alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

BPS Klaim Angka Kemiskinan Menurun di Buleleng, Ini Indikatornya…

SINGARAJA  – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Buleleng I Gede Suarta mengeluarkan data terakhir tentang beberapa perkembangan sosial kependudukan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Buleleng.

Salah satunya dia  menyebutkan tingkat kemiskinan di Buleleng yang mengalami penurunan. Itu disampaikan saat Hari Statistik Nasional (HPN) 2019 di Hotel Banyualit Lovina, Singaraja, Selasa (24/9).  

Dari data terakhir di BPS dengan jumlah penduduk Buleleng mencapai 657 ribu jiwa lebih. Tahun 2014 lalu penduduk miskin Buleleng

mencapai 6,79 persen, tahun 2015 6,74 persen, tahun 2016 5,79 persen, tahun 2017 5,74 persen dan tahun 2018 5,36 persen.

Meski penduduk miskin Buleleng mengalami penurunan, tetapi menjadi hal sangat penting bagi pemerintah Buleleng harus tetap mampu menurukan angka kemiskinan yang masih diatas 5 persen.

“Jadi data kami ini dapat dijadikan acuan untuk program-program pemerintah Buleleng kedepan dalam menurunkan angka kemiskinan,” paparnya. .

Suarta pun menyinggung masalah pengangguran di Buleleng. Pengangguran di Buleleng juga mengalami penurunan.

Baca Juga:  “New Normal”, Buleleng Mulai Pulih, Angka Inflasi Relatif Aman

Tahun 2013 angka pengangguran mencapai 2,14 persen, tahun 2014 2,74 persen, tahun 2015 turun menjadi 2,04 persen dan tahun 2016 masih berada diangka 2,04 persen.

Kemudian tahun 2017 naik menjadi 2,41 dan turun kembali di tahun 2018 mencapai 1,84. “Menurun jumlah pengangguran di Buleleng berbagai faktor yang menyebabkan.

Di antaranya terserapnya angkatan kerja disektor-sektor. Baik formal maupun informal. Kemudian terbukanya lapangan kerja baru,” ungkapnya.

Kendati pengangguran mengalami penurunan, namun pemerintah Buleleng harus mewaspadai soal jumlah tingkat pengangguran terbuka di Buleleng.

Karena di Buleleng tingkat pengangguran terbuka lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka Provinsi Bali yang sebesar 1,37 persen.

Sedangkan Buleleng 1,84 persen. Dari sisi laju pertumbuhan ekonomi Buleleng dijelaskan Suarta cukup baik. Saat ini laju pertumbuhan ekonomi Buleleng mencapai 6,30 persen.  

Baca Juga:  Kaget Hindari Bus, Truk Terbalik, Ratusan Ayam Potong Mati Tertimpa

Itu disebabkan dari banyaknya lapangan usaha. Dari sisi industri pengolahan, perdagangan dan pariwisata semuanya mengalami pertumbuhan,

terkecuali sektor pertanian yang belum mencapai target RPJM tahun 2018 sebesar 3,54 persen hanya mampu tumbuh 3,49 persen.

Berbanding terbalik dengan industri pengolahan, pariwisata dan perdagangan yang mengalami pertumbuhan cukup positif.

“Data kami di BPS mencatat pada sektor perdagangan sebesar 8,63 persen, pariwisata tumbuh 7,50 persen, industri pengolahan sektor manufaktur tumbuh mencapai 5,32 persen,” paparnya.

Suarta berharap dengan data yang ekspos oleh BPS kepada pemerintah Buleleng sejatinya dapat dijadikan bahan perencanaan dan evaluasi.

Misalnya apa saja yang sudah dari porgam pemerintah daerah, mana yang belum tercapai dan bagaimana juga pemerintah kabupaten memanfaatkan data tersebut untuk perencanaan pembangunan kedepan.

“Bisa juga data ini dijadikan acuan oleh pemerintah daerah dan swasta untuk profek bisnis dan investasi kedepan di Buleleng,” tandasnya. 



