasi Belum Optimal

Sementara pasokan oksigen, disebut hanya salah satu faktor dalam melakukan perawatan pasien.

“Kalau oksigen disebut sebagai faktor yang berpengaruh (menyebabkan pasien meninggal), tentu harus kita atasi sebaik-baiknya,” kata Arya.

Menurutnya saat ini RSUD Buleleng sangat tergantung dengan pasokan oksigen dari Jawa Timur. Sebab pabrik terdekat yang melakukan ekstraksi oksigen hanya ada di Banyuwangi. Saat permintaan di Pulau Jawa melonjak, tak pelak suplai ke Bali juga terdampak.

Alhasil manajemen RSUD harus menghemat penggunaan oksigen. Saat ini oksigen yang berasal dari tabung sentral, hanya dialirkan ke Ruang ICU, NICU, ruang isolasi covid-19, serta ruang operasi. Sementara pasien non covid dibantu dengan tabung oksigen.

Selain itu manajemen juga membatasi tindakan operasi. Hanya operasi yang berkaitan dengan pendarahan, cedera kepala, melahirkan, usus buntu, dan beberapa operasi darurat lain yang bisa dilakukan.

Rencananya manajemen rumah sakit mengajukan pembelian alat ekstraksi oksigen pada pemerintah daerah. Alat itu seharga Rp 2,5 miliar hingga Rp 4 miliar. Dengan keberadaan alat itu, diharapkan krisis oksigen bisa teratasi.

Baca Juga:  Gempa Lombok Bergetar hingga Jembrana, Ini Dampaknya…

Di sisi lain, Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengatakan, naiknya angka kematian di Buleleng tak terkait dengan krisis oksigen yang terjadi.

 “Kalau menurut saya, itu karena komorbid (penyakit bawaan). Saat ini kita sudah disuplai oksigen lagi. Masih mampu untuk beberapa hari mendatang,” kata Suyasa.

Suyasa menegaskan pemerintah terus berupaya mencari pasokan oksigen. Terakhir pasokan oksigen cair sebanyak 3 ton telah diterima pada pukul 02.00 Jumat (23/7) dini hari. Selain itu satgas juga berupaya mengisi sendiri tabung oksigen yang tersedia ke perusahaan ekstraksi di Banyuwangi.

“Kami juga upayakan pinjaman ke beberapa rumah sakit. Kemarin RSUD Negara membantu kami 50 tabung dan di RSUD Giri Emas juga dipinjam 10 tabung. Intinya jangan sampai pasien kekurangan oksigen,” tukas Suyasa. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/