25.4 C
Denpasar
Saturday, June 10, 2023

Sebelum Mundur, Jadi Satu-Satunya Kades Tolak Beli Mobil Dinas Xpander

Jabatan bukan segala-galanya bagi Tjokorda Agung Kusuma Yuda. Ia lebih memilih mengurus orang tua yang sudah sepuh daripada melanjutkan jabatannya sebagai perbekel alias kepala desa yang masih dua setengah tahun lagi. Sesuatu yang langka.

IB INDRA PRASETYA, Gianyar 

 

NAMA Tjokorda Agung Kusuma Yuda pernah ramai sekitar tahun 2019 lalu. Itu seiring dengan ketika perbekel atau kepala desa di Kabupaten Gianyar, Bali secara berjamaah membeli mobil dinas merek Mitsubishi Xpander.

 

Saat itu, memang ada instruksi dari Bupati Gianyar Made Mahayastra agar seluruh perbekel menganggarkan dana untuk pembelian mobil dinas Mitsubishi Xpander dari APBDes yang harganya sekitar Rp240-an juta.

 

Namun, dari 64 desa di Kabupaten Gianyar, ternyata hanya satu perbekel yang menolak. Yakni Tjokorda Agung Kusuma Yuda, Perbekel Pejeng, Kecamatan Tampaksiring. Dia ogah menganggarkan mobil dinas Xpander karena uang rakyat yang dikelolanya akan dipakai untuk hal yang mendesak dan penting dalam membangun desanya yang dipimpin sejak 2012 silam.

 

Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah membangun Tempat Pengelolaan Sampah berbasis reduce, reuse, recycle (TPS-3R). Tjok Agung waktu itu menyebut, pembangunan TPS-3R dilakukan bertahap melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Pejeng.

Baca Juga:  Tak Kantongi SKTS, Sembilan Buruh Asal Jember Dipulangkan

 

Pertama, dana desa Tahun 2019 dengan jumlah Rp317.204.000. Kemudian dilanjutkan pada tahun 2020 dengan sejumlah pos. Yakni pembangunan fisik sebesar Rp94.970.000. Kemudian belanja mesin sebesar Rp123.000.000 dan biaya operasional penanganan sampah sebesar Rp279.000.000.

“Biaya memang cukup besar. Tetapi kami optimistis pembangunan nonfisik memberikan dampak positif jangka panjang,” ujar Tjok Agung kepada radarbali.id, usai saat peresmian TPS3R pada 6 Oktober 2020 lalu.

Kasus pengadaan Xpander secara berjamaah yang dilakukan 63 perbekel atas dasar surat Bupati Gianyar Made Mahayastra itu sendiri pernah diselidiki Polda Bali.

 

Tjok Agung juga sempat diperiksa polisi lantaran menjadi satu-satunya kades yang menolak menuruti perintah bupati dalam pengadaan Xpander. Namun, kasus itu dihentikan dengan alasan tidak cukup bukti adanya tindak pidana dugaan korupsi. Padahal, sempat menyeruak, ada dugaan kongkalikong bahkan gratifikasi agar para perbekel memborong mobil.

 

Terlepas dari kejadian tersebut, kini Tjok Agung memilih mengundurkan dari jabatannya sebagai perbekel. Padahal, masa jabatannya masih ada dua tahun lebih. Dia kembali menjadi perbekel untuk jabatan kedua pada 2018, dan mestinya selesai pada tahun 2024 mendatang.

Baca Juga:  Baru Melahirkan, Seorang Ibu di Buleleng Dinyatakan Positif Covid-19

 

Tjok Agung memilih mengundurkan diri dari perbekel dengan alasan ingin fokus mengurus orang tuanya yang sudah sepuh.

 

Nggih (ya), karena (orang tua) sudah umur (sepuh). Saya juga ingin mengurus orang tua. Seharusnya lagi dua setengah tahun selesai (menjabat, red),” ujarnya singkat.

 

Dia juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menggantikan dirinya sebagai perbekel berikutnya.

 

“Kanggeang amunika (permaklumkan segitu, red), biar anak muda,” ujarnya.

 

Surat pengunduran diri Tjok Agung berkop Pemerintah Desa Pejeng Nomor 881/115/DP/XI/2021 tertanggal 18 November 2021. Perihal surat, permohonan pengunduran diri. 

 

Pada alinea pertama surat, tertulis “Saya Tjok Agung Kusuma Yuda, sebagai Perbekel Pejeng mengajukan permohonan pengunduran diri dari jabatan Perbekel Pejeng, dengan alasan saya tidak bisa lagi menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai Perbekel Pejeng karena saya harus fokus mengurus kedua orang kedua orang tua saya.” 



