alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Cuaca Ekstrem, Jukung Nelayan Jembrana Digulung Ombak, Untung…

NEGARA – Cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa hari terakhir, membuat aktivitas nelayan di pesisir Jembrana terganggu.

Dalam sepekan terakhir, sedikitnya empat nelayan menjadi korban ganasnya laut selatan Jembrana. Kemarin dilaporkan jukung dua nelayan dua orang nelayan dihantam ombak.

Salah satunya tenggelam. Beruntung tidak ada korban dari kejadian tersebut. Menurut informasi, kecelakaan laut itu menimpa I Nengah Warsa, 50, warga Banjar Tibu Kleneng, Desa Peracak, sekitar pukul 08,30 wita.

Saat kejadian, Warsa bersama dua nelayan dari banjar Perancak I Ketut Suma dan I Nengah Sudarmada dengan jukung berbeda akan kembali ke darat setelah memancing.

Namun, sekitar 10 meter dari bibir pantai tiba-tiba jukung diterjang ombak. Akibatnya, tiga jukung tersebut berbenturan.

Katih yang terbuat dari bambu yang ada pada samping kanan dan kiri jukung nelayan ini patah. Ketiga nelayan ini mengalami kerugian sekitar Rp 1 juta.

“Ombaknya tiba-tiba tinggi. Rusaknya katih ini karena terbentur karang,” kata salah seorang nelayan. Sekitar 30 menit kemudian, ombak juga menerjang jukung I Nengah Narsa, 58.

Warga Banjar Lemodang, Desa Perancak ini diterjang ombak besar saat akan mendarat. Korban yang membawa sekitar 5 kilogram ikan hasil tangkapan jukungnya terbalik sekitar 10 meter dari bibir pantai.

“Ombaknya tiba-tiba besar,” kata Narsa, ditemui saat memperbaiki mesin jukungnya. Menurutnya, sebelum perahunya terbalik, ombak pertama yang datang membuat jukungnya miring.

Tiba-tiba ombak lebih besar datang datang menggulung jukung, hingga membuat seluruh muatan hilang. “Tersisa tempat makan saja. Hampir semuanya hilang,” ujarnya.

Setelah kejadian, korban dibantu warga lain berusaha menarik jukung yang sudah ke pantai dan mencari mesin jukung yang hilang.

Mesin jukung yang sempat hilang dan baru ditemukan sekitar 2 jam kemudian. Kerugian akibat kejadian tersebut sekitar Rp 5 juta. “Kalau sudah terendam air laut kondisi mesin hidup, kerusakan pasti parah,” terangnya.

Kecelakaan laut juga terjadi Jumat (22/6) lalu. I Wayan Wanda, 50, warga Banjar Mekar Sari, Desa Perancak.

Jukungnya diterjang ombak di pantai muara Perancak hingga terbalik dan seluruh muatan hilang. Jukung dan mesinnya rusak parah dengan kerugian sekitar Rp 5 juta.

Nasib serupa juga menimpa Komang Ariasa, salah seorang nelayan asal, Desa Perancak, juga mengalami kecelakaan laut sekitar seminggu lalu. Akibat kejadian tersebut jukungnya rusak parah.

“Katihnya patah semua,” ujarnya sambil menujukkan bagian-bagian kapal yang patah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Ketut Eko Susilo Artha Permana mengatakan, setelah mendapat informasi kejadian tersebut langsung mendatangi lokasi untuk membantu para korban.

“Pihaknya mengimbau nelayan untuk waspada dan berhati-hati jika melaut karena cuaca saat ini cukup ekstrem,” terangnya.



NEGARA – Cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa hari terakhir, membuat aktivitas nelayan di pesisir Jembrana terganggu.

Dalam sepekan terakhir, sedikitnya empat nelayan menjadi korban ganasnya laut selatan Jembrana. Kemarin dilaporkan jukung dua nelayan dua orang nelayan dihantam ombak.

Salah satunya tenggelam. Beruntung tidak ada korban dari kejadian tersebut. Menurut informasi, kecelakaan laut itu menimpa I Nengah Warsa, 50, warga Banjar Tibu Kleneng, Desa Peracak, sekitar pukul 08,30 wita.

Saat kejadian, Warsa bersama dua nelayan dari banjar Perancak I Ketut Suma dan I Nengah Sudarmada dengan jukung berbeda akan kembali ke darat setelah memancing.

Namun, sekitar 10 meter dari bibir pantai tiba-tiba jukung diterjang ombak. Akibatnya, tiga jukung tersebut berbenturan.

Katih yang terbuat dari bambu yang ada pada samping kanan dan kiri jukung nelayan ini patah. Ketiga nelayan ini mengalami kerugian sekitar Rp 1 juta.

“Ombaknya tiba-tiba tinggi. Rusaknya katih ini karena terbentur karang,” kata salah seorang nelayan. Sekitar 30 menit kemudian, ombak juga menerjang jukung I Nengah Narsa, 58.

Warga Banjar Lemodang, Desa Perancak ini diterjang ombak besar saat akan mendarat. Korban yang membawa sekitar 5 kilogram ikan hasil tangkapan jukungnya terbalik sekitar 10 meter dari bibir pantai.

“Ombaknya tiba-tiba besar,” kata Narsa, ditemui saat memperbaiki mesin jukungnya. Menurutnya, sebelum perahunya terbalik, ombak pertama yang datang membuat jukungnya miring.

Tiba-tiba ombak lebih besar datang datang menggulung jukung, hingga membuat seluruh muatan hilang. “Tersisa tempat makan saja. Hampir semuanya hilang,” ujarnya.

Setelah kejadian, korban dibantu warga lain berusaha menarik jukung yang sudah ke pantai dan mencari mesin jukung yang hilang.

Mesin jukung yang sempat hilang dan baru ditemukan sekitar 2 jam kemudian. Kerugian akibat kejadian tersebut sekitar Rp 5 juta. “Kalau sudah terendam air laut kondisi mesin hidup, kerusakan pasti parah,” terangnya.

Kecelakaan laut juga terjadi Jumat (22/6) lalu. I Wayan Wanda, 50, warga Banjar Mekar Sari, Desa Perancak.

Jukungnya diterjang ombak di pantai muara Perancak hingga terbalik dan seluruh muatan hilang. Jukung dan mesinnya rusak parah dengan kerugian sekitar Rp 5 juta.

Nasib serupa juga menimpa Komang Ariasa, salah seorang nelayan asal, Desa Perancak, juga mengalami kecelakaan laut sekitar seminggu lalu. Akibat kejadian tersebut jukungnya rusak parah.

“Katihnya patah semua,” ujarnya sambil menujukkan bagian-bagian kapal yang patah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Ketut Eko Susilo Artha Permana mengatakan, setelah mendapat informasi kejadian tersebut langsung mendatangi lokasi untuk membantu para korban.

“Pihaknya mengimbau nelayan untuk waspada dan berhati-hati jika melaut karena cuaca saat ini cukup ekstrem,” terangnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/