alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Masuk Musim Hujan, Produksi Garam Amet Dihentikan

AMLAPURA- Memasuki musim hujan, petani garam di Amed, Kecamatan Abang terpaksa harus menghentikan produksi garam mereka. Kondisi ini rutin terjadi mengingat cuaca yang tidak bersahabat melakukan aktivitas penggaraman. 

 

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed, I Nengah Suanda mengakui hingga saat ini para petani garam masih melakukan produksi. “Cuacanya kadang terik. Kalau musim hujannya sudah intens mungkin di akhir November atau awal Desember ini barulah petani benar-benar tidak memproduksi garam,” tuturnya.

 

Suanda menerangkan, produksi garam untuk mencapai hasil maksimal dilakukan saat musim panas. Saat ini, stok garam yang tersedia mencapai 20 ton. Hanya saja saat pandemi, penjualan garam turun drastis.

Baca Juga:  Satu Siswa SMA Positif, Satu Kelas Belajar Daring

 

“Karena pariwisata tidak jalan, jadi berpengaruh pada serapan produk garam Amed. Terlebih penjualan kami lebih banyak untuk kebutuhan hotel dan restoran. Beruntung masih bisa menutupi biaya operasional,” kata Suanda.

- Advertisement -

 

Diakui, akibat pandemi para petani di Amed mengalami kesulitan permodalan. “Untungnya dibantu KUR, jadi operasional tidak berhenti, dan tetap jalan. Ini juga sebuah perhatian dari Pemprov Bali,” tandasnya.

- Advertisement -

AMLAPURA- Memasuki musim hujan, petani garam di Amed, Kecamatan Abang terpaksa harus menghentikan produksi garam mereka. Kondisi ini rutin terjadi mengingat cuaca yang tidak bersahabat melakukan aktivitas penggaraman. 

 

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed, I Nengah Suanda mengakui hingga saat ini para petani garam masih melakukan produksi. “Cuacanya kadang terik. Kalau musim hujannya sudah intens mungkin di akhir November atau awal Desember ini barulah petani benar-benar tidak memproduksi garam,” tuturnya.

 

Suanda menerangkan, produksi garam untuk mencapai hasil maksimal dilakukan saat musim panas. Saat ini, stok garam yang tersedia mencapai 20 ton. Hanya saja saat pandemi, penjualan garam turun drastis.

Baca Juga:  Diserang Jero Ketut, Puluhan Petani di Geriana Kangin Resah

 

“Karena pariwisata tidak jalan, jadi berpengaruh pada serapan produk garam Amed. Terlebih penjualan kami lebih banyak untuk kebutuhan hotel dan restoran. Beruntung masih bisa menutupi biaya operasional,” kata Suanda.

 

Diakui, akibat pandemi para petani di Amed mengalami kesulitan permodalan. “Untungnya dibantu KUR, jadi operasional tidak berhenti, dan tetap jalan. Ini juga sebuah perhatian dari Pemprov Bali,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/