SINGARAJA  – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Buleleng I Gede Suarta mengeluarkan data terakhir tentang beberapa perkembangan sosial kependudukan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Buleleng.

Salah satunya dia  menyebutkan tingkat kemiskinan di Buleleng yang mengalami penurunan. Itu disampaikan saat Hari Statistik Nasional (HPN) 2019 di Hotel Banyualit Lovina, Singaraja, Selasa (24/9).  

Dari data terakhir di BPS dengan jumlah penduduk Buleleng mencapai 657 ribu jiwa lebih. Tahun 2014 lalu penduduk miskin Buleleng

mencapai 6,79 persen, tahun 2015 6,74 persen, tahun 2016 5,79 persen, tahun 2017 5,74 persen dan tahun 2018 5,36 persen.

Meski penduduk miskin Buleleng mengalami penurunan, tetapi menjadi hal sangat penting bagi pemerintah Buleleng harus tetap mampu menurukan angka kemiskinan yang masih diatas 5 persen.

“Jadi data kami ini dapat dijadikan acuan untuk program-program pemerintah Buleleng kedepan dalam menurunkan angka kemiskinan,” paparnya. .

Suarta pun menyinggung masalah pengangguran di Buleleng. Pengangguran di Buleleng juga mengalami penurunan.

Baca Juga:  Rumah Warga Miskin Jadi Korban Longsor, Sekeluarga Nyaris Tertimbun

Tahun 2013 angka pengangguran mencapai 2,14 persen, tahun 2014 2,74 persen, tahun 2015 turun menjadi 2,04 persen dan tahun 2016 masih berada diangka 2,04 persen.

Kemudian tahun 2017 naik menjadi 2,41 dan turun kembali di tahun 2018 mencapai 1,84. “Menurun jumlah pengangguran di Buleleng berbagai faktor yang menyebabkan.

Di antaranya terserapnya angkatan kerja disektor-sektor. Baik formal maupun informal. Kemudian terbukanya lapangan kerja baru,” ungkapnya.

Kendati pengangguran mengalami penurunan, namun pemerintah Buleleng harus mewaspadai soal jumlah tingkat pengangguran terbuka di Buleleng.

Karena di Buleleng tingkat pengangguran terbuka lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka Provinsi Bali yang sebesar 1,37 persen.

Sedangkan Buleleng 1,84 persen. Dari sisi laju pertumbuhan ekonomi Buleleng dijelaskan Suarta cukup baik. Saat ini laju pertumbuhan ekonomi Buleleng mencapai 6,30 persen.  

Baca Juga:  Nelayan Hilang Belum Ketemu,Tinggalkan Jukung Terkatung-katung di Laut

Itu disebabkan dari banyaknya lapangan usaha. Dari sisi industri pengolahan, perdagangan dan pariwisata semuanya mengalami pertumbuhan,

terkecuali sektor pertanian yang belum mencapai target RPJM tahun 2018 sebesar 3,54 persen hanya mampu tumbuh 3,49 persen.

Berbanding terbalik dengan industri pengolahan, pariwisata dan perdagangan yang mengalami pertumbuhan cukup positif.

“Data kami di BPS mencatat pada sektor perdagangan sebesar 8,63 persen, pariwisata tumbuh 7,50 persen, industri pengolahan sektor manufaktur tumbuh mencapai 5,32 persen,” paparnya.

Suarta berharap dengan data yang ekspos oleh BPS kepada pemerintah Buleleng sejatinya dapat dijadikan bahan perencanaan dan evaluasi.

Misalnya apa saja yang sudah dari porgam pemerintah daerah, mana yang belum tercapai dan bagaimana juga pemerintah kabupaten memanfaatkan data tersebut untuk perencanaan pembangunan kedepan.

“Bisa juga data ini dijadikan acuan oleh pemerintah daerah dan swasta untuk profek bisnis dan investasi kedepan di Buleleng,” tandasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/