alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Tolak Dirujuk Karena Tak Punya Biaya Operasi, Keluarga Butuh Bantuan

SINGARAJA  – Keluarga bayi kembar siam yang lahir di Buleleng, kini dalam kondisi kebingungan. Mereka kesulitan mencari biaya untuk operasi pemisahan bayi tersebut.

Pihak keluarga pun sempat menolak tawaran pihak rumah sakit untuk merujuk bayi tersebut. Hingga sore kemarin,

bayi dari pasangan Made Mujana, 36, dan Made Gorsi, 35, warga Desa Pangkung Paruk itu, masih dirawat di Ruang NICU RSUD Buleleng.

Sementara sang ibu, sudah dinyatakan dalam kondisi sehat, sehingga sudah diizinkan pulang. Mujana sendiri, sore kemarin masih berada di RSUD Buleleng, memantau kondisi anak ketiganya.

Ia didampingi Made Darmika, 50, yang juga kakak iparnya. Kepada wartawan, Made Darmika mengaku pihak keluarga masih bingung dengan biaya pengobatan.

Keluarga sempat berkonsultasi dengan RSUD Buleleng terkait kondisi sang bayi. Pihak rumah sakit memang menyarankan agar keluarga segera merujuk bayi ke RS Sanglah, guna menjalani operasi pemisahan.

“Kami ingin sekali anak kami ini bertahan. Kami belum tahu apakah masalah operasi pemisahan itu ditanggung (BPJS) atau tidak. Sebab yang kami tangkap tadi, yang ditanggung biaya kamar,

dokter, dan perawatan. Kalau biaya operasi, mungkin kami kurang dengar. Kami masih coba cari tahu,” kata Darmika.

Ia menegaskan keluarga masih berupaya mengumpulkan dana dari berbagai pihak, untuk biaya operasi. Pihak keluarga mengaku kesulitan mengumpulkan dana jutaan rupiah.

Terlebih mereka berasal dari keluarga kurang mampu. Made Mujana, menurut kakak iparnya, hanya bekerja sebagai buruh serabutan.

“Untuk hari ini memang kami minta tunda dulu dirujuk. Kami masih cari biaya. Siapa tahu besok (hari ini, Red) ada rejeki, donatur, atau uluran tangan dari siapa, s

ehingga bisa ditangani. Harapan kami operasi ini ditanggung semua. Kalau sudah ditanggung, kami siap (dirujuk),” imbuhnya.

Kalau toh memang biaya operasi tak ditanggung, pihak keluarga pun hanya bisa pasrah. Keluarga hanya meminta agar bayi itu bisa dirawat semaksimal mungkin di RSUD Buleleng.

Darmika pun paham betul bila tim medis di RSUD Buleleng tak bisa melakukan operasi pemisahan, karena keterbatasan sumber daya dan peralatan.

“Kalau kami bawa pulang, toh hanya bisa kami lihat saja. Kalau di rumah sakit kan bisa lebih terawat, karena bisa infeksi, segala macam. Apalagi organnya diluar.

Kalau Beliau berkehendak bayi ini bertahan, kami sangat bersyukur. Kalau sudah dipanggil kehendak Tuhan, kami hanya bisa pasrah. Intinya kami tetap berusaha mencari biaya, semaksimal mungkin,” kata Darmika.

Disinggung soal kondisi organ dalam yang berada di luar dinding perut, Darmika mengaku belum mendapat penjelasan lebih lanjut dari tim dokter.

“Kalau saya sih berharap anak kami itu punya organ lengkap. Harapan kami yang diluar itu, milik kembarannya yang belum sempurna terbentuk. Jadi bisa dilakukan operasi pemisahan,” harapnya.

 



SINGARAJA  – Keluarga bayi kembar siam yang lahir di Buleleng, kini dalam kondisi kebingungan. Mereka kesulitan mencari biaya untuk operasi pemisahan bayi tersebut.

Pihak keluarga pun sempat menolak tawaran pihak rumah sakit untuk merujuk bayi tersebut. Hingga sore kemarin,

bayi dari pasangan Made Mujana, 36, dan Made Gorsi, 35, warga Desa Pangkung Paruk itu, masih dirawat di Ruang NICU RSUD Buleleng.

Sementara sang ibu, sudah dinyatakan dalam kondisi sehat, sehingga sudah diizinkan pulang. Mujana sendiri, sore kemarin masih berada di RSUD Buleleng, memantau kondisi anak ketiganya.

Ia didampingi Made Darmika, 50, yang juga kakak iparnya. Kepada wartawan, Made Darmika mengaku pihak keluarga masih bingung dengan biaya pengobatan.

Keluarga sempat berkonsultasi dengan RSUD Buleleng terkait kondisi sang bayi. Pihak rumah sakit memang menyarankan agar keluarga segera merujuk bayi ke RS Sanglah, guna menjalani operasi pemisahan.

“Kami ingin sekali anak kami ini bertahan. Kami belum tahu apakah masalah operasi pemisahan itu ditanggung (BPJS) atau tidak. Sebab yang kami tangkap tadi, yang ditanggung biaya kamar,

dokter, dan perawatan. Kalau biaya operasi, mungkin kami kurang dengar. Kami masih coba cari tahu,” kata Darmika.

Ia menegaskan keluarga masih berupaya mengumpulkan dana dari berbagai pihak, untuk biaya operasi. Pihak keluarga mengaku kesulitan mengumpulkan dana jutaan rupiah.

Terlebih mereka berasal dari keluarga kurang mampu. Made Mujana, menurut kakak iparnya, hanya bekerja sebagai buruh serabutan.

“Untuk hari ini memang kami minta tunda dulu dirujuk. Kami masih cari biaya. Siapa tahu besok (hari ini, Red) ada rejeki, donatur, atau uluran tangan dari siapa, s

ehingga bisa ditangani. Harapan kami operasi ini ditanggung semua. Kalau sudah ditanggung, kami siap (dirujuk),” imbuhnya.

Kalau toh memang biaya operasi tak ditanggung, pihak keluarga pun hanya bisa pasrah. Keluarga hanya meminta agar bayi itu bisa dirawat semaksimal mungkin di RSUD Buleleng.

Darmika pun paham betul bila tim medis di RSUD Buleleng tak bisa melakukan operasi pemisahan, karena keterbatasan sumber daya dan peralatan.

“Kalau kami bawa pulang, toh hanya bisa kami lihat saja. Kalau di rumah sakit kan bisa lebih terawat, karena bisa infeksi, segala macam. Apalagi organnya diluar.

Kalau Beliau berkehendak bayi ini bertahan, kami sangat bersyukur. Kalau sudah dipanggil kehendak Tuhan, kami hanya bisa pasrah. Intinya kami tetap berusaha mencari biaya, semaksimal mungkin,” kata Darmika.

Disinggung soal kondisi organ dalam yang berada di luar dinding perut, Darmika mengaku belum mendapat penjelasan lebih lanjut dari tim dokter.

“Kalau saya sih berharap anak kami itu punya organ lengkap. Harapan kami yang diluar itu, milik kembarannya yang belum sempurna terbentuk. Jadi bisa dilakukan operasi pemisahan,” harapnya.

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/