alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Dampak Siklon Veronica, Rumah dan Jalan di Pesisir Jembrana Hancur

NEGARA – Dampak cuaca ekstrem yang berdampak pada gelombang tinggi terjadi di perairan selatan Jembrana, Minggu (24/3).

Infrastruktur jalan dan rumah warga mengalami kerusakan setelah diterjang gelombang tinggi. Dampak paling parah terlihat di Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara.

Cuaca ekstrem ini, diperkirakan terjadi hingga beberapa hari kedepan, sehingga kerusakan diprediksi akan bertambah dan meluas.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali di lokasi terdampak gelombang tinggi Pantai Pebuahan, jalan utama yang berada di pinggir pantai tergerus gelombang hingga putus total.

Jalan yang sebelumnya sekitar 2 meter, hancur total sehingga tidak bisa dilalui karena tersisa hanya setapak.

Warga terpaksa tetap melintasi jalan meski berbahaya. Bahkan, pipa air dari perusahaan daerah air minum (PDAM) terputus.

Selain jalan, sejumlah bangunan rumah, dapur dan tempat ibadah mengalami kerusakan yang cukup parah. Sedikitnya sepuluh bangunan rumah hancur terkena dampak gelombang tinggi.

Baca Juga:  Diduga Kapal Alami Bocor Sejak Awal Berangkat, Tapi Tetap Dipaksakan

Warga dibantu puluhan personil BPBD Jembrana, Yonif Mekanis 741 garuda Nusantara dan kepolisian berusaha menyelamatkan barang-barang berharga yang berada di dalam rumah dan dapur yang rusak diterjang gelombang.

Menurut Mujahidin, warga yang dapurnya hancur, gelombang tinggi menerjang pesisir pantai Pebuahan sudah terjadi sejak tiga hari terakhir.

Selain dapur dan rumahnya, rumah warga lain juga hancur akibat diterjang ombak. “Banyak yang rusak, mungkin nanti bertambah kalau ombak masih tetap besar,” ujarnya.

Pantai Pebuahan salah satu pantai di Jembrana yang mengalami abrasi parah setiap tahun. Karena itu, warga berharap ada solusi dari pemerintah dengan

membuat tanggul atau senderan pantai untuk menyelamatkan daratan dan pemukiman warga. “Minta segera diatasi, pejabat jangan cuma ngecek terus tapi tidak ada solusi,” ujar warga lain.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Jembrana BMKG Bali Rakhmat Prasetia mengatakan, peringatan cuaca sudah disebarkan kepada sejumlah instansi dan masyarakat, terutama nelayan.

Baca Juga:  Amor Ring Acintya…Diduga Sakit, Pencari SIM Meninggal Mendadak

Gelombang tinggi terjadi di perairan selatan Bali akibat dari pertumbuhan cyclone di utara Australia, sehingga perlu diwaspadai adanya gelombang tinggi.

“Itulah kenapa gelombangnya cukup tinggi, selatan Jembrana. dan beberapa hari ini hujan lebat terus,” jelasnya.

Kondisi ini, diperkirakan akan bertahan hingga seminggu kedepan. Karena, berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Klimatologi Negara, ada tarikan masa udara di selatan Australia,

sehingga konvergensi di atas Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat dan Timur tumbuh awan banyak, sehingga beberapa hari ini juan termasuk gelombang tinggi.

“Karena ada pertumbuhan awan intensif, sehingga wilayah kita beberapa hari ini cukup ekstrem,” terangnya.

Cuaca ekstrem ini hal biasa setiap akan memasuki musim kemarau pada bulan April mendatang. “Suah biasa pada masa peralihan musim, April sudah masuk musim kemarau,” tandasnya. 



NEGARA – Dampak cuaca ekstrem yang berdampak pada gelombang tinggi terjadi di perairan selatan Jembrana, Minggu (24/3).

Infrastruktur jalan dan rumah warga mengalami kerusakan setelah diterjang gelombang tinggi. Dampak paling parah terlihat di Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara.

Cuaca ekstrem ini, diperkirakan terjadi hingga beberapa hari kedepan, sehingga kerusakan diprediksi akan bertambah dan meluas.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali di lokasi terdampak gelombang tinggi Pantai Pebuahan, jalan utama yang berada di pinggir pantai tergerus gelombang hingga putus total.

Jalan yang sebelumnya sekitar 2 meter, hancur total sehingga tidak bisa dilalui karena tersisa hanya setapak.

Warga terpaksa tetap melintasi jalan meski berbahaya. Bahkan, pipa air dari perusahaan daerah air minum (PDAM) terputus.

Selain jalan, sejumlah bangunan rumah, dapur dan tempat ibadah mengalami kerusakan yang cukup parah. Sedikitnya sepuluh bangunan rumah hancur terkena dampak gelombang tinggi.

Baca Juga:  BMKG Prediksi Suhu Dingin Masih Terjadi, Siapkan Jaket Tebal

Warga dibantu puluhan personil BPBD Jembrana, Yonif Mekanis 741 garuda Nusantara dan kepolisian berusaha menyelamatkan barang-barang berharga yang berada di dalam rumah dan dapur yang rusak diterjang gelombang.

Menurut Mujahidin, warga yang dapurnya hancur, gelombang tinggi menerjang pesisir pantai Pebuahan sudah terjadi sejak tiga hari terakhir.

Selain dapur dan rumahnya, rumah warga lain juga hancur akibat diterjang ombak. “Banyak yang rusak, mungkin nanti bertambah kalau ombak masih tetap besar,” ujarnya.

Pantai Pebuahan salah satu pantai di Jembrana yang mengalami abrasi parah setiap tahun. Karena itu, warga berharap ada solusi dari pemerintah dengan

membuat tanggul atau senderan pantai untuk menyelamatkan daratan dan pemukiman warga. “Minta segera diatasi, pejabat jangan cuma ngecek terus tapi tidak ada solusi,” ujar warga lain.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Jembrana BMKG Bali Rakhmat Prasetia mengatakan, peringatan cuaca sudah disebarkan kepada sejumlah instansi dan masyarakat, terutama nelayan.

Baca Juga:  Amor Ring Acintya, Mancing, Warga Jembrana Tewas Tersambar Petir

Gelombang tinggi terjadi di perairan selatan Bali akibat dari pertumbuhan cyclone di utara Australia, sehingga perlu diwaspadai adanya gelombang tinggi.

“Itulah kenapa gelombangnya cukup tinggi, selatan Jembrana. dan beberapa hari ini hujan lebat terus,” jelasnya.

Kondisi ini, diperkirakan akan bertahan hingga seminggu kedepan. Karena, berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Klimatologi Negara, ada tarikan masa udara di selatan Australia,

sehingga konvergensi di atas Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat dan Timur tumbuh awan banyak, sehingga beberapa hari ini juan termasuk gelombang tinggi.

“Karena ada pertumbuhan awan intensif, sehingga wilayah kita beberapa hari ini cukup ekstrem,” terangnya.

Cuaca ekstrem ini hal biasa setiap akan memasuki musim kemarau pada bulan April mendatang. “Suah biasa pada masa peralihan musim, April sudah masuk musim kemarau,” tandasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/