alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

CATAT! Fenomena La Nina Diprediksi hingga Februari 2022

SINGARAJA– Fenomena La Nina diprediksi akan berlangsung hingga bulan Februari mendatang. Fenomena itu akan memicu curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya.

 

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menyatakan fenomena itu dipicu suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang lebih dingin dari biasanya. Dampaknya angin yang bertiup ke arah Indonesia membawa uap air. Curah hujan pun mengalami peningkatan cukup signifikan.

 

Koordinator Bidang Data dan Informasi BBKMG Wilayah III Denpasar, Dwi Hartanto mengatakan dampak La Nina sudah mulai dirasakan. Contohnya curah hujan yang cukup tinggi di wilayah Bali. Selain itu fenomena waterspout atau pusaran angin yang terlihat berkali-kali di pesisir utara Pulau Bali.Meski begitu, Dwi meminta warga tidak panik.

Baca Juga:  Pasien Asimtomatik Perlu Motivasi dan Wajib Olah Raga Pagi dan Sore

 

“La Nina itu bukan badai tropis seperti badai seroja. Fenomena ini hanya menambah curah hujan,” kata Dwi saat ditemui di Kantor Bupati Buleleng, Selasa (23/11) pagi kemarin.

 

Menurutnya fenomena La Nina akan berlangsung cukup lama. Diperkirakan berlangsung hingga Februari mendatang. Ia pun meminta pemerintah meningkatkan upaya mitigasi. Sebab curah hujan yang tinggi biasanya akan diikuti dengan dampak bencana. Entah itu banjir maupun tanah longsor.

 

Pihaknya berjanji akan menyampaikan peringatan dini cuaca secara berkala. Sehingga pemerintah dapat melakukan mitigasi.

“Nanti ada semacam citra satelit. Kalau curah hujannya sudah di warna kuning, itu artinya harus waspada. Karena intensitasnya akan tinggi. Harus cepat direspon dengan upaya mitigasi,” imbuhnya.

Baca Juga:  Hampir Separo Kasus Covid-19 di Buleleng Terpusat di Kota Singaraja

 

Sementara itu, Sekkab Buleleng Gede Suyasa mengatakan, pemerintah daerah telah menerbitkan edaran terkait hal tersebut. Dalam edaran itu camat, perbekel, maupun lurah harus memerhatikan upaya mitigasi. Utamanya dari bencana banjir dan tanah longsor.

 

Selain itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng juga diminta menyiapkan upaya pencegahan serta mitigasi bencana. Sehingga fenomena La Nina tak memicu bencana yang fatal. Lebih lagi memicu jatuhnya korban jiwa.

 

“Beberapa tahun terakhir, upaya pencegahan dan mitigasi kita sudah cukup baik. Saya sudah instruksikan pada BPBD, agar upaya pencegahan saat ini diprioritaskan. Utamanya membersihkan sungai dari sampah dan rating-ranting kayu. Karena ini akan menghambat aliran air,” tukas Suyasa.


SINGARAJA– Fenomena La Nina diprediksi akan berlangsung hingga bulan Februari mendatang. Fenomena itu akan memicu curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya.

 

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menyatakan fenomena itu dipicu suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang lebih dingin dari biasanya. Dampaknya angin yang bertiup ke arah Indonesia membawa uap air. Curah hujan pun mengalami peningkatan cukup signifikan.

 

Koordinator Bidang Data dan Informasi BBKMG Wilayah III Denpasar, Dwi Hartanto mengatakan dampak La Nina sudah mulai dirasakan. Contohnya curah hujan yang cukup tinggi di wilayah Bali. Selain itu fenomena waterspout atau pusaran angin yang terlihat berkali-kali di pesisir utara Pulau Bali.Meski begitu, Dwi meminta warga tidak panik.

Baca Juga:  Dewan Rancang Insentif untuk Guru PAUD ke dalam Perda PAUD

 

“La Nina itu bukan badai tropis seperti badai seroja. Fenomena ini hanya menambah curah hujan,” kata Dwi saat ditemui di Kantor Bupati Buleleng, Selasa (23/11) pagi kemarin.

 

Menurutnya fenomena La Nina akan berlangsung cukup lama. Diperkirakan berlangsung hingga Februari mendatang. Ia pun meminta pemerintah meningkatkan upaya mitigasi. Sebab curah hujan yang tinggi biasanya akan diikuti dengan dampak bencana. Entah itu banjir maupun tanah longsor.

 

Pihaknya berjanji akan menyampaikan peringatan dini cuaca secara berkala. Sehingga pemerintah dapat melakukan mitigasi.

“Nanti ada semacam citra satelit. Kalau curah hujannya sudah di warna kuning, itu artinya harus waspada. Karena intensitasnya akan tinggi. Harus cepat direspon dengan upaya mitigasi,” imbuhnya.

Baca Juga:  Waspada, Banyak Jalur Rawan Kecelakaan Belum Terpasang Guard Rail

 

Sementara itu, Sekkab Buleleng Gede Suyasa mengatakan, pemerintah daerah telah menerbitkan edaran terkait hal tersebut. Dalam edaran itu camat, perbekel, maupun lurah harus memerhatikan upaya mitigasi. Utamanya dari bencana banjir dan tanah longsor.

 

Selain itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng juga diminta menyiapkan upaya pencegahan serta mitigasi bencana. Sehingga fenomena La Nina tak memicu bencana yang fatal. Lebih lagi memicu jatuhnya korban jiwa.

 

“Beberapa tahun terakhir, upaya pencegahan dan mitigasi kita sudah cukup baik. Saya sudah instruksikan pada BPBD, agar upaya pencegahan saat ini diprioritaskan. Utamanya membersihkan sungai dari sampah dan rating-ranting kayu. Karena ini akan menghambat aliran air,” tukas Suyasa.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/