Jabatan bukan segala-galanya bagi Tjokorda Agung Kusuma Yuda. Ia lebih memilih mengurus orang tua yang sudah sepuh daripada melanjutkan jabatannya sebagai perbekel alias kepala desa yang masih dua setengah tahun lagi. Sesuatu yang langka.

IB INDRA PRASETYA, Gianyar 

 

NAMA Tjokorda Agung Kusuma Yuda pernah ramai sekitar tahun 2019 lalu. Itu seiring dengan ketika perbekel atau kepala desa di Kabupaten Gianyar, Bali secara berjamaah membeli mobil dinas merek Mitsubishi Xpander.

 

Saat itu, memang ada instruksi dari Bupati Gianyar Made Mahayastra agar seluruh perbekel menganggarkan dana untuk pembelian mobil dinas Mitsubishi Xpander dari APBDes yang harganya sekitar Rp240-an juta.

 

Namun, dari 64 desa di Kabupaten Gianyar, ternyata hanya satu perbekel yang menolak. Yakni Tjokorda Agung Kusuma Yuda, Perbekel Pejeng, Kecamatan Tampaksiring. Dia ogah menganggarkan mobil dinas Xpander karena uang rakyat yang dikelolanya akan dipakai untuk hal yang mendesak dan penting dalam membangun desanya yang dipimpin sejak 2012 silam.

 

Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah membangun Tempat Pengelolaan Sampah berbasis reduce, reuse, recycle (TPS-3R). Tjok Agung waktu itu menyebut, pembangunan TPS-3R dilakukan bertahap melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Pejeng.

Baca Juga:  Bukan Pertama di Bali, Fenomena Serupa Juga Terjadi di RSUP Sanglah

 

Pertama, dana desa Tahun 2019 dengan jumlah Rp317.204.000. Kemudian dilanjutkan pada tahun 2020 dengan sejumlah pos. Yakni pembangunan fisik sebesar Rp94.970.000. Kemudian belanja mesin sebesar Rp123.000.000 dan biaya operasional penanganan sampah sebesar Rp279.000.000.

“Biaya memang cukup besar. Tetapi kami optimistis pembangunan nonfisik memberikan dampak positif jangka panjang,” ujar Tjok Agung kepada radarbali.id, usai saat peresmian TPS3R pada 6 Oktober 2020 lalu.

Kasus pengadaan Xpander secara berjamaah yang dilakukan 63 perbekel atas dasar surat Bupati Gianyar Made Mahayastra itu sendiri pernah diselidiki Polda Bali.

 

Tjok Agung juga sempat diperiksa polisi lantaran menjadi satu-satunya kades yang menolak menuruti perintah bupati dalam pengadaan Xpander. Namun, kasus itu dihentikan dengan alasan tidak cukup bukti adanya tindak pidana dugaan korupsi. Padahal, sempat menyeruak, ada dugaan kongkalikong bahkan gratifikasi agar para perbekel memborong mobil.

 

Terlepas dari kejadian tersebut, kini Tjok Agung memilih mengundurkan dari jabatannya sebagai perbekel. Padahal, masa jabatannya masih ada dua tahun lebih. Dia kembali menjadi perbekel untuk jabatan kedua pada 2018, dan mestinya selesai pada tahun 2024 mendatang.

Baca Juga:  Libur Panjang Nataru, Arus Lalu Lintas Masuk Bali Via Gilimanuk Padat

 

Tjok Agung memilih mengundurkan diri dari perbekel dengan alasan ingin fokus mengurus orang tuanya yang sudah sepuh.

 

Nggih (ya), karena (orang tua) sudah umur (sepuh). Saya juga ingin mengurus orang tua. Seharusnya lagi dua setengah tahun selesai (menjabat, red),” ujarnya singkat.

 

Dia juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menggantikan dirinya sebagai perbekel berikutnya.

 

“Kanggeang amunika (permaklumkan segitu, red), biar anak muda,” ujarnya.

 

Surat pengunduran diri Tjok Agung berkop Pemerintah Desa Pejeng Nomor 881/115/DP/XI/2021 tertanggal 18 November 2021. Perihal surat, permohonan pengunduran diri. 

 

Pada alinea pertama surat, tertulis “Saya Tjok Agung Kusuma Yuda, sebagai Perbekel Pejeng mengajukan permohonan pengunduran diri dari jabatan Perbekel Pejeng, dengan alasan saya tidak bisa lagi menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai Perbekel Pejeng karena saya harus fokus mengurus kedua orang kedua orang tua saya.” 


Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru