alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, July 6, 2022

Pasien Positif Covid-19 Dikemplang Bayar Biaya RS Hingga Rp 5,7 Juta

SINGARAJA- Kasus memalukan diduga dilakukan oknum RS Swasta di Singaraja, Buleleng, Bali.

Kasus tak terpuji bahkan bisa berimbas pidana itu terkait prosedur penanganan dan pembiayaan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

I Nyoman Sedana, 46, pasien asal Desa Tukadmungga ini “dikemplang” alias diminta membayar biaya perawatan RS.

Padahal pemerintah berkali-kali menegaskan bahwa biaya perawatan bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 digratiskan alias ditanggung pemerintah.

Ironisnya lagi, saat berobat Sedana merupakan peserta/pemegang kartu Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Tak tanggung-tanggung, saat berobat, Sedana oleh pihak RS diminta membayar biaya perawatan senilai Rp 5,7 juta.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Bali, hingga kasus yang menimpa Sedana ini terjadi, berawal saat Sedana mengeluh kurang enak badan alias kondisi kesehatan tubuhnya menurun.

Dalam kondisi nge-drop, pria yang kesehariannya bertugas sebagai relawan itu kemudian dilarikan ke salah satu RS swasta yang terletak tidak jauh dari Kantor Bupati Buleleng.

Ketika itu, tim medis sempat melakukan diagnosis. Hasil diagnosa, Sedana dikatakan mengalami jantung bengkak dan penyakit pada paru-paru.

Kemudian sebelum menjalani rawat inap, ia juga sempat menjalani rapid test dengan hasil non reaktif. Belakangan, ia menjalani dua kali pengambilan sampel swab.

Swab pertama hasilnya negatif, sedangkan yang kedua dinyatakan positif covid-19. Hasil swab positif itu ia terima pada Kamis (10/9) dua pekan lalu.

Begitu hasil swabnya dinyatakan positif, ternyata pelayanan dari rumah sakit langsung berubah.

Tiyang (saya) tidak dapat pelayanan dengan baik di rumah sakit. Tiyang merasa ditelantarkan di rumah sakit. Saya harus sendiri di ruang perawatan.

Anak-anak diminta pulang, karena istri tiyang juga diminta isolasi mandiri. Bayangkan selama 2 jam infus saya habis, tidak ada yang datang mengganti infus. Saya diminta menutup sendiri selang infusnya,” kata Sedana saat dihubungi, pada Jumat (25/9) petang.

Karena merasa tak mendapat perawatan sebagaimana mestinya, Sedana akhirnya meminta pulang paksa. Ternyata saat pulang paksa, ia diminta membayar biaya perawatan sebanyak Rp 5,7 juta.

Konon biaya itu mencakup pengobatan untuk Sedana yang mengalami masalah pada jantung dan paru-paru.



SINGARAJA- Kasus memalukan diduga dilakukan oknum RS Swasta di Singaraja, Buleleng, Bali.

Kasus tak terpuji bahkan bisa berimbas pidana itu terkait prosedur penanganan dan pembiayaan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

I Nyoman Sedana, 46, pasien asal Desa Tukadmungga ini “dikemplang” alias diminta membayar biaya perawatan RS.

Padahal pemerintah berkali-kali menegaskan bahwa biaya perawatan bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 digratiskan alias ditanggung pemerintah.

Ironisnya lagi, saat berobat Sedana merupakan peserta/pemegang kartu Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Tak tanggung-tanggung, saat berobat, Sedana oleh pihak RS diminta membayar biaya perawatan senilai Rp 5,7 juta.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Bali, hingga kasus yang menimpa Sedana ini terjadi, berawal saat Sedana mengeluh kurang enak badan alias kondisi kesehatan tubuhnya menurun.

Dalam kondisi nge-drop, pria yang kesehariannya bertugas sebagai relawan itu kemudian dilarikan ke salah satu RS swasta yang terletak tidak jauh dari Kantor Bupati Buleleng.

Ketika itu, tim medis sempat melakukan diagnosis. Hasil diagnosa, Sedana dikatakan mengalami jantung bengkak dan penyakit pada paru-paru.

Kemudian sebelum menjalani rawat inap, ia juga sempat menjalani rapid test dengan hasil non reaktif. Belakangan, ia menjalani dua kali pengambilan sampel swab.

Swab pertama hasilnya negatif, sedangkan yang kedua dinyatakan positif covid-19. Hasil swab positif itu ia terima pada Kamis (10/9) dua pekan lalu.

Begitu hasil swabnya dinyatakan positif, ternyata pelayanan dari rumah sakit langsung berubah.

Tiyang (saya) tidak dapat pelayanan dengan baik di rumah sakit. Tiyang merasa ditelantarkan di rumah sakit. Saya harus sendiri di ruang perawatan.

Anak-anak diminta pulang, karena istri tiyang juga diminta isolasi mandiri. Bayangkan selama 2 jam infus saya habis, tidak ada yang datang mengganti infus. Saya diminta menutup sendiri selang infusnya,” kata Sedana saat dihubungi, pada Jumat (25/9) petang.

Karena merasa tak mendapat perawatan sebagaimana mestinya, Sedana akhirnya meminta pulang paksa. Ternyata saat pulang paksa, ia diminta membayar biaya perawatan sebanyak Rp 5,7 juta.

Konon biaya itu mencakup pengobatan untuk Sedana yang mengalami masalah pada jantung dan paru-paru.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/