alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

CATAT!! Tanpa Vaksin, Satgas Larang Guru Mengajar Tatap Muka

SINGARAJA– Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng memutuskan menerapkan kebijakan ketat, jelang kegiatan pembelajaran tatap muka.

Tenaga pendidik yang belum mendapatkan vaksin covid-19, dilarang mengajar secara tatap muka pada para siswa.

Keputusan itu diambil saat satgas memberikan arahan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas pada seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Buleleng. Arahan itu dilakukan secara daring.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa menyatakan, seluruh sekolah harus menyiapkan diri melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas.

Suyasa menyebut Disdikpora telah mengajukan permohonan izin pada Bupati Buleleng, agar tatap muka dapat dilaksanakan dalam waktu dekat.

Namun ia mengingatkan agar seluruh sekolah harus memenuhi syarat yang dipenuhi. “Sarana pendukung protokol kesehatan harus ada.

Protokol kesehatan juga harus dilaksanakan secara ketat. Sekolah juga harus memasang QR code aplikasi PeduliLindungi. Kami minta dalam minggu ini sudah selesai,” kata Suyasa saat ditemui di ruang kerjanya, pada Jumat (24/9) kemarin.

Baca Juga:  Ini Alasan Wayan Edi, Petani di Kintamani Mencuri di Belasan TKP
- Advertisement -

Lebih lanjut Suyasa mengatakan, dari hasil identifikasi, ada 772 orang tenaga pendidik yang belum mendapatkan vaksin. Mereka tidak lolos skrining, karena memiliki penyakit penyerta.

Satgas pun meminta Disdikpora dan Dinas Kesehatan Buleleng melakukan penyisiran ulang. Apabila ratusan tenaga pendidik itu dianggap sudah layak menerima vaksin, mereka pun dianjurkan menerima vaksin.

Selain itu ada pula lebih dari seribu siswa yang belum mendapat vaksin.

“Mereka yang belum mendapat vaksin, tidak diizinkan mengikuti tatap muka. Guru yang belum vaksin tidak boleh mengajar tatap muka, cukup daring. Demikian juga dengan siswa SMP dan SMA yang belum divaksin, tidak boleh ikut tatap muka, cukup ikut daring saja sementara waktu,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Disdikpora Buleleng Made Astika menyatakan pembelajaran tatap muka hal yang bersifat wajib.

Baca Juga:  Pemkab Jembrana Imbau Masyarakat Tetap di Rumah saat Ngembak Geni

Menurutnya orang tua siswa dapat mengizinkan siswa mengikuti pembelajaran tatap muka, bahkan orang tua dapat tidak mengizinkan.

“Surat izin orang tua itu salah satu syarat utama. Kami tidak akan memaksakan. Kalau tidak ada surat izin orang tua, alternatifnya mengikuti pembelajaran daring,” kata Astika.

Untuk diketahui, pembelajaran tatap muka di Buleleng rencananya dilaksanakan secara terbatas.

Proses pembelajaran pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Luar Biasa (SLB), hanya boleh diikuti oleh maksimal 33 persen siswa. Selain itu dalam satu ruangan juga tak boleh lebih dari 5 orang siswa.

Sementara untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, diizinkan dengan kapasitas maksimal 50 persen.

Rencananya pada tahap awal, proses pembelajaran tatap muka hanya akan berlangsung selama dua jam pelajaran. 

- Advertisement -

SINGARAJA– Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng memutuskan menerapkan kebijakan ketat, jelang kegiatan pembelajaran tatap muka.

Tenaga pendidik yang belum mendapatkan vaksin covid-19, dilarang mengajar secara tatap muka pada para siswa.

Keputusan itu diambil saat satgas memberikan arahan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas pada seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Buleleng. Arahan itu dilakukan secara daring.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa menyatakan, seluruh sekolah harus menyiapkan diri melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas.

Suyasa menyebut Disdikpora telah mengajukan permohonan izin pada Bupati Buleleng, agar tatap muka dapat dilaksanakan dalam waktu dekat.

Namun ia mengingatkan agar seluruh sekolah harus memenuhi syarat yang dipenuhi. “Sarana pendukung protokol kesehatan harus ada.

Protokol kesehatan juga harus dilaksanakan secara ketat. Sekolah juga harus memasang QR code aplikasi PeduliLindungi. Kami minta dalam minggu ini sudah selesai,” kata Suyasa saat ditemui di ruang kerjanya, pada Jumat (24/9) kemarin.

Baca Juga:  Ini Alasan Wayan Edi, Petani di Kintamani Mencuri di Belasan TKP

Lebih lanjut Suyasa mengatakan, dari hasil identifikasi, ada 772 orang tenaga pendidik yang belum mendapatkan vaksin. Mereka tidak lolos skrining, karena memiliki penyakit penyerta.

Satgas pun meminta Disdikpora dan Dinas Kesehatan Buleleng melakukan penyisiran ulang. Apabila ratusan tenaga pendidik itu dianggap sudah layak menerima vaksin, mereka pun dianjurkan menerima vaksin.

Selain itu ada pula lebih dari seribu siswa yang belum mendapat vaksin.

“Mereka yang belum mendapat vaksin, tidak diizinkan mengikuti tatap muka. Guru yang belum vaksin tidak boleh mengajar tatap muka, cukup daring. Demikian juga dengan siswa SMP dan SMA yang belum divaksin, tidak boleh ikut tatap muka, cukup ikut daring saja sementara waktu,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Disdikpora Buleleng Made Astika menyatakan pembelajaran tatap muka hal yang bersifat wajib.

Baca Juga:  Derita Keluarga Wintra; Suami - Istri Stroke, Ibu Mertua Sakit-sakitan

Menurutnya orang tua siswa dapat mengizinkan siswa mengikuti pembelajaran tatap muka, bahkan orang tua dapat tidak mengizinkan.

“Surat izin orang tua itu salah satu syarat utama. Kami tidak akan memaksakan. Kalau tidak ada surat izin orang tua, alternatifnya mengikuti pembelajaran daring,” kata Astika.

Untuk diketahui, pembelajaran tatap muka di Buleleng rencananya dilaksanakan secara terbatas.

Proses pembelajaran pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Luar Biasa (SLB), hanya boleh diikuti oleh maksimal 33 persen siswa. Selain itu dalam satu ruangan juga tak boleh lebih dari 5 orang siswa.

Sementara untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, diizinkan dengan kapasitas maksimal 50 persen.

Rencananya pada tahap awal, proses pembelajaran tatap muka hanya akan berlangsung selama dua jam pelajaran. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/