alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Termakan Isu Negatif, Volume Penarikan Uang di Koperasi Meningkat

SEMARAPURA-Krisis ekonomi akibat wabah pandemi Covid-19 berdampak pada kelangsungan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Klungkung.

Akibat wabah corona yang berkepanjangan, membuat banyak koperasi di “Gumi Serombotan” dalam kondisi sangat sulit.

Selain banyak koperasi yang mengalami kredit macet, munculnya isu negative soal tidak amannya menyimpan uang di koperasi juga menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan bagi anggota koperasi.

Bahkan terbaru, akibat termakan isu negative, tidak sedikit dari koperasi di Klungkung terancam gulung tikar.

Sejumlah koperasi terancam gulung tikar karena adanya peningkatan volume penarikan dari anggota (baik dalam bentuk tabungan dan deposito) secara besar-besaran.

Seperti dibenarkan Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Klungkung, Wayan Ardiasa. Saat dikonformasi, Jumat (25/9), ia mengungkapkan ada sebanyak 143 koperasi di Kabupaten Klungkung.

Dari jumlah koperasi tersebut, sebagian besar merupakan koperasi simpan pinjam.

“Tetapi sekarang mulai banyak koperasi simpan pinjam yang beralih ke koperasi serba usaha,” katanya.

Menurutnya hampir seluruh koperasi simpan pinjam di Kabupaten Klungkung saat ini dalam kondisi sangat sulit.

Wabah virus corona memberi dampak yang buruk bagi perekonomian anggota koperasi.

Mengingat banyak dari anggota koperasi merupakan pekerja di sektor pariwisata dan juga pedagang. “Di mana sektor-sektor usaha itu yang paling terkena dampak akibat pandemi ini,” terangnya.

Akibat terkena dampak wabah virus corona, banyak anggota koperasi yang memiliki pinjaman atau kredit kesulitan untuk membayar angsuran pinjaman alias menunggak.

“Tentunya, kondisi itu tidak baik untuk perkembangan koperasi. Karena akan mempengaruhi operasional koperasi. Di mana membuat koperasi kesulitan untuk melakukan pembayaran kepada pihak ketiga,” jelasnya.

Tidak sampai di sana, koperasi simpan pinjam di Klungkung juga dihadapkan dengan meningkatnya volume penarikan oleh anggota, baik berupa tabungan maupun deposito.

Prilaku itu kata Ardiasa merupakan imbas dari isu tidak amannya menyimpan uang, baik berupa tabungan maupun deposit di luar bank.

“Jadi anggota koperasi berbondong-bondong menarik uangnya dan menabungkannya di bank. Bahkan ada satu koperasi yang telah mengeluarkan uang sebesar Rp 1 miliar akibat anggotanya menarik tabungan dan depositonya,” ungkapnya.

Munculnya peningkatan volume penarikan itu dikatakan Ardiasa tidak baik bagi keberlangsungan koperasi sehingga pihaknya berharap para anggota tidak melakukan penarikan uang besar-besaran.

Begitu juga dengan para kreditur, agar bisa mengupayakan pembayaran utang/ pinjaman mereka.

“Hari Senin (28/9) nanti, saya akan menggelar rapat dengan Dekopinda (Dewan Koperasi Indonesia Daerah) agar bisa memfasilitasi ke Lembaga Penyalur Dana Bergulir (LPDB). Sehingga kesulitan keuangan di koperasi bisa ditanggulangi,” ujarnya.

Lebih lanjut diungkapkannya, sampai saat ini belum ada koperasi yang bangkrut.

Namun bila kondisi itu terus berlanjut hingga Desember 2020 ini, kata Ardiasa, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pengurangan jam kerja para pegawai koperasi yang berdampak pada upah mereka.

“Sampai saat ini juga belum ada PHK di koperasi. Semoga tidak sampai terjadi,” tandasnya. 



SEMARAPURA-Krisis ekonomi akibat wabah pandemi Covid-19 berdampak pada kelangsungan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Klungkung.

Akibat wabah corona yang berkepanjangan, membuat banyak koperasi di “Gumi Serombotan” dalam kondisi sangat sulit.

Selain banyak koperasi yang mengalami kredit macet, munculnya isu negative soal tidak amannya menyimpan uang di koperasi juga menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan bagi anggota koperasi.

Bahkan terbaru, akibat termakan isu negative, tidak sedikit dari koperasi di Klungkung terancam gulung tikar.

Sejumlah koperasi terancam gulung tikar karena adanya peningkatan volume penarikan dari anggota (baik dalam bentuk tabungan dan deposito) secara besar-besaran.

Seperti dibenarkan Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Klungkung, Wayan Ardiasa. Saat dikonformasi, Jumat (25/9), ia mengungkapkan ada sebanyak 143 koperasi di Kabupaten Klungkung.

Dari jumlah koperasi tersebut, sebagian besar merupakan koperasi simpan pinjam.

“Tetapi sekarang mulai banyak koperasi simpan pinjam yang beralih ke koperasi serba usaha,” katanya.

Menurutnya hampir seluruh koperasi simpan pinjam di Kabupaten Klungkung saat ini dalam kondisi sangat sulit.

Wabah virus corona memberi dampak yang buruk bagi perekonomian anggota koperasi.

Mengingat banyak dari anggota koperasi merupakan pekerja di sektor pariwisata dan juga pedagang. “Di mana sektor-sektor usaha itu yang paling terkena dampak akibat pandemi ini,” terangnya.

Akibat terkena dampak wabah virus corona, banyak anggota koperasi yang memiliki pinjaman atau kredit kesulitan untuk membayar angsuran pinjaman alias menunggak.

“Tentunya, kondisi itu tidak baik untuk perkembangan koperasi. Karena akan mempengaruhi operasional koperasi. Di mana membuat koperasi kesulitan untuk melakukan pembayaran kepada pihak ketiga,” jelasnya.

Tidak sampai di sana, koperasi simpan pinjam di Klungkung juga dihadapkan dengan meningkatnya volume penarikan oleh anggota, baik berupa tabungan maupun deposito.

Prilaku itu kata Ardiasa merupakan imbas dari isu tidak amannya menyimpan uang, baik berupa tabungan maupun deposit di luar bank.

“Jadi anggota koperasi berbondong-bondong menarik uangnya dan menabungkannya di bank. Bahkan ada satu koperasi yang telah mengeluarkan uang sebesar Rp 1 miliar akibat anggotanya menarik tabungan dan depositonya,” ungkapnya.

Munculnya peningkatan volume penarikan itu dikatakan Ardiasa tidak baik bagi keberlangsungan koperasi sehingga pihaknya berharap para anggota tidak melakukan penarikan uang besar-besaran.

Begitu juga dengan para kreditur, agar bisa mengupayakan pembayaran utang/ pinjaman mereka.

“Hari Senin (28/9) nanti, saya akan menggelar rapat dengan Dekopinda (Dewan Koperasi Indonesia Daerah) agar bisa memfasilitasi ke Lembaga Penyalur Dana Bergulir (LPDB). Sehingga kesulitan keuangan di koperasi bisa ditanggulangi,” ujarnya.

Lebih lanjut diungkapkannya, sampai saat ini belum ada koperasi yang bangkrut.

Namun bila kondisi itu terus berlanjut hingga Desember 2020 ini, kata Ardiasa, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pengurangan jam kerja para pegawai koperasi yang berdampak pada upah mereka.

“Sampai saat ini juga belum ada PHK di koperasi. Semoga tidak sampai terjadi,” tandasnya. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/