alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Tolong Evakuasi Segera! Puluhan KK di Zona Merah Bergeming

RadarBali.com – Peringatan yang dikeluarkan PVMBG masih belum sepenuhnya ditaati warga. Pantauan Jawa Pos Radar Bali, di sebagian zona merah atau KRB masih banyak warga beraktivitas.

Warga masih menjalankan aktivitas seperti biasa meski dengan perasaan was-was. Misal di Kecamatan Kubu. Daerah tersebut berada di KRB III atau daerah terdekat dengan puncak, hanya sekitar 5 km.

Warga di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu misalnya. Para kaum pria setelah mengungsikan perempuan dan anak-anak kembali ke rumah masing-masing.

Mereka menjaga ternak dan barang-barang yang ada di rumah. Salah satu warga yang masih berusaha bertahan adalah Komang Yasa.

Pria 28 tahun itu bertahan di rumah bersama ayahnya setelah mengungsikan keluarganya dibawa ke Desa Tembok, Kabupaten Buleleng.

Baca Juga:  Hidup Lagi Susah, Dipungut Uang Keamanan Double, Warga Renon Protes

“Kami tetap taati imbauan pemerintah. Tapi, di rumah masih ada ternak dan barang-barang yang harus diawasi,” ujar Yasa.

Menurut Yasa, para tetua sudah memiliki tanda tersendiri ketika Gunung Agung hendak meletus. Sampai kemarin para tetua di Desa Dukuh masih melihat Gunung Agung bersahabat.

Bahkan, saat malam hari puncak Gunung Agung masih terlihat jelas dan indah. “Tetua kami banyak yang selamat saat erupsi 1963. Karena mereka tahu kapan harus turun,” tutur satu-satunya pria lulusan pascasarjana di desanya itu.

Yang dikhawatirkan warga bukan erupsi mendadak. Namun, berita bohong atau hoax yang santer beredar di media sosial (medsos).

Yasa mengatakan, warga panik luar biasa begitu mendapat berita Gunung Agung sudah mengeluarkan lahar. Warga lari tunggang langgang keluar desa. Padahal, berita tersebut hoax.

Baca Juga:  Intensitas Gempa Turun, PVMBG: Gunung Agung Lagi Membengkak

“Kami minta pemerintah bisa menekan berita hoax atau bohong itu. Kami jadi khawatir dengan berita bohong di medsos,” tukasnya.



RadarBali.com – Peringatan yang dikeluarkan PVMBG masih belum sepenuhnya ditaati warga. Pantauan Jawa Pos Radar Bali, di sebagian zona merah atau KRB masih banyak warga beraktivitas.

Warga masih menjalankan aktivitas seperti biasa meski dengan perasaan was-was. Misal di Kecamatan Kubu. Daerah tersebut berada di KRB III atau daerah terdekat dengan puncak, hanya sekitar 5 km.

Warga di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu misalnya. Para kaum pria setelah mengungsikan perempuan dan anak-anak kembali ke rumah masing-masing.

Mereka menjaga ternak dan barang-barang yang ada di rumah. Salah satu warga yang masih berusaha bertahan adalah Komang Yasa.

Pria 28 tahun itu bertahan di rumah bersama ayahnya setelah mengungsikan keluarganya dibawa ke Desa Tembok, Kabupaten Buleleng.

Baca Juga:  Status Awas Jadi Siaga, PVMBG Ingatkan Potensi Bahaya Lahar Hujan

“Kami tetap taati imbauan pemerintah. Tapi, di rumah masih ada ternak dan barang-barang yang harus diawasi,” ujar Yasa.

Menurut Yasa, para tetua sudah memiliki tanda tersendiri ketika Gunung Agung hendak meletus. Sampai kemarin para tetua di Desa Dukuh masih melihat Gunung Agung bersahabat.

Bahkan, saat malam hari puncak Gunung Agung masih terlihat jelas dan indah. “Tetua kami banyak yang selamat saat erupsi 1963. Karena mereka tahu kapan harus turun,” tutur satu-satunya pria lulusan pascasarjana di desanya itu.

Yang dikhawatirkan warga bukan erupsi mendadak. Namun, berita bohong atau hoax yang santer beredar di media sosial (medsos).

Yasa mengatakan, warga panik luar biasa begitu mendapat berita Gunung Agung sudah mengeluarkan lahar. Warga lari tunggang langgang keluar desa. Padahal, berita tersebut hoax.

Baca Juga:  Bandara Ngurah Rai Tutup Total, Penumpang Disarankan Naik Bus

“Kami minta pemerintah bisa menekan berita hoax atau bohong itu. Kami jadi khawatir dengan berita bohong di medsos,” tukasